Tags

  1. Pembangunan Ekonomi

Ekonomi Pembangunan adalah salah salu cabang ilmu ekonomi yang mempelajari tentang pembangunan perekonomian masyarakat di negara berkembang atau Suatu cabang ilmu ekonomi yang menganalisis masalah-masalah yang dihadapi oleh negara-negara sedang berkembang dan mendapatkan cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah tersebut supaya negara-negara berkembang dapat membangun ekonominya dengan lebih cepat lagi.

Pembangunan ekonomi adalah proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk suatu masyarakat meningkatkan atau Kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengembangkan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya atau Suatu proses yang menyebabkan pendapatan perkapita penduduk meningkatkan dalam jangka panjang.
Meningkatnya pendapatan perkapita merupakan cerminan dari timbulnya perbaikan dalam kesejahteraan ekonomi masyarakat. Tujuan pembangunan ekonomi adalah menciptakan pertumbuhan GNP. Pertumbuhan GNP ditunjukkan dengan meningkatnya mutu pendidikan, menambahnya penghasilan pertanian, kurangnya angka kemiskinan, dan bertambahnya modal Negara.

Manfaat pembangunan ekonomi yaitu :

  1. Meningkatnya GNP
  2. Mengurangi pengangguran
  3. Meningkatkan kemakmuran
  4. Pengelolaan alam yang lebih baik
  5. Modal yang terkumpul

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pembangunan ekonomi yaitu :

  1. Ukuran suatu Negara (geografis, penduduk dan pendapatan)
  2. Sistem&struktur politik
  3. Latar belakang histories
  4. Hubungan internasional
  5. Bantuan modal internasional
  6. Pemerataan&pertumbuhan penduduk
  7. Pendidikan
  8. Teknologi

Ciri perencanaan pembangunan :

  1. Berisi upaya untuk mencapai perkembangan ekonomi
  2. Meningkatnya pendapatan perkapita
  3. Merubah struktur ekonomi
  4. Meningkatnya kesempatan kerja bagi masyarakat
  5. Pemerataan pembangunan

 

  1. Strategi Pembangunan Ekonomi

Strategi pembangunan ekonomi diberi batasan sebagai suatu tindakan pemilihan atas faktor – faktor (variabel) yang akan dijadikan faktor / variabel utama yang menjadi penentu jalannya proses pertumbuhan (Surono, 1993). Babarapa strategi pembangunan ekonomi yang dapat disampaikan adalah :

  1. Strategi Pertumbuhan

Di dalam pemikiran ini pertumbuhan ekonomi menjadi kriteria utama bagi pengukuran keberhasilan pembangunan. Selanjutnya dianggap bahwa dengan pertumbuhan ekonomi buah pembangunan akan dinikmati pula oleh si miskin melalui proses merambat ke bawah (trickle down effect) atau melalui tindakan koreksi pemerintah mendistribusikan hasil pembangunan. Bahkan tersirat pendapat bahwa ketimpangan atau ketidakmerataan adalah merupakan semacam prasyarat atau kondisi yang harus terjadi guna memungkinkan terciptanya pertumbuhan, yaitu melalui proses akumulasi modal oleh lapisan kaya. Strategi ini disebut strategi pertumbuhan.

Inti dari konsep strategi ini adalah :

Strategi pembangunan ekonomi suatu Negara akan terpusat pada upaya pembentukan modal, serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah, dan memusatkan, sehingga dapat menimbulkan sfek pertumbuhan ekonomi. Selanjutnya bahwa pertumbuhan ekonomi akan dinikmati oleh golongan lemah melalui proses merambat ke bawah (trickle-down-effect), pendistribusian kembali. Jika terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan, hal tersebut merupakan persyaratan terciptanya pertumbuhan ekonomi. Kritik paling keras dari strategi yang pertama ini adalah bahwa pada kenyataan yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin tajam.

  1. Strategi Pembangunan dengan Pemerataan

Keadaan sosial antara si kaya dan si miskin mendorong para ilmuwan untuk mencari alternatif. Alternatif baru yang muncul adalah strategi pembangunan pemerataan. Strategi ini dikemukakan oleh Ilma Aldeman dan Morris. Yang menonjol pada pertumbuhan pemerataan ini adalah ditekannya peningkatan pembangunan melalui teknik social engineering, seperti melalui penyusunan rencana induk, paket program terpadu. Dengan kata lain, pembangunan masih diselenggarakan atas dasar persepsi, instrumen yang ditentukan dari dan oleh mereka yang berada “diatas” (Ismid Hadad, 1980). Namun ternyata model pertumbuhan pemerataan ini juga belum mampu memecahkan masalah pokok yang dihadapi negara-negara sedang berkembang seperti pengangguran masal, kemiskinan struktural dan kepincangan sosial.

  1. Strategi Ketergantungan

Teori ketergantungan muncul dari pertemuan ahli-ahli ekonomi Amerika Latin pada tahun 1965 di Mexico City. Menjelaskan dasar-dasar kemiskinan yang diderita oleh negara-negara sedang berkembang, khususnya negara-negra Amerika Latin. Yang menarik dari teori ketergantungan adalah munculnya istilah dualisme utara-selatan, desa-kota, corepriphery yang pada dirinya mencerminkan adanya pemikiran pembangunan yang berwawasan ruang. Pada tahun 1965 muncul strategi pembangunan dengan nama strategi ketergantungan. Konsep ini timbul dikarenakan tidak sempurnanya strategi pertumbuhan dan strategi pembangunan dengan pemerataan.

Inti dari konsep strategi ketergantungan adalah :

Kemiskinan di negara–negara berkembang lebih disebabkan karena adanya ketergantungan negara tersebut dari pihak/negara lainnya. Oleh karena itu jika suatu negara ingin terbebas dari kemiskinan dan keterbelakangan ekonomi, negara tersebut harus mengarahkan upaya pembangunan ekonominya pada usaha melepaskan diri dari ketergantungandari pihak lain. Langkah yang dapat ditempuh diantaranya adalah meningkatkan produksi nasional yang disertai dengan peningkatan kemampuan dalam bidang produksi, lebih mencintai produk nasional. Teori ketergantungan ini kemudian dikritik oleh Kothari dengan mengatakan “. . . . .teori ketergantungan tersebut memang cukup relevan, namun sayangnya telah menjadi semacam dalih terhadap kenyataan dari kurangnya usaha untuk membangun masyarakat sendiri (selfdevelopment). Sebab selalu akan gampang sekali bagi kita untuk menumpahkan semua kesalahan pada pihak luar yang memeras, sementara pemerasan yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat kita sendiri dibiarkan saja . . . . . “ ( Kothari dalam Ismid Hadad, 1980 ).

  1. Strategi yang Berwawasan Ruang

Pada argumentasi Myrdall dan Hirschman terdapat dua istilah yaitu “back-wash effects” dan “spread effects” .

“Back-wash Effects” adalah kurang maju dan kurang mampunya daerah-daerah miskin untuk membangun dengan cepat disebutkan pula oleh terdapatnya beberapa keadaan yang disebut Myrdall.

“spread effects” (pengaruh menyebar), tetapi pada umumnya spread-effects yang terjadi adalh jauh lebiih lemah dari back-wash effectsnya sehingga secara keseluruhan pembangunan daerah yang lebih kaya akan memperlambat jalnnya pembangunan di daerah miskin.

Perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut adalah bahwa Myrdall tidak percaya bahwa keseimbangan daerah kaya dan miskin akan tercapai, sedangkan Hirschman percaya, sekalipun baru akan tercapai dalam jangka panjang.

  1. Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok

Sasaran strategi ini adalah menaggulangi kemiskinan secara masal. Strategi ini selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO) pada tahun 1975, dengan dikeluarkannya dokumen: Employment, Growth, and Basic Needs : A One World Problem.ILO dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak mungkin dapat dipengaruhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan yang bersumber pada pengangguran. Oleh karena itu sebaiknya usaha-usaha diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan pemenuhan kebutuhan pokok dan sejenisnya.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Strategi Pembangunan

Faktor-faktor yang mempengaruhi strategi pembangunan adalah berdasarkan tujuan yang hendak dicapai. Jika yang ingin dicapai adalah tingkat pertumbuhan yang tinggi, maka faktor yang mempengaruhi digunakannya strategi tersebut adalah tingkat pertumbuhan ekonomi yang rendah, akumulasi kapital yang rendah, tingkat pendapatan pada kapital yang rendah, serta masalah ekonomi yang berat ke sektor tradisional yang kurang berkembang.

Faktor yang mempengaruhi diberlakukannya strategi pembangunan yang berorientasi pada penghapusan kemiskinan pada dasarnya dilandasi oleh keinginan berdasarkan norma tertentu, bahwa kemiskinan harus secepat mungkin diatasi. Sementara itu, strategi-strategi pembangunan lain ternyata sangan sulit mempengaruhi/memberikan manfaat secara langsung kepada golongan miskin ini.

Strategi pembangunan, ternyata justru menimbulkan ketidakmerataan hasil pembangunan. Ketidakmerataan tersebut tidak hanya antar golongan masyarakat, tetapi juga antar daerah. Sehingga ada daerah maju dan daerah terbelakang. Ketidakmerataan antar daerah ini pada dasarnya disebabkan oleh kebijaksanaan penanaman modal yang cenderung hanya diarahkan ke lokasi tertentu. Biasanya, modal yang ditanamkan tersebut bersifat padat modal dan outputnya berorientasi ke pasar Internasionaldan abtar kelompok menengan ke atas di dalam negeri. Selain karena kebijaksanaan penanaman modal, kesulitan pangan antar daerah juga disababkan karena potensi daerah yang berbeda-beda.

Secara sederhana, pembangunan ekonomi dapat dipahami sebagai upaya melakukan perubahan yang lebih baik dari sebelumnya yang ditandai oleh membaiknya faktor-faktor produksi. Faktor-faktor produksi tersebut yaitu :

  1. kesempatan kerja
  2. investasi
  3. teknologi yang dipergunakan dalam proses produksi.

Lebih lanjut, wujud dari membaiknya ekonomi suatu wilayah diperlihatkan dengan membaiknya tingkat konsumsi masyarakat, investasi swasta, investasi publik, ekspor dan impor yang dihasilkan oleh suatu negara.

Secara mudah, perekonomian wilayah yang meningkat dapat diindikasikan dengan meningkatnya pergerakan barang dan masyarakat antar wilayah.  Dalam konteks tersebut, pembangunan ekonomi merupakan pembangunan yang a-spasial, yang berarti bahwa pembangunan ekonomi memandang wilayah nasional tersebut sebagai satu “entity”. Meningkatnya kinerja ekonomi nasional sering diterjemahkan dengan meningkatnya kinerja ekonomi seluruh wilayah/daerah. Hal ini memberikan pengertian yang “bias”, karena hanya beberapa wilayah/daerah yang dapat berkembang seperti nasional dan banyak daerah yang tidak dapat berlaku seperti wilayah nasional.

  1. Strategi Pembangungan Ekonomi di Indonesia

Strategi Pembangunan Ekonomi Indonesia yang Diarahkan pada Repelita

Sebelum orde baru strategi pembangunan di Indonesia secara teori telah diarahkan pada usaha pencapaian laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun pada kenyataannya nampak adanya kecendrungan lebih menitik beratkan pada tujuan-tujuan politik dan kurang memperhatikan pembangunan ekonomi.

Sedangkan pada awal orde baru, strategi pembangunan di Indonesia lebih diarahkan pada tindakan pembersihan dan perbaikan kondisi ekonomi yang mendasar, terutama usaha untuk menekan laju inflasi yang sangat tinggi (hyper inflasi).

Dari keterangan pemerintah yang ada, dapat sedikit disimpulkan bahwa strategi pembangunan di Indonesia tidak mengenal perbedaan strategi yang ekstrem. Sebagai contoh selain strategi pemerataan pembangunan, Indonesia tidak mengesampingkan strategi pertumbuhan dan strategi yang berwawasan ruang (terbukti dengan dibaginya wilayah Indonesia dengan berbagai wilayah pembangunan I, II, III dan seterusnya). Periode ini kemudian disusul dengan periode Repelita dan dalam setiap Repelita, khususnya sejak Repelita II, strategi pembangunan ekonomi yang diberlakukan di Indonesia adalah strategi yang mengacu pada pertumbuhan yang sekaligus berorientasi pada keadilan (pemerataan), menghapus kemiskinan, dan juga keadilan (pemerataan) antar daerah. Pembagian wilayah pembangunan ini tidak didasarkan pada pembagian secara adminstratif politis yang ada.

Strategi tersebut dipertegas dengan ditetapkannya sasaran atau titik berat setiap Repelita, yakni :

REPELITA I : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya

REPELITA II : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan industri yangmengolah bahan mentah menjadi bahan baku meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya\

REPELITA III : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya

REPELITA IV : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri ringan yang akan terus dikembangkan dalam Repelita-repelita selanjutnya meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.

  1. Perencanaan Pembangunan

Perencanaan pembangunan sendiri adalah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif, atau sebagai peran arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembangunan.Ciri perencanaan pembangunan :

  1. Berisi upaya untuk mencapai perkembangan ekonomi
  2. Meningkatnya pendapatan perkapita
  3. Merubah struktur ekonomi
  4. Meningkatnya kesempatan kerja bagi masyarakat
  5. Pemerataan pembangunan

 

  1. Manfaat Perencanaan Pembangunan

Dengan adanya perencanaan diharapkan terdapatnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan.

Dengan perencanaan maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan dilakukan mengenai potensi-potensi dan prospek-prospek perkembangan, tetapi juga mengenai hambatan-hambatan dan risiko-risiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan mengusahakan supaya ketidak pastian dapat dibatasi seminim mungkin.Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara yang terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik.

Dengan perencanaan dapat dilakukan penyusunan skala prioritas. Memilih urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun kegiatan usahanya.

Dengan adanya rencana maka akan ada suatu alat pengukur untuk mengadakan suatu pengawasan dan evaluasi.Penggunaan dan aloksi sumber-sumber pembangunan yang terbatas adanya secara lebih efisien dan efektif. Diusahakan dihindarinya keborosan-keborosan. Suatu usaha untuk mencapai output/hasil secara maksimal daripada sumber-sumber yang tersedia.

Dengan perencanaan, perkembangan ekonomi yang mantap atau pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus dapat ditingkatkan.Dengan perencanaan dapat dicapai stabilitas ekonomi, menghadapi siklis konjungtur.

Adapun rumusan tujuan kebijakan pembangunan dan target yang lebih spesifik untuk
tujuan pembangunan yaitu:

  1. Pembangunan sumber daya insani merupakan tujuan pertama kali dari kebijakan pembangunan
  2. Perluasan produksi yang bermanfaat
  3. Perbaikan kualitas hidup dengan memberikan prioritas pada 3 hal yakni terciptanya lapangan kerja, sistem keamanan yang luas dan pembagian kekayaan dan pendapatan yang merata.
  4. Pembanguana yang seimbang yakni harmonisasi antar daerah berbeda dalam satu Negara dan antar sektor ekonomi
  5. Teknologi baru yakni berkembangnya teknologi tepat guna yang sesuai kondisi dan aspirasi negara
  6. Berkurangnya ketergantungan pada dunia luar dan dengan semakin menyatunya kerjasama yang solid dalam Negara.

 

  1. Periode Perekonomian Pembangunan

Dalam sejarah perkembangannya, perencanaan pembangunan ekonomi di Indonesia dibagi dalam beberapa periode, yakni :

Periode sebelum Orde baru, dibagi dalam :

  1. Periode 1945 – 1950
  2. Periode 1951 – 1955
  3. Periode 1956 – 1960
  4. Periode 1961 – 1965

Sebelum Perang Dunia II para ilmuwan kurang memperhatikan pembangunan ekonomi, karena faktor-faktor sbb :

  1. Masih banyak negara sebagai negara jajahan
  2. Kurang adanya usaha dari tokoh masyarakat  untuk membahas pembangunan ekonomi.  Lebih mementingkan usaha untuk meraih  kemerdekaan dari penjajah.
  3. Para pakar ekonomi lebih banyak menganalisis  kegagalan ekonomi dan tingginya tingkat  pengangguran (depresi berat).

Pasca Perang Dunia II (Th. 1942), banyak negara memperoleh kemerdekaan (India, Pakistan, Phillipina, Korea & Indonesia), perhatian terhadap pembangunan ekonomi mulai berkembang disebabkan oleh :

  1. Negara jajahan yang memperoleh kemerdekaan
  2. Berkembangnya cita-cita negara yang baru merdeka untuk mengejar ketertinggalannya di bidang ekonomi.
  3. Adanya keinginan dari negara maju untuk  membantu negara berkembang dalam mempercepat

Periode setelah Orde baru, dibagi dalam :

  1. Periode 1966 s/d 1958, Periode Stabilisasi dan Rehabilitasi
  2. Periode Repelita I : 1969/70 – 1973/74
  3. Periode Repelita II : 1974/75 – 1978/79
  4. Periode Repelita III : 1979/80 – 1983/84
  5. Periode Repelita IV : 1984/85 – 1988/89
  6. Periode Repelita V : 1989/90 – 1993/94

PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI INDONESIA

STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI

KEBIJAKSANAANYANG MENDUKUNG DAN MENGHAMBAT TERCAPAINYA TUJUAN PEMBANGUNAN EKONOMI

  1. Periode 1945-1950

a) Perencanaan Hatta (1947)

b) Rencana Kasimo, Plan Produksi Tiga Tahun RI 1948-1950

c) Rencana Kesejahteraan Istimewa 1950-1951

Catatan:

–   Periode 1945-1950 ini pada dasarnya masih merupakan periode revousi, yaitu dalam situasi mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945

–   Periode 1945-1950, di Indonesia memberlakukan 2 UUD, yakni:

1. UUD 1945, yang berlaku dari Agustus 1945-Desember 1949

2. Konstitusi RIS, yang berlaku dari Desember 1949-Agustus 1950

Landasan:

–   Pasal 33 UUD ‘45

Strategi:

–   Meningkatkan kemakmuran rakyat dengan cara:

1. Memperbaharui tenaga produktif

2. Jalan industrilisasi dengan tetap mendasarkan diri sebagai negara agraris

Kebijaksanaan yang mendukung:

–   Kebutuhan negara lain akan produk Indonesia masih tinggi, khususnya barang-barang pertanian sebagai bahan baku industri

–   Barang sintetis belumlah dominan

–   Fluktuasi harga barang ekspor Indonesia sewaktu mengalami kenaikan

–   Pinjaman luar negeri, baik modal asing, merupakan pinjaman yang dianjurkan

Kebijaksanaan yang menghambat:

–   Perekonomian Indonesia belum stabil sebagai akibat masa peralihan dari perekonomian penjajahan (Belanda dan Jepang) ke perekonomian kemerdekaan

–   Inflasi yang diakibatkan oleh tindakan Belanda yang tetap menginginkan Indonesia sebagai negara jajahannya, serta defisit APBN

–   Sangat tergantung pada fluktuasi tingkat harga barang ekspor Indonesia di pasar Internasional

–   Kabinet yang silih berganti sebagai akibat situasi politik yang belum stabil (agresi Belanda tahun 1947 dan 1948) sehingga tidak ada kebijaksanaan ekonomi yang berkesinambungan

–   Terbatasnya dana saat itu

–   Rencana yang belum/ tidak dijabarkan dalam langkah-langkah yang konkret misalnya dalam bentuk alokasi dana

–   Perhatian pemerintahan masih ditekankan pada mempertahankan kemerdekaan dari serangan/ agresi dari luar

–   Rencana yang dibuat belum memiliki dasar politis

  1. Periode 1951-1955

Perencanaan urgensi perekonomian (1951) yang diusukan oleh Sumitro Djojohadikusumo

Catatan:

–  Periode 1951-1955 merupakan periode pemantapan kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia telah diakui secara Internasional tetapi Irian Barat masih belum diserahkan Belanda

–  Pada priode ini Indonesia memberlakukan UUDS dari 15 Agustus 1950-5 Juli 1959 yang pada dasarnya menggambarkan rapuhnya persatuan di antara bangsa Indonesia sendiri

–  Rencana pembangunan Ekonomi ini hanya mencakupi waktu 1951 dan 1952

– Dari tahun 1952-1955 tidak ada rencana pembangunan ekonomi yang disusun oleh pemerintah

Landasan:

–    Tidak dirumuskan secara eksplisit

Strategi:

–    Peningkatan nilai kemakmuran masyarakat dengan cara:

1. Mendorong berkembangnya industri-industri kecil

2. Meningkatkan kemajuan badan-badan koperasi dan memperkuat organisasi  organisasi dan perkumpulan-perkumpulan untuk usaha perniagaan kecil dan menengah

3. Mendorong berkembangnya industri berat yang akan menjadi unsur-unsur penyokong yang memudahkan dan memperkuat kemajuan perindustrian dalam negeri di daerah-daerah

4. Peranan pemerintah diharapkan dominan dalam pelaksanaan rencana ini

Yang mendukung:

–   Perang Korea pada tahun 1951 yang mengakibatkan penerimaan Indonesia meningkat sehingga relatif ada dana (dikenal dengan istilah Korea-Boom)

Yang menghambat:

–   Inflasi yang tidak dapat lagi dikendalikan sebagai akibat defisit anggaran yang semakin meningkat

–   Penggunaan surplus perdagangan yang tidak terarah

–   Kebijaksanaan keuangan yang tidak mendorong berkembangnya investasi

–   Kabinet masih silih berganti yang mengakibatkan tidak adanya rencana/ program yang berkesinambungan

–   Sifat rencana yang sangat pendek (hanya 2 tahun) dan tidak mempunyai dasar politis (tidak ada persetujuan DPR)

  1. Periode 1956-1960

Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama (RTLP) 1956-1960

Catatan:

–  Dalam periode ini kabinet masih silih berganti

– Sengketa Irian Barat yang semakin meningkat yang mengakibatkan dinasionalisasikan perusahaan-perusahaan Belanda

–  Perkembangan politik di negeri semakin panas yang mengakibatkan perekonomian Indonesia berkembang ke arah yang tidak menentu

Landasan:

–   Secara eksplisit tidak dirumuskan

Strategi:

–   Meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mengalokasikan dana tahunan sebagai berikut:

1. Untuk pertanian, peternakan, perikanan, dan kehutanan ….13%

2. Untuk pengairan dan proyek-proyek multipurpose …25%

3. Untuk alat-alat perhubungan …25%

4. Pertambangan an industri …25%

5. Untuk urusan sosial (pengajaran, kesehatan, peumahan, dsb.) …12%

Yang mendukung:

–   Secara politis RUU tentang RLTP ini telah disetujui oeh DPR

Yang menghambat:

–   Dalam pelaksanaan ternyata garis-garis besar rencana itu perlu diubah, baik dalam target maupun dalam pembiayaan

–   Rencana yang disusun tidak/ kurang memperhatikan potensi yang ada

–   Inflasi yang semakin tidak terkendali sebagai akibat defisit APBN yang semakin besar

–   Pendapatan pemerintah dari ekspor sangat menurun sebagai akibat dari resesi ekonomi yang dialami AS dan Eropa Barat selama akhir 1957 dan permulaan 1958

–   Terjadinya gangguan keamanan dalam negeri sebagai manifestasi ketengan antara pusat dan daerah, dengan perkataan lain stabilitas politik tidak ada

–   Kemampuan adaministratif untuk menjamin pelaksanaan rencana masih sangat rendah

  1. Periode 1961-1965

Perencanaan Pembangunan Nasioanl Semesta Berencana 1961-1965

Catatan:

–  Periode ini diwarnai oleh perkembangan politik yang semakin panas (pembebasan Irian Barat, anti Malaysia dan juga konflik antar partai politik)

–  Rencana ini terpaksa dihentikan di tengah jalan sebagai akibat adanya pemberontakan PKI tahun 1965 (Aksi G.30.S.PKI)

Landasan:

–   Manifesto politik No. 1/1960 dan Deklarasi Ekonomi 1963

Strategi:

–   Meningkatkan kemakmuran masyarakat dengan asas Ekonomi Terpimpin

Yang mendukung:

–   Ada niat untuk membangun dengan suatu rencana yang jelas yang juga diikuti dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu

Yang menghambat:

–   Rencana ini tidak mengikuti kaidah-kaidah ekonomi yang lazim dianut, yang antara lain tidak mempertimbangkan dana untuk membiayainya

–   Defisit anggaran yang semakin meningkat yang mengakibatkan hyper inflasi tahun 1965 (650% /tahun) telah merusak sendi-sendi perekonomian secara menyeluruh

–   Peraturan yang ada tidak dilaksanakan secara konsisten

–   Stabilitas politik tidak ada, bahkan terjadi pemberontakan PKI tahun 1965

–   Tenaga pendukung (administrasi) yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan rencana masih sangat lemah bahkan semakin diperlemah karena adanya inflasi yang tidak terkendali

–   Rencana ini pada dasarnya hanya untuk mendinginkan  situasi politik yang sedang panas

  1. Periode 1966-1969

Periode stabilitasi dan rehabilitasi ekonomi 1966-1969

Catatan:

–  Dengan pemberontakan PKI tahun 1965, Rencana Pembangunan Nasional Semesta Berencana praktis tidak berlaku lagi

–  Setelah pemberontakan PKI ditumpas, lahirlah masa Orde Baru

–  UU Perbankan tahun 1968 diberlakukan

–  Kebijaksanaan 3 Oktober 1966 yang mmengambil langkah-langkah di bidang keuangan negara, moneter dan perdagangan yang berkisar pada:

  1. Penertiban keuangan negara yang serba sulit pengaturan kembali urusan moneter dan dunia perbankan
  2. Memberikan kebebasan kepada dunia perdagangan yang terbelenggu oleh sistem jatah yang tidak wajar dan oleh peraturan berbelit-belit yang mematikan inisiatif rakyat/ masyarakat

–  Kebijaksanaan ini berintikan bertujuan membendung laju inflasi

Landasan:

–   TAP MPRS No. XXIII/MPRS/1966 yang juga merupakan GBHN yang pertama

Strategi:

–   Meningkatkan kemakmuran rakyat/ masyarakat (GNP) dengan memperbaharui k           kebijaksanaan dalam bidang ekonomi keuangan dan pembangunan dengan cara:

1. Penilaian kembali daripada semua landasan-landasan kebijaksanaan ekonomi, keuangan dan pembangunan agar diperoleh keseimbangan yang tepat antara upaya yang diusahakan dan tujuan yang hendak dicapai

2. Melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen

3. Stabilisasi dan rehabilitasi yang mencakup (jangka  pendek)

4. Pengendalian inflasi

5. Pencukupan kebutuhan pangan

6. Rehabilitasi prasarana ekonomi

7. Peningkatan kegiatan ekspor

8. Pencukupan kebutuhan sandang

–   Pembangunan yang terencana dan konsisten (jangka panjang) yang skala prioritasnya adalah:

Bidang pertanian

Bidang prasarana

Bidang industri

Yang mendukung:

–   Program ini dilandasi ketetapan MPRS sehingga mempunyai nilai politis

–   Dalam rencana ini dirumuskan secara tajam adanya skala prioritas nasional yakni bidang ekonomi

–   Skala prioritas dalam bidang ekonomi juga menegaskan adanya patokan utama yakni dilaksanakannya proyek-proyek yang menghasilkan barang dan jasa yang sangat diperlukan bagi keperluan rakyat banyak

–   Dalam operasionalnya, dibedakan dengan jelas antara program stabilisasi danrehabilitasi dengan program pembangunan

–   Dibedakannya antara pembangunan jangka pendek dan jangka panjang dalam pembangunan ekonomi

–   Diberlakukannya kebijaksanaan dalam bidang ekonomi yang konsisten disertai dengan penertiban keuangan pemerintah melalui kebijaksanaan APBN yang seimbang

–   Kebijaksanaan dalam bidang ekonomi tersebut adalah:

1. Peraturan-peraturan 3 Oktober 1966

2. Peraturan bulan Februari 1967

3. Peraturan 28 Juli 1967

–   Kehidupan politik yang relatif stabil

Yang menghambat:

–   Harga barang-barang ekspor Indonesia di pasaran Internasional menurun. Dan juga merosotnya hasil produksi barang-barang ekspor, menurunnya mutu kekurangan bahan-bahan baku/ penolong serta peralatannya, keadaan infrastruktur yang menghambat jalannya ekspor

–   Aspek administrasi yang belim menunjang

–   Mulai dikembangkannya secara relatif cepat barang-barang sintetis di negara maju sehingga mengurangi permintaan produk Indonesia

–   Peranan sektor pertanian yang masih tinggi

  1. Periode 1969/70-1973/74

Catatan:

–  Dalam Repelita I sasaran utama yang hendak dicapai adalah meningkatkan produksi nasional dengan tetap mempertahankan stabilisasi

–  Kebijaksanaan industri dilakukan sebagai industri pengganti barang-barang impor (yang perlu diproteksi) yang pada dasarnya merupakan benih ekonomi biaya tinggi

–  Untuk mengatasi kekurangan dana pemerintah memberlakukan kebijaksanaan pinjaman luar negeri dan mengundang modal asing

–  Kebijaksanaan ekonomi yang menonjol dalam Repelita I adalah:

–  Peraturan Pemerintah No. 16 tanggal 17 April 1970

–  Pada tanggal 23 AGUSTUS 1971 pemerintah mengubah kurs rupiah dari Rp 378,- menjadi Rp 415,- untuk US $ 1

–  Pertumbuhan ekonomi periode 1970 s/d 1975 adalah +/- 6,5%

Landasan:

–   TAP MPRS XXIII/MPRS/1966

Strategi:

–   Meningkatkan (GNP) dengan tetap menjaga stabilisasi ekonomi dan pada saat yang bersamaan meningkatkan investasi di sektor yang diprioritaskan (pertanian, prasarana, industri). Sasarannya adalah perombakan struktural perekonomian Indonesia

Yang mendukung:

–   Tingkat inflasi sudah dapat dikendalikan dan disiplin penggunaan keuangan pemerintah semakin mantap yang nampak dalam penyusunan dan pelaksanaan APBN. Dengan perkataan lain perekonomian nasional sudah semakin stabil

–   Pemberlakuan kebijaksanaan baru pemerintah di bidang perdagangan, ekspor-impor dan devisa yang dituangkan dalam PP R.I. No. 16 tahun 1970

–   Dialokasikannya dana dalam APBN untuk pembangunan pedesaan pada khususnya dan pembangunan daerah pada umumnya

–   APBN tetap dipertahankan seimbang

–   PMDN dan PMA yang semakin meningkat

–   Situasi politik yang semakin stabil

–   Repelita memiliki dasar politis yang kuat yaitu berpedoman pada TAP MPR

–   Segi administrasi dan kelembagaan yang mulai berkembang (berfungsi)

Yang menghambat:

–   Dalam perekonomian yang semakin terbuka, Indonesia semakin dipengaruhi oleh fluktuasi perekonomian Indonesia

–   Daya beli masyarakat Indonesia masih rendah, kurang mendukung berkembangnya industrilisasi, khususnya pengganti barang-barang impor

–   Semakin dirasakannya perbedaan/ kesenjangan pendapatan antar golongan dan juga antar daerah, karena investasi yang dilakukan ternyata padat modal dan terpusat di daerah-daerah tertentu (khususnya kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya dll)

–   Krisis moneter dunia

–   Pengawasan pembangunan yang masih lama

  1. Periode 1974/75-1978/79

Repelita II

Catatan:

–  Pada periode ini harga minyak bumi meningkat pesat sehingga meningkatkan dana pembangunan

–  Devaluasi Rupiah tanggal 15 Nopember 1978, dari Rp 415,-/US $ 1,- menjadi Rp 625,-/US $ 1,-

–  Target pertumbuhan yang hendak dicapai 7,5%

–  Mulai dikembangkan pembangunan yang berwawasan ruang dengan membentuk wilayah-wilayah pembangunan

–  Krisis pertamina, tidak mampunya Pertamina melunasi utang jangka pendeknya

–  Krisis beras akibat kemarau panjang

–  Mulai dikembangkan pembangunan yang berwawasan ruang dengan membentuk wilayah-wilayah pembangunan

–  Krisis pertamina, tidak mampunya Pertamina melunasi utang jangka pendeknya

–  Krisis beras akibat kemarau panjang

Landasan:

–   GBHN 1973

Strategi:

–   Meningkatkan (GNP) dengan sasaran:

–   Tersedianya pangan dan sandang yang serba cukup dengan mutu yang bertambah baik dan terbeli oleh masyarakat

–   Tersedianya bahan-bahan perumahan dan fasilitas lain yang diperlukan, terutama untuk rakyat banyak

–   Keadaan prasarana yang semakin meluas  dan sempurna

–   Kesejahteraan rakyat yang lebih baik dan lebih merata

–   Memperluas kesempatan kerja

Yang mendukung:

–   Stabilisasi ekonomi tetap dipertahankan yaitu dengan tetap mempertahankan APBN yang seimbang

–   Harga minyak bumi yang meningkat pesat

–   Situasi politik yang relatif stabil

Yang menghambat:

–   Peranan pemerintah yang semakin dominan, menghambat pasrtisipasi rakyat/ masyarakat

–   Perekonomian Internasional yang mulai dihinggapi krisis yang mengakibatkan menurunnya penerimaan ekspor di luar minyak. Di pihak lain kebutuhan devisa untuk impor meningkat

  1. Periode 1979/80-1983/84

Repelita III

Catatan:

–  Repelita III memberikan perhatian yang lebih mendalam pada peningkatan kessejahteraan dan perluasan kesempatan kerja, peningkatan laju pembangunan di daerah-daerah tertentu, peningkatan kemampuan yang lebih cepat dari golongan ekonomi lemah, pembinaan koperasi, peningkatan produksi pangan dan kebutuhan pokok lainnya, transmigrasi, perumahan, perluasan fasilitas pendidikan, perawatan kesehatan dan berbagai masalah sosial lainnya

–  Target pertumbuhan ekonomi yang akan dicapai 6,5%

–  Deregulasi perbankan 1 Juni 1983 mulai diberlakukan. Sementara itu masalah‘deregulasi’ dan ‘debirokratisasi’ muncul secara mencolok

–  Mulai 1 Januari 1984 diberlakukan UU Pajak yang baru

–  Indonesia mulai swasembada beras

–  Devaluasi Rupiah tanggal 31 Maret 1983 dari Rp 625,- menjadi Rp 970,- per US $ 1,-

–  Pemberlakuan Keputusan Presiden No. 10/1980 tentang sentralisasi pengadaan keperluan pemerintah

–  Inpres No. 51/1984

Landasan:

–   Pasal 4 ayat 1 UUD 1945

–   TAP MPR No. IV/MPR/1978 (GBHN)

–   TAP MPR No. VII/MPR/78

–   Keputusan Presiden T.I. No. 59/M tahun 1978

Strategi:

–   Meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5% dengan berlandaskan pada Trilogi Pembangunan yang meliputi:

–   Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat

–   Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi

–   Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. Asas pemerataan tampil sangat tajam dalam Repelita III yaitu dengan dituangkannya 8 jalur pemerataan

Yang mendukung:

–   Sasaran yang ingin dicapai diikuti oleh kebijaksanaan pada bidangnya yang konsisten

–   Tingkat inflasi dapat dikendalikan

–   Situasi ekonomi pada umumnya sudah lebih baik sehingga memungkinkan pertumbuhan, khususnya sektor informal

Yang menghambat:

–   Gejala ekonomi dunia yang belum juga mereda

–   Harga minyak bumi yang mulai mengendor sehingga sangat mengurangi penerimaan pemerintah

  1. Periode 1984/85-1988/89

Repelita IV

Catatan:

–  Sasaran pertunbuhan dalam Repelita IV adalah 5%

–  Dalam bidang politik diterimanya Pancasila sebagai satu-satunya asas bagi organisasi sosial politik serta organisasi kemasyarakatan lainnya demi kokohnya persatuan dan kesatuan bangsa

–  Deregulasi dan debirokratisasi merupakan kebijaksanaan yang menyolok dalam kurun waktu Repelita IV

–  Diumumkan devaluasi  pada tanggal 12 September 1986 yang diikuti dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan lainnya yang menunjang kebijaksanaan devaluasi

–  Pemberlakuan Inpres No. 4/1985 tangga 4 April 1985 mengenai penggunaan SGS sebagai upaya meniadakan ekonomi biaya tingkat tinggi

–  Pengaktifan kembali penggunaan instrumen moneter berupa fasilitas diskonto ulang, sertifikat BI, surat berharga pasar uang

–  APBN 1986/1987 volumenya secara absolut menurun dari APBN tahun sebelumnya

–  Rephasing investasi-investasi besar

–  Pemberlakuan Paket 6 Mei 1986 untuk meningkatkan daya kompetisi ekspor non-migas dan menarik penanaman modal

–  Pemberlakuan keputusan 25 Oktober 1986 dan 15 Januari 1987 yang pada dasarnya untuk sebagian meniadakan adanya importir tertunjuk

–  Pembayaran utang luar negeri melampaui DSR

–  Pemberlakuan kebijaksanaan 25 Oktoer 1986 dan 15 Januari 1987

–  Terjadi ‘mini krisis’ pada September 1984 dan pembelian cadangan devisa Desember 1986, terakhir ini diatasi dengan ‘gebrakan Sumarlin’

Landasan:

–   Pasal 4 ayat 1 UUD 1945

–   TAP MPR No. II/1983 tentang GBHN

–   TAP MPR No. /1983 mengenai pelimpahan tugas dan wewenang kepada Presiden/ Mandataris MPR dalam rangka pensuksesan dan pengamanan pembangunan nasional

–   Keputusan Presiden No. 7/1979 tentang Repelita III

–   Keputusan Presiden No. 45/M tahun 1983 tentang pembentukan kabinet pembangunan IV

Strategi:

–   Peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan sasaran diletakkan pada pembangunan di bidang ekonomi dengan titik berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha memantapkan swasembada pangan dan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri berat maupun maupun ringan yang akan terus dikembangkan dalam Repelita selanjutnya. Sejalan dengan itu pembangunan dalam bidang politik, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain-lain akan semakin ditingkatkan sepadan dan agar saling menunjang dengan kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh pembangunan di bidang ekonomi

Yang mendukung:

–   Ekspor barang non-migas dapat meningkat. Bahkan pada tahun terakhir Repelita IV telah dapat melampaui nilai ekspor minyak bumi

–   Penerimaan dalam negeri meningkat khususnya setelah diberlakukannya UU Perpajakan 1 Januari 1984

–   Dilanjutkan dan dikembangkannya pemberian kredit investasi kecil (KIK), kredit modal kerja permanen (KMKP), dan kredit candak kulak (KCK)

–   Tetap dipertahankan APBN yang seimbang, serta inflasi tetap dapat terkendali

–   Kegiatan investasi tetap berjalan

Yang menghambat:

–   Sumber penerimaan dari minyak bumi menurun sangat tajam

–   Proteksi yang diberlakukan oleh negara-negara maju, khususnya Amerika Serikat yang merupakan pasar barang ekspor Indonesia terbesar

–   Perekonomian Internasioanl yang masih belum menentu

–   Menurunnya nilai dolar tehadap mata uang asing lainnya sehingga melipatgandakan utang Indonesia

Sejak dimulainya masa Orde Baru sebenarnya perencanaan ekonomi Indonesia telah dijabarkan dalam beberapa fase perencanaan, yakni:

UUD 1945      Sebagai landasan

GBHN                        Sebagai rencana jangka panjang

REPELITA     Sebagai rencana jangka menengah

APBN             Sebagai rencana jangka pendek

Sedangkan sebagai lembaga perencana yang ada di Indonesia adalah:

  1. BAPPENAS, sebagai Badan Perencanaan Pembangunan di Indonesia, merupakan lembaga pemerintah non-dapartemen yang berkedudukan langsung di bawah dan bertanggungjawab pada Presiden. Badan ini memiliki fungsi membantu Presiden di dalam menetapkan kebijaksanaan di bidang perencanaan pembangunan nasional, serta menilai pelaksanaannya.
  2. BAPPEDA tingkat I untuk melaksanakan perencanaan daerah tingkat I (Provinsi), dan
  3. BAPPEDA tingkat II untuk melaksanakan perencanaan daerah tingkat II (Kabupaten dan Kotamadya).

 

  1. Kebijakan Pembangunan Indonesia
  1. Perekonomian Nasional Untuk Kesejahteraan Sosial

Perubahan ke empat UUD 1945 menyatakan bahwa pasal perekonomian dirumuskan dalam babtersendiri, yaitu pada bab XIV yang semula bab tersebut mempunyai judul “kesejahteraan sosial” kemudian diubah menjadi “perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial” (Asshiddiqie,2010 : 267). Pasal-pasal tersebutdapat dilihat dibawah ini :

BAB XIV PEREKONOMIAN NASIONAL DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Pasal 34

(1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. (3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

2.  Sistem Perekonomian

Kata”disusun” dalam pasal 33 ayat 1 UUD 1945menyatakan bahwa perekonomian itu merupakan suatu susunan kebijakan yang sistematis dan menyeluruh, mulai dari susunan yang bersifat nasional sampai pada susunan di daerah-daerah seluh indonesia. Sedangkan usaha bersama dalam pasal yang sama menyatakan usaha bersama seluruh rakyat indonesia dibidang perekonomian. Pengertian perekonomian disusun sebagai usaha bersama tiadak lain adalah menunjuk pada suatu sitem perekonomian nasional sebagai usaha bersama seluruh elemen rakyat indonesia. Pelaku ekonomi memiliki pengertian seluruh produsen, distributor, maupun konsumen baik perorangan, kelompok, organisasi ataupun badan hukum.

  1.    Kekayaan Sumberdaya Alam

Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 menyatakan “bumi dan air dan kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebasar-besar kemakmuran rakyat”. Dalam perumusan diatas yang disebutka hanya bumi dan air beserta segenap isinya, sedangkan wilayah udara tidak disebut. Padahal dijaman sekarang wilayah udara juga mengandung kekayaan yang bernilai ekonomis. Misalnya jaringan telekomunikaso, jalur transportasi dsb. Pasal ini haruslah dilihat sebagai suatu dokumen yang hidup dan kandungan maknanya terus tumbuh dan berkembang sehingga pengertian “bumi dan airdan kekayaan alam yang terkandung didalamnya” dapat dipahami dalam pengertian yang lebih luas. Mengenai pengertian ”dikuasai negara” dapat dianalogikan dengan pengertian dimiliki ( owend by, belong to ) atau secara tegas dikatakan milik negara ( state’s property ).

Penting untuk ditegaskan bahwa penguasaan oleh negara atas segenap sumbardaya yang terdapat didalam bumi, air, wilayah udara indonesia serta segala kekayaan yang terkandung didalamnya, haruslah dipergunakan hanya untuk sebesar-besar kemakmuran selluruh rakyat. Tujuan akhir dari kegiatan ekonomi yang paling pokok adalah terwujudnya ide masyarakat adil makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945.

  1. Peran Pemerintah dalam Pembangunan

Peranan pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan terutama di negara-negara berkembang atau dunia ketiga bekas jajahan harus benar-benar aktif dan positif. Karena pemerintah harus mempunyai sarana utama bagi rakyatnya terutama yang berkenaan dengan upaya meningkatkan tingkat taraf hidup atau tingkat kemakmuran rakyatnya.

Dalam zaman yang segalanya serba global, peranan pemerintah untuk melakukan pembangunan merupakan kunci menuju masyarakat yang lebih makmur. Pada awal pembangunan, investasi harus dilakukan dibidang-bidang yang dapat meningkatkan ekonomi eksternal yakni yang mengarah pada penciptaan overhead social dan ekonomi, seperti tenaga kerja, angkutan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Oleh karenanya, ruang lingkup tindakann pemerintah sangat luas dan menyeluruh. Menurut Arthur Lewis lingkup itu mencakup penyelenggaraan pelayanan umum, penentuan sikap, pembentukan lembaga-lembaga ekonomi, penentuan penggunaan sumber daya, penentuan distribusi pendapatan.

Untuk itu perlu adanya perubahan-perubahan dan tindakan-tindakan dalam hal: perubahan kerangka kelembagaan, perubahan organisasi, over head sosial ekonomi, pembangunan pertanian, pembangunan industri, dan peningkatan perdagangan luar negeri.

  1. Tantangan Pembangunan Indonesia

Tantangan pembangunan Indonesia ke depan yaitu :

1.otonomi daerah, berarti telah terjadi penguatan yangnyata dan legal terhadapkabupaten/kota dalam menetapkan arah dan targetpembangunannya sendiri.

2.pergeseran orientasi pembangunan sebagai negara maritim, wilayah kelautan dan pesisirbeserta sumberdaya alamnya memiliki makna strategis bagi pembangunan ekonomiIndonesia, karena dapat diandalkan sebagai salah satu pilar ekonomi nasional

3.ancaman dan sekaligus peluang globalisasi, hilangnya batas-batas negara dalam suatuproses ekonomi global. Proses ekonomi global cenderung melibatkan banyak negara sesuaidengan keunggulan kompetitifnya seperti sumberdaya manusia, sumberdayabuatan/infrastruktur, penguasaan teknologi, inovasi prosesproduksi dan produk, kebijakan pemerintah, keamanan, ketersediaan modal,jaringan bisnis global, kemampuan dalam pemasaran dan distribusi global.

4.kondisi objektif akibat krisis ekonomi. Jatuhnya kinerja makroekonomi menjadi –13% dan kurs rupiah yang terkontraksi sebesar 5-6 kali lipatdan multi dimensi yang dialami Indonesia telah menyebabkan tingginya angkapenduduk miskin.