Tags

PEMBENTUKAN KARAKTERISTIK INDIVIDU

  1. PENGERTIAN

 

  1. Pengertian Karakteristik

Karakter moral atau karakter adalah evaluasi kualitas tahan lama individu tertentu moral. Konsep karakter dapat menyiratkan berbagai atribut termasuk keberadaan atau kurangnya kebajikan seperti perilaku integritas, keberanian, ketabahan, kejujuran, dan kesetiaan, atau baik atau kebiasaan. Karakter moral terutama mengacu pada kumpulan kualitas yang membedakan satu orang dari yang lain – meskipun pada tingkat budaya, serta perilaku moral untuk mana melekat kelompok sosial dapat dikatakan bersatu dan mendefinisikan budaya yang berbeda dari orang lain. Psikolog Lawrence Pervin mendefinisikan karakter moral sebagai “disposisi untuk mengekspresikan perilaku dalam pola yang konsisten fungsi di berbagai situasi.”

Kata “karakter” berasal dari kata Yunani charaktêr, yang semula digunakan tanda terkesan atas koin. Kemudian dan lebih umum, itu datang berarti sebuah titik dimana satu hal diberitahu terpisah dari orang lain. Ada dua pendekatan ketika berhadapan dengan karakter moral: Etika normatif melibatkan standar moral yang menunjukkan perilaku benar dan salah. Ini adalah tes perilaku yang tepat dan menentukan apa yang benar dan salah. Etika terapan melibatkan isu-isu spesifik dan kontroversial bersama dengan pilihan moral, dan cenderung melibatkan situasi di mana orang-orang baik untuk atau melawan masalah ini

Pada tahun 1982, V. Campbell dan R. Obligasi diusulkan berikut sebagai faktor utama dalam mempengaruhi karakter dan perkembangan moral: faktor keturunan, pengalaman masa kanak-kanak, pemodelan oleh orang dewasa yang lebih tua penting dan remaja, pengaruh teman sebaya, lingkungan fisik dan sosial secara umum, media komunikasi, apa yang diajarkan di sekolah-sekolah dan lembaga lain, dan situasi spesifik dan peran yang menimbulkan perilaku yang sesuai.

Bidang etika bisnis meneliti kontroversi moral yang berkaitan dengan tanggung jawab sosial dari praktek bisnis kapitalis, status moral entitas perusahaan, iklan menipu, insider trading, hak-hak pekerja, diskriminasi pekerjaan, affirmative action dan pengujian obat. Karakter. Apa itu karakter? Sebuah kamus menggambarkan karakter sebagai kompleks sifat mental dan etika menandai seseorang. Tapi sebenarnya karakter adalah siapa kita sebenarnya. Itu apa yang kita lakukan. Ini akumulasi pikiran, nilai-nilai, kata-kata dan tindakan. Ini menjadi kebiasaan yang menentukan takdir kita. Sebuah takdir orang dapat disimpulkan ke jalan sukses atau jalan kegagalan. Orang bilang Anda dapat mencapai sukses dengan memiliki karakter yang baik. Tapi apa benar-benar karakter yang baik? Seseorang berkelakuan baik berpikir benar dan tidak tepat sesuai dengan nilai-nilai universal inti yang menentukan kualitas dari orang yang baik: kepercayaan, hormat, tanggung jawab, keadilan, kepedulian, dan kewarganegaraan. Yah apa pun yang kita sebut karakter, meskipun peran kami sebagai pengembang karakter untuk membimbing pikiran orang, kata-kata, tindakan, dan kebiasaan terhadap nilai-nilai, dimana semua orang berbagi, tanpa memandang perbedaan

  1. Pengertian Individu

Individu merupakan unit terkecil dalam pembentukan masyarakat. Individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagianyang lebih kecil.Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda. Individu yang saling bergabung akan membentuk kelompok atau masyarakat.Individu tersebut akan memiliki karakteristik yang sama dengan kelompok dimana dirinya bergabung.

 

  1. MEKANISME PEMBENTUKAN KARAKTERISTIK
  2. Unsur dalam Pembentukan Karakter

Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran karena pikiran, yang didalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya, merupakan pelopor segalanya. Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.

Tentang pikiran, Joseph Murphy mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat satu pikiran yang memiliki ciri yang berbeda. Untuk membedakan ciri tersebut, maka istilahnya dinamakan dengan pikiran sadar (conscious mind) atau pikiran objektif dan pikiran bawah sadar (subconscious mind) atau pikiran subjektif. Penjelasan Adi W. Gunawan mengenai fungsi dari pikiran sadar dan bawah sadar menarik untuk dikutip.

Pikiran sadar yang secara fisik terletak dibagian korteks otak bersifat logis dan analisis dengan memiliki pengaruh sebesar 12 % dari kemampuan otak. Sedangkan pikiran bawah sadar secara fisik terletak di medulla oblongata yang sudah terbentuk ketika masih di dalam kandungan. Karena itu, ketika bayi yang dilahirkan menangis, bayi tersebut akan tenang di dekapan ibunya karena dia sudah merasa tidak asing lagi dengan detak jantung ibunya. Pikiran bawah sadar bersifat netral dan sugestif.

Untuk memahami cara kerja pikiran, kita perlu tahu bahwa pikiran sadar (conscious) adalah pikiran objektif yang berhubungan dengan objek luar dengan menggunakan panca indra sebagai media dan sifat pikiran sadar ini adalah menalar. Sedangkan pikiran bawah sadar (subsconscious) adalah pikiran subjektif yang berisi emosi serta memori, bersifat irasional, tidak menalar, dan tidak dapat membantah. Kerja pikiran bawah sadar menjadi sangat optimal ketika kerja pikiran sadar semakin minimal.

Pikiran sadar dan bawah sadar terus berinteraksi. Pikiran bawah sadar akan menjalankan apa yang telah dikesankan kepadanya melalui sistem kepercayaan yang lahir dari hasil kesimpulan nalar dari pikiran sadar terhadap objek luar yang diamatinya. Karena, pikiran bawah sadar akan terus mengikuti kesan dari pikiran sadar, maka pikiran sadar diibaratkan seperti nahkoda sedangkan pikiran bawah sadar diibaratkan seperti awak kapal yang siap menjalankan perintah, terlepas perintah itu benar atau salah. Di sini, pikiran sadar bisa berperan sebagai penjaga untuk melindungi pikiran bawah sadar dari pengaruh objek luar.

Kita ambil sebuah contoh. Jika media masa memberitakan bahwa Indonesia semakin terpuruk, maka berita ini dapat membuat seseorang merasa depresi karena setelah mendengar dan melihat berita tersebut, dia menalar berdasarkan kepercayaan yang dipegang seperti berikut ini, “Kalau Indonesia terpuruk, rakyat jadi terpuruk. Saya adalah rakyat Indonesia, jadi ketika Indonesia terpuruk, maka saya juga terpuruk.” Dari sini, kesan yang diperoleh dari hasil penalaran di pikiran sadar adalah kesan ketidakberdayaan yang berakibat kepada rasa putus asa. Akhirnya rasa ketidakberdayaan tersebut akan memunculkan perilaku destruktif, bahkan bisa mendorong kepada tindak kejahatan seperti pencurian dengan beralasan untuk bisa bertahan hidup. Namun, melalui pikiran sadar pula, kepercayaan tersebut dapat dirubah untuk memberikan kesan berbeda dengan menambahkan contoh kalimat berikut ini, “…tapi aku punya banyak relasi orang-orang kaya yang siap membantuku.” Nah, cara berpikir semacam ini akan memberikan kesan keberdayaan sehingga kesan ini dapat memberikan harapan dan mampu meningkatkan rasa percaya diri.

Dengan memahami cara kerja pikiran tersebut, kita memahami bahwa pengendalian pikiran menjadi sangat penting. Dengan kemampuan kita dalam mengendalikan pikiran ke arah kebaikan, kita akan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan, yaitu kebahagiaan. Sebaliknya, jika pikiran kita lepas kendali sehingga terfokus kepada keburukan dan kejahatan, maka kita akan terus mendapatkan penderitaan-penderitaan, disadari maupun tidak.

  1. Proses Pembentukan Karakter

Sebelum penulis melanjutkan pembahasan, mari kita kaji ilustrasi berikut ini. Didalam sebuah ruangan, terdapat seorang bayi, dan dua orang dewasa. Mereka duduk dalam posisi melingkar. Kemudian masuk satu orang lain yang membawa kotak besar berwarna putih ke arah mereka. Setelah meletakkan kotak tersebut di tengah-tengah mereka, orang tersebut langsung membuka tutupnya agar keluar isinya. Apa yang terjadi…? ternyata setelah dibuka, terlihat ada tiga ular kobra berwarna hitam dan besar yang keluar dari kotak tersebut. Langsung saja, salah seorang dari mereka lari ketakutan, sedangkan yang lainnya justru berani mendekat untuk memegang ular agar tidak membahayakan, dan, tentu saja, si bayi yang ada di dekatnya tetap tidak memperlihatkan respon apa-apa terhadap ular.

Nah, begitu juga dengan kehidupan manusia di dunia ini. Kita semua dihadapkan dengan permasalahan yang sama, yaitu kehidupan duniawi. Akan tetapi respon yang kita berikan terhadap permasalahan tersebut berbeda-beda. Di antara kita, ada yang hidup penuh semangat, sedangkan yang lainnya hidup penuh malas dan putus asa. Di antara kita juga ada yang hidup dengan keluarga yang damai dan tenang, sedangkan di antara kita juga ada yang hidup dengan kondisi keluarga yang berantakan. Di antara kita juga ada yang hidup dengan perasaan bahagia dan ceria, sedangkan yang lain hidup dengan penuh penderitaan dan keluhan. Padahal kita semua berangkat dari kondisi yang sama, yaitu kondisi ketika masih kecil yang penuh semangat, ceria, bahagia, dan tidak ada rasa takut atau pun rasa sedih.

Pertanyaannya yang ingin diajukan di sini adalah “Mengapa untuk permasalahan yang sama, yaitu kehidupan duniawi, kita mengambil respon yang berbeda-beda?” jawabannya dikarenakan oleh kesan yang berbeda dan kesan tersebut dihasilkan dari pola pikir dan kepercayaan yang berbeda mengenai objek tersebut. Untuk lebih jelas, berikut penjelasannya.

Secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar lima tahun, kemampuan menalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar (subconscious mind) masih terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukkan ke dalamnya tanpa ada penyeleksian, mulai dari orang tua dan lingkungan keluarga. Dari mereka itulah, pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun. Pondasi tersebut adalah kepercayaan tertentu dan konsep diri. Jika sejak kecil kedua orang tua selalu bertengkar lalu bercerai, maka seorang anak bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa perkawinan itu penderitaan. Tetapi, jika kedua orang tua selalu menunjukkan rasa saling menghormati dengan bentuk komunikasi yang akrab maka anak akan menyimpulkan ternyata pernikahan itu indah. Semua ini akan berdampak ketika sudah tumbuh dewasa.

Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah, dan berbagai sumber lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar. Mulai dari sinilah, peran pikiran sadar (conscious)menjadi semakin dominan. Seiring perjalanan waktu, maka penyaringan terhadap informasi yang masuk melalui pikiran sadar menjadi lebih ketat sehingga tidak sembarang informasi yang masuk melalui panca indera dapat mudah dan langsung diterima oleh pikiran bawah sadar.

Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasan, dan karakter unik dari masing-masing individu. Dengan kata lain, setiap individu akhirnya memiliki sistem kepercayaan (belief system), citra diri (self-image), dan kebiasaan (habit) yang unik. Jika sistem kepercayaannya benar dan selaras, karakternya baik, dan konsep dirinya bagus, maka kehidupannya akan terus baik dan semakin membahagiakan. Sebaliknya, jika sistem kepercayaannya tidak selaras, karakternya tidak baik, dan konsep dirinya buruk, maka kehidupannya akan dipenuhi banyak permasalahan dan penderitaan.

Kita ambil sebuah contoh. Ketika masih kecil, kebanyakan dari anak-anak memiliki konsep diri yang bagus. Mereka ceria, semangat, dan berani. Tidak ada rasa takut dan tidak ada rasa sedih. Mereka selalu merasa bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal. Karena itu, mereka mendapatkan banyak hal. Kita bisa melihat saat mereka belajar berjalan dan jatuh, mereka akan bangkit lagi, jatuh lagi, bangkit lagi, sampai akhirnya mereka bisa berjalan seperti kita.

Akan tetapi, ketika mereka telah memasuki sekolah, mereka mengalami banyak perubahan mengenai konsep diri mereka. Di antara mereka mungkin merasa bahwa dirinya bodoh. Akhirnya mereka putus asa. Kepercayaan ini semakin diperkuat lagi setelah mengetahui bahwa nilai yang didapatkannya berada di bawah rata-rata dan orang tua mereka juga mengatakan bahwa mereka memang adalah anak-anak yang bodoh. Tentu saja, dampak negatif dari konsep diri yang buruk ini bisa membuat mereka merasa kurang percaya diri dan sulit untuk berkembang di kelak kemudian hari.

Padahal, jika dikaji lebih lanjut, kita dapat menemukan banyak penjelasan mengapa mereka mendapatkan nilai di bawah rata-rata. Mungkin, proses pembelajaran tidak sesuai dengan tipe anak, atau pengajar yang kurang menarik, atau mungkin kondisi belajar yang kurang mendukung. Dengan kata lain, pada hakikatnya, anak-anak itu pintar tetapi karena kondisi yang memberikan kesan mereka bodoh, maka mereka meyakini dirinya bodoh. Inilah konsep diri yang buruk.

Contoh yang lainnya, mayoritas ketika masih kanak-kanak, mereka tetap ceria walau kondisi ekonomi keluarganya rendah. Namun seiring perjalanan waktu, anak tersebut mungkin sering menonton sinetron yang menayangkan bahwa kondisi orang miskin selalu lemah dan mengalami banyak penderitaan dari orang kaya. Akhirnya, anak ini memegang kepercayaan bahwa orang miskin itu menderita dan tidak berdaya dan orang kaya itu jahat. Selama kepercayaan ini dipegang, maka ketika dewasa, anak ini akan sulit menjadi orang yang kuat secara ekonomi, sebab keinginan untuk menjadi kaya bertentangan dengan keyakinannya yang menyatakan bahwa orang kaya itu jahat. Kepercayaan ini hanya akan melahirkan perilaku yang mudah berkeluh kesah dan menutup diri untuk bekerjasama dengan mereka yang dirasa lebih kaya.

  1. Kelurga faktor penting pembentukan karakter anak

Lingkungan sosial yang pertama yang dikenal individu sejak lahir adalah keluarga. Ibu, ayah dan anggota keluarga lainnya merupakan lingkungan social yang secara langsung berhubungan dengan individu. Sosialisasi yang dialami individu secara intensif berlangsung dalan keluarga. Pengenalan nilai, norma dan kebisaan untuk pertama kali diterima dari keluarga. Pengaruh sosialisasi dan enkulturasi yang berasal dari keluarga sangat besar bagi pembentukan dan perkembangan individu. Kebiasaan-kebiasaan baik yang positif maupun yang berlangsung lama danterbuka dalam lingkungan keluarga dapat tertanam secara kuatpada kepribadian seseorang. Kebiasaan tidur dan bangun cepat atau terlambat, kebiasaan menggosok gigi, kebiasaan menyisir rambut dan berpakaian rapi atau tidak, yang terbawa dalam kepribadian seseorang, berlangsung dalam keluarga. Pada masa lampau pelajaran agama-pun dilakukan dalam lingkuangan ini. Selanjutnya keadaan keluarga sebagai suatu bentuk lingkungan sosial termasuk besar kecilnya keluarga, keharmonisan keluarga, perlakuan ayah ibu terhadap seorang anak, sangat mempengaruhi pembentukan dan perkembangan kepribadian seorang anak. Dalam menanamkan disiplin, nilai, norma, kebiasaan dasar, keluarga sangat besar perannya.Fungsi keluarga sebagai sarana pewarisan budaya dapat berkurang apabila hubungan orangtua dengan anak tidak lagi mendalam karena berbagai tuntunan dan kebutuhan hidup. Peranan keluarga dalam pembinaan kepribadian anak menjadi sangat mundur. Tugas keluarga memberikan dasar pendidikan dan kebiasaan menjadi sangat dangkal. Akibatnya perkembangan kepribadiaan anak menjadi lebih terpengaruh oleh hal-hal yang negative. Dewasa ini penanaman kebiasaan yang baik, penanaman nilaidan norma, penanaman disiplin dan lainnya melalui orang tua menjadi sangat lemah. Bahkan pada beberapa keluarga terdapat kecenderungan merosotnya wibawa orangtua terhadap anak-anaknya. Dengan sendirinya peranan orangtua sebagai sarana pewarisan budaya akan menurun. Hal itu antara lain juga disebabkan anatara lain oleh kesibukan orangtua di luar rumah sehingga hubungan dengan anak menjadi kurang mendalam. Selain itu motivasi juga bisa diberikan dari orangtua kepada kepada anak-anak mereka. Motivasi merupakan dorongan, rangsangan, pengaruh atau stimulus yang di berikan seorang individu kepada individu lainnya sedemikan rupa, sehingga orang yang diberi motivasi tersebut menuruti atau melaksanakan apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional, dan penuh rasa tanggung jawab.

  1. Tahap-tahap Perkembangan Karakter atau Kepribadian

Pada masa bayi, tahap pertama, anak-anak belajar rasa percaya atau tidak percaya kepada orang lain. Jika ibunya (atau pengasuh penggantinya ) secara konsisten memberi cinta dan kasuh sayang, serta memperhatikan kebutuhan fisik bayi, maka bayi itu akan membangun perasaan aman dan percaya pada orang lain.

Tahap kedua, anak usia 2-3 tahun belum begitu tertarik pada nilai-nilai. Anak lahir memiliki dorongan-dorongan naluri dan reflek-reflek dan belum punya kepribadian.

Tahap ketiga, anak usia 4-5 tahun keatas mulai mempunyai kualitas kepribadian. Anak mengenal nilai, berdasarkan faktor pertambahannya usia berarti bertambah pula kematangan, otomatis kepribadian semakin berkembang.

Tahap keempat, dunia anak semakin luas, banyak keterampilan teknis yang ia pelajari dan perasaan bahwa dirinya kompeten atau mampu melakukan sesuatu diperbesar.

Tahap kelima, remaja mulai mengembangkan kesadaran akan identitas pribadinya melalui interaksinya dengan orang lain.

Tahap keenam, seseorang mulai menembangkan hubungan cinta yang abadi dengan lawan jenisnya.

Tahap usia dewasa menengah, seseorang berkarya untuk keluarga dan masyarakat, memberikan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi keluarga maupun masyarakatnya.

Tahap akhir hidupnya, seseorang akan menemukan akhir hidupnya dengan penuh harga diri atau kebanggaan atau penuh penyesalan diri.

Usia Krisis identitas yang harus dilampaui Nilai keutamaan dasar yang dikembangkan
Bayi Percaya vs tidak percaya Harapan
Awal kanak-kanak (2-3 tahun) Kemandirian vs pemalu dan peragu Kehendak/kemauan
Tahap bermain (4-5 tahun) Inisiatif vs rasa bersalah Tujuan/cita-cita
Tahap sekolah (6-10 tahun ) Pekerja keras vs rendah diri Kompetensi
Remaja

(12-18 tahun)

Identitas vs kebingungan peran Loyalitas / kesetiaan
Dewasa awal

(19-35 tahun)

Keakraban vs keteransingan Cinta
Dewasa menengah

( 36-50 tahun )

Produktivitas vs kemandegan Kepedulian
Tua

(51 tahun keatas )

Intregitas vs tak berpengharapan Kebijaksanaan

 


 

 

  1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter atauKepribadian

Adanya perbedaan kepribadian setiap individu sangatlah bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut.

a. Faktor Biologis

Faktor biologis yang paling berpengaruh dalam pembentukan kepribadian adalah jika terdapat karakteristik fisik unik yang dimiliki oleh seseorang. Contohnya, kalau orang bertubuh tegap diharapkan untuk selalu memimpin dan dibenarkan kalau bersikap seperti pemimpin, tidak aneh jika orang tersebut akan selalu bertindak seperti pemimpin. Jadi, orang menanggapi harapan perilaku dari orang lain dan cenderung menjadi berperilaku seperti yang diharapkan oleh orang lain itu. Ini berarti tidak semua faktor karakteristik fisik menggambarkan kepribadian seseorang.Sama halnya dengan anggapan orang gemuk adalah periang.

Perlu dipahami bahwa faktor biologis yang dimaksudkan dapat membentuk kepribadian seseorang adalah faktor fisiknya dan bukan warisan genetik.Kepribadian seorang anak bisa saja berbeda dengan orangtua kandungnya bergantung pada pengalaman sosialisasinya. Contohnya, seorang bapak yang dihormati dimasyarakat karena kebaikannya, sebaliknya bisa saja mempunyai anak yang justru meresahkan masyarakat akibat salah pergaulan.Akantetapi, seorang yang cacat tubuh banyak yang berhasil dalam hidupnya dibandingkan orang normal karena memiliki semangat dan kemauan yang keras. Dari contoh tersebut dapat berarti bahwa kepribadian tidak diturunkan secara genetik, tetapi melalui proses sosialisasi yang panjang. Salah apabila banyak pendapat yang mengatakan bahwa faktor genetik sangat menentukan pembentukan kepribadian.

b. Faktor Geografis

Faktor lingkungan menjadi sangat dominan dalam mempengaruhi kepribadian seseorang.Faktor geografis yang dimaksud adalah keadaan lingkungan fisik (iklim, topografi, sumberdaya alam) dan lingkungan sosialnya.Keadaan lingkungan fisik atau lingkungan sosial tertentu memengaruhi kepribadian individu atau kelompok karena manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Contohnya, orang-orang Aborigin harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup karena kondisi alamnya yang kering dan tandus, sementara, bangsa Indonesia hanya memerlukan sedikit waktunya untuk mendapatkan makanan yang akan mereka makan sehari-hari karena tanahnya yang subur. Contoh lain, orang-orang yang tinggal di daerah pantai memiliki ke pribadian yang lebih keras dan kuat jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pegunungan. Masyarakat di pedesaan penuh dengan kesederhanaan dibandingkan masyarakat kota.

Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor geografis sangat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, tetapi banyak pula ahli yang tidak menganggap hal ini sebagai faktor yang cukup penting dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya.

c. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku dan kepribadian seseorang, terutama unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung memengaruhi individu.Kebudayaan dapat menjadi pedoman hidup manusia dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu, unsur-unsur kebudayaan yang berkembang di masyarakat dipelajari oleh individu agar menjadi bagian dari dirinya dan ia dapat bertahan hidup. Proses mempelajari unsur-unsur kebudayaan sudah dimulai sejak kecil sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian yang berbeda antarindividu ataupun antarkelompok kebudayaan satu dengan lainnya. Contohnya, orang Bugis memiliki budaya merantau dan mengarungi lautan.Budaya ini telah membuat orang-orang Bugis menjadi keras dan pemberani.

d. Faktor Pengalaman Kelompok

Pengalaman kelompok yang dilalui seseorang dalam sosialisasi cukup penting perannya dalam mengembangkan kepribadian. Kelompok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

  1. Kelompok Acuan (Kelompok Referensi). Sepanjang hidup seseorang, kelompok-kelompok tertentu dijadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku. Dalam hal ini, pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan kelompok referensinya. Pada mulanya, keluarga adalah kelompok yang dijadikan acuan seorang bayi selama masa-masa yang paling peka. Setelah keluarga, kelompok referensi lainnya adalahteman-teman sebaya. Peran kelompok sepermainan ini dalam perkembangan kepribadian seorang anak akan semakin berkurang dengan semakin terpencar nya mereka setelah menamatkan sekolah dan memasuki kelompok lain yang lebih majemuk (kompleks).
  2. Kelompok Majemuk. Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Dengan kata lain, masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok dengan budaya dan ukuran moral yang berbeda-beda. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya seseorang berusaha dengan keras mempertahankan haknya untuk menentukan sendiri hal yang dianggapnya baik dan bermanfaat bagi diri dan kepribadiannya sehingga tidak hanyut dalam arus perbedaan dalam kelompok majemuk tempatnya berada. Artinya, dari pengalaman ini seseorang harus mau dan mampu untuk memilah-milahkannya.

e. Faktor Pengalaman Unik

Pengalaman unik akan memengaruhi kepribadian seseorang. Kepribadian itu berbeda-beda antara satu dan lainnya karena pengalaman yang dialami seseorang itu unik dan tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama. Sekalipun dalam lingkungan keluarga yang sama, tetapi tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama, karena meskipun berada dalam satu, setiap individu keluarga tidak mendapatkan pengalaman yang sama. Begitu juga dengan pengalaman yang dialami oleh orang yang lahir kembar, tidak akan sama. Sebagai mana menurut Paul B. Horton, kepribadian tidak dibangun dengan menyusun peristiwa diatas peristiwa lainnya.Arti dan pengaruh suatu pengalaman bergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya.

  1. Peran Nilai-nilai dalam Pembentukan Karakter atauKepribadian

 

  1. Nilai Etik atau Moral

Mungkin tidak semua dari kita sadar bahwa lingkungan kita semakin tidak nyaman, baik secara lahiriyah apalagi secara batiniyah karena berbagai kerusakan muncul dan terus bertambah seiring dengan perjalanan waktu kerusakan moral missal.Kita akrab dengan berita kekerasan di berbagai institusi mulai dari institusi non-formal seperti keluarga sampai pada institusi formal seperti institusi pendidikan.Korupsi dan tindakan koruptif juga mengatakan dan mendarah daging baik di institusi pemerintah maupun swasta.Pergaulan bebas menjadi kebanggan, seks menjadi kebiasaan, aborsi menjadi hal yang normal, tindakan asusila menjadi susila dan perisakan lingkungan menjadi lumrah.

Pendidikan itu memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan hidup sosial masyarakat. Tujuan pertama-tama pendidikan adalah memperkuat pikiran dan memperkembang kebajikan-kebajikan utama, yakni kebajikan, kebenaran, penghormatan terhadap ritus dan kebijaksanaan. Seperti dikatakan bahwa manusia pada dasarnya baik, namun kebaikan itu perlu diolah agar menjadi orang baik, bisa menjadi guru dan suci. Sebaliknya, orang yang tidak mengolahnya akan tidak lain seperti seekor binatang. Pengolahan kebajikan asli itu dapat diperkuat dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan. Dengan kata lain, belajar merupakan usaha untuk mengembalikan kebajikan manusia yang telah hilang.

Pendidikan juga dapat melestarikan dan mengembangkan serta mengembalikan kecenderungan kodrat dasariah manusia. Untuk itu dia menawarkan usaha perbaikan diri yang dilakukan ‘ke dalam diri sendiri’ sebagai bentuk pengujian diri dari kecenderungan yang terpengaruh oleh hal-hal eksternal. Maka pengaruh lingkungan tempat kita berada sangat mempengaruhi kita dalam belajar membentuk karakter moral kita.

  1. Nilai Estetik

Pendidikan seni sebagai induk dari kemampuan estetika memiliki peran yangberagam dalam pembentukan kepribadian.Peran pendidikan seni bersifatmultidimensional, multilingual, dan multikultural.Dalam menghadapi perkembangan ilmupengetahuan, teknologi dan informasi diperlukan pengembangan kemampuan dalamberbahasa visual, rupa, bunyi dan gerak.Berbagai kemampuan berbahasa ini dapatdikembangkan melalui pendidikan seni yang bersifat multilingual.Melalui pendidikan seni berbagai kemampuan dasar manusia seperti fisik,perseptual, pikir, emosional, kreativitas, sosial, dan estetika dapat dikembangkan.

Pendidikan seni juga mengembangkan imajinasi untuk memperoleh berbagaikemungkinan gagasan dalam pemecahan masalah serta menemukan pengetahuan danteknologi baru secara aktif dan menyenangkan. Bila berbagai kemampuan dasar tersebut dapat berkembang secara optimal akan menghasilkan tingkat kecerdasan emosional,intelektual, kreatif, moral dan edversity tinggi.

 

  1. Nilai Agama

Terjadinya penyimpangan-penyimpangan moral pada masa sekarang ini berakar dari tidak ditanamkannya nilai-nilai agama yang implikasi pada lemahnya kepribadian dan karakter setiap individu maupun kelompok.Dari hal tersebut, sesungguhnya disinilah agama memiliki peran yang sangat urgent terlebih dalam hal pembentukan kepribadian.

Peran agama :

  • Sumber pedoman hidup individu maupun kelompok.
  • Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
  • Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah.
  • Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan.
  • Pedoman perasaan keyakinan.
  • Pedoman keberadaban
  • Pedoman rekreasi dan hiburan.
  • Pengungkapan estetika (keindahan)
  • Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.

Dalam proses pembentukan kepribadian seseorang. Agama memiliki peran yang sangat penting, melalui pengenalan akan agama seseorang mampu mengenal aturan dalam bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama yang dianut, agama berperan dalam melarang setiap pribadi dari tindakan-tindakan negatif dan megiring pribadi tersebut kea rah yang lebih baik.

 

 

 

  1. Nilai Sosial

Dalam masyarakat, umumnya ada nilai-nilai yang dianut bersama oleh warga masyarakat. Nilai-nilai bersama itu sering disebut sebagai nilai sosial.Misalnya, ada nilai social dalam proses sosialisasi karena sosialisasi merupakan salah satu proses dalam pembentukan kepribadian.

Peran Nilai dalam proses sosialisasi

Nilai merupakan seperangkat kebiasaan atau aturan yang diakui kebenarannya oleh semua anggota masyarakat dalam rangka berikut :

  • Menciptakan kehidupan masyarakat yang teratur.
  • Dan juga mengikat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang bulat dan utuh.

 

Kepribadian dalam sosialisasi

Seorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak akan dapat berinteraksi dengan orang lain secara normal. Tanpa sosialisasi, seseorang akan menjadi terasing, tidak dapat bergaul dengan orang lain, dan tidak akan berkembang secara normal. Dengan demikian, orang itu akan memiliki kepribadian yang buruk.

 

  1. MEMBENTUK KARAKTER
  2. Membentuk Karakter

Membentuk karakter, merupakan proses yang berlangsung seumur hidup. Anak-anak, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter jika ia tumbuh pada lingkungan yang berkarakter pula. Dengan begitu, fitrah setiap anak yang dilahirkan suci bisa berkembang optimal. Untuk itu, ia melihat tiga pihak yang mempunyai peran penting. Yakni, keluarga, sekolah, dan komunitas.

Dalam pembentukan karakter,  ada tiga hal  antara lain:

Pertama, anak mengerti baik dan buruk, mengerti tindakan apa yang harus diambil, mampu memberikan prioritas hal-hal yang baik.

 

Kedua, mempunyai kecintaan terhadap kebajikan, dan membenci perbuatan buruk. Kecintaan ini merupakan obor atau semangat untuk berbuat kebajikan. Misalnya, anak tak mau berbohong. `’Karena tahu berbohong itu buruk, ia tidak mau melakukannya karena mencintai kebajikan,’’

Ketiga, anak mampu melakukan kebajikan, dan terbiasa melakukannya. Tuhan dan alam semesta beserta isinya; tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; kejujuran; hormat dan santun; kasi sayang, kepedulian, dan kerja sama; percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah; keadilan dan kepemimpinan; baik dan rendah hati; toleransi, cinta damai, dan persatuan. Karakter baik ini harus dipelihara. Lalu, bagaimana menanamkan karakter pada anak?

Anak tak hanya merekam materi yang masuk. Tapi juga yang lebih dipercaya, yang lebih menyenangkan, dan yang berlangsung terus-menerus. Saat anak sudah memasuki dunia sekolah, anak biasanya lebih percaya pada guru.

Untuk mendampingi sang anak yang tengah dalam pertumbuhan, praktisi multiple intelligences and holistic learning ini menyarankan para orang tua agar berupaya menjadi ‘konsultan pribadi’ mereka. Bagaimana caranya? ‘’Stop menghakimi anak dan stop mengungkit-ungkit,’’ dan juga  agar tidak menggunakan amarah. Sebab, marah tidak pernah menyelesaikan masalah dengan baik. Tidak juga membanding-bandingkan anak.

Dalam berkomunikasi, orang tua hendaknya menjadi pendengar yang baik, tidak menyela pembicaraan, mengganti pernyataan dengan pertanyaan, berempati terhadap anak dan masalahnya, tidak berkomentar sebelum diminta. Kalaupun berkomentar.

Melewati Fase Kritis AnakAda enam fase kritis, yang dilalui anak hingga menjadi dewasa. Orang tua dan guru hendaknya memahaminya sebagai suatu yang normal. untuk menandai dan menyikapi fase-fase pertumbuhan anaknya mulai dari balita, usia TK, usia SD, usia SMP, usia SMA, hingga usia kuliah. Satu hal yang penting tak boleh dilepaskan dalam masing-masing fase itu,

Usia balita

Ciri-ciri: merasa selalu benar, memaksakan kehendak, tidak mau berbagi. Peran orang tua:

– Berikan kesempatan anak beberapa detik untuk berkuasa.

– Berikan kesempatan beberapa detik untuk memiliki secara penuh.

– Perkenalkan pada arti boleh dan tidak boleh dengan menggunakan ekspresi wajah.

-Konsisten dan jangan menggunakan kekerasan baik suara maupun fisik.

Usia TK

Ciri-ciri: konflik adaptatif, imitatif, berbagi, dan mau mengalah. Ketiga sifat terakhir ini karena anak ingin diterima dalam kelompok.Peran orang tua:

– Beri kesempatan untuk memerhatikan, mencoba, dan bekerja sama.

– Perhatikan dan luruskan perilaku imitatif yang cenderung negatif.

-Dukunglah anak untuk bisa berbagi dan mengalah.

Usia SD

Ciri-ciri: anak ingin mendapat pengakuan diri. Karena itu, ciri-ciri utamanya punya pendapat berbeda, penampilan berbeda, gaya bicara berbeda, dan hobinya pun berbeda.Peran orang tua:

– Menghargai pendapatnya dan jangan menyalahkan.

-Ajaklah dialog logika dan pengalaman.

– Pujilah hal-hal yang baik dari penampilannya, bantulah dengan kalimat positif untuk bisa tampil lebih baik lagi.- Jangan langsung menyela gaya bicaranya, bangun ketertarikan dan bantulah dia untuk bisa lebih punya gaya bicara yang menarik.

Usia SMP

Ciri-ciri: anak memasuki persaingan. Karena itu anak mengalami konflik antarpersonal, konflik antarkelompok, dan konflik sosial.Peran orang tua:

– Meningkatkan proses kedekatan dengan anak melalui dialog dan berbagai cara.

– Jadilah pendengar yang baik dan buka menjadi hakim.

– Jangan pernah menyela pembicaraan dan cerianya.

– Jangan beri komentar atau nasihat sebelum tiba waktunya.

 

b. Peran Guru dalam Pembentukan Karakter

Eni Purwati (2012 :215) menjelaskan sesungguhnya pendidikan merupakan

pembudayaan atau ”enculturation”, suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu

hidup dalam suatu masyarakat tertentu dengan keragaman budaya dan keyakinan. Agar

seseorang mampu hidup dalam masyarakat tertentu, maka seseorang haruslah menerima

pendidikan yang cukup dengan kehadiran guru dengan berbagai perannya.

Peran guru dalam proses pembelajaran di masa sekarang ini bukan lagi sebagai

penyampai informasi dan pengetahuan, tetapi lebih sebagai pendamping yang menfasilitasi

terjadinya proses penghayatan pengalaman. Proses penghayatan pengalaman sebagai proses

penemuan makna kehidupan oleh siswa sebagai pebelajar menuntut peran guru sebai model,

fasilitator, dan dinamisator.

Sebagai model, guru adalah contoh bagi siswa dalam menggunakan bahasa yang baik,

bertutur kata yang sopan, lemah lembut, menghargai mitra bicara, sebagai penyimak yang

sabar, memberi kesempatan mitra bicara untuk menyelesaikan pembicaraan, tidak menyela

pembicaraan, dan berkata jujur.

Sebagai fasilitator, guru berperan memfasilitasi terjadinya proses belajar yang

memungkinkan siswa belajar tentang berbagai realitas kehidupan, guru juga berperan

menciptakan lingkungan yang kondusif dalam pembelajaran

Sebagai dinamisator, guru berperan memotivasi siswa, menumbuhkan minat dan

semangat dalam pembelajaran yang bisa disampaikan guru melalui sikap dan tindakan nyata

misalnya, tidak secara langsung menyalahkan ketika siswa berbuat salah, tetapi menunjukkan

sikap bersahabat dan memberikan reward ketika siswa manampilkan perilaku yang baik dan

jujur.

Dengan pedidikan yang diperoleh seseoran anak melalui pembelajarnn diharapkan

tumbuh pemahaman dan kesadaran tentang budi pekerti, etika, budaya luhur, nilai-nilai

moral, dan nilai-nilai kehidupan lainnya yang dimanifestasikan melalui pembiasaan,

keteladanan, dan penyadaran akan nilai kesantunan dan perilaku yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat.Dalam ilmu sosial, individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil.Sebagai contoh, suatu keluarga terdiri dari ayahibu, dan anak. Ayah merupakan individu dalam kelompok sosial tersebut, yang sudah tidak dapat dibagi lagi ke dalam satuan yang lebih kecil.

Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda. Individu yang saling bergabung akan membentuk kelompok atau masyarakat.Individu tersebut akan memiliki karakteristik yang sama dengan kelompok dimana dirinya bergabung

Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.

 

Dengan adanya  naluri yang dimiliki suatu individu, dimana ketika dapat melihat lingkungan di sekitarnya maka secara tidak langsung maka individu akan menilai hal-hal di sekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu  norma-norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang disiplin yang menerapkan aturan-aturan yang tegas maka lama-kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang disiplin, begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang religius maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang religius.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:

 

1. Faktor Biologis

Semua manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala, tangan , kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.

 

2. Faktor Geografis

Setiap lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.

 

3. Faktor Kebudayaan Khusus

Perbedaan kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga.

 

Dari semua faktor-faktor  di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.

 

Karakteristik Individu Yang Memiliki Percaya Diri:

Beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasapercaya diri yang proporsional, diantaranya adalah :1. Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri hingga tidakmembutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan ataupun rasa hormatdari orang lain.2. Tidak terdorong untuk menumbuhkan sikap konformitas demi diterimaoleh orang lain atau kelompok.3. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain (beranimenjadi diri sendiri).4. Punya pengendalian diri yang baik 5. Memiliki internal locus of control (memandang keberhasilan ataukegagalan tergantung dari usaha diri sendiri dan tidak mudahmenyerah pada nasib atau keadaan serta tidak tergantung ataumengharap bantuan orang lain).

 

Keluarga

 

Keluarga adalah satuan masyarakat terkecil yang dimiliki oleh manusia sebagai makhluk social yang di tandai dengan adanya kerjasama dan kegiatan – kegiatan ekonomi.

Salah satu bentuk sosialisasi adalah pola pengasuhan anak di dalam keluarga, mengingat salah satu fungsi keluarga adalah sebagai media transmisi atas nilai, norma dan simbol yang dianut masyarakat kepada anggotanya yang baru. Di masyarakat terdapat berbagai bentuk keluarga di mana dalam proses pengorganisasiannya mempunyai latar belakang maksud dan tujuannya sendiri. Pranata keluarga ini bukanlah merupakan fenomena yang tetap melainkan sebuah fenomena yang berubah, karena di dalam pranata keluarga ini terjadi sejumlah krisis. Krisis tersebut oleh sebagian kalangan dikhawatirkan akan meruntuhkan pranata keluarga ini. Akan tetapi bagi kalangan yang lain apa pun krisis yang terjadi, pranata keluarga ini akan tetap survive.

 

 

Masyarakat

Masyarakat merupakan salah satu satuan sosial sistem sosial, atau kesatuan hidup manusia. Istilah inggrisnya adalah society , sedangkan masyarakat itu sendiri berasal dari bahasa Arab Syakara yang berarti ikut serta atau partisipasi, kata Arab masyarakat berarti saling bergaul yang istilah ilmiahnya berinteraksi.

Masyarakat adalah suatu kelompok manusia yang telah memiliki tatanan kehidupan, norma-norma, adat istiadat yang sama-sama ditaati dalam lingkungannya.

Masyarakat adalah sekumpulan individu yang mengadakan kesepakatan bersama untuk secara bersama-sama mengelola kehidupan. Terdapat berbagai alasan mengapa individu-individu tersebut mengadakan kesepakatan untuk membentuk kehidupan bersama. Alasan-alasan tersebut meliputi alasan biologis, psikologis, dan sosial. Pembentukan kehidupan bersama itu sendiri melalui beberapa tahapan yaitu interaksi, adaptasi, pengorganisasian tingkah laku, dan terbentuknya perasaan kelompok. Setelah melewati tahapan tersebut, maka terbentuklah apa yang dinamakan masyarakat yang bentuknya antara lain adalah masyarakat pemburu dan peramu, peternak, holtikultura, petani, dan industri. Di dalam tubuh masyarakat itu sendiri terdapat unsur-unsur persekutuan sosial, pengendalian sosial, media sosial, dan ukuran sosial. Pengendalian sosial di dalam masyarakat dilakukan melalui beberapa cara yang pada dasarnya bertujuan untuk mengontrol tingkah laku warga masyarakat agar tidak menyeleweng dari apa yang telah disepakati bersama. Walupun demikian, tidak berarti bahwa apa yang telah disepakati bersama tersebut tidak pernah berubah. Elemen-elemen di dalam tubuh masyarakat selalu berubah di mana cakupannya bisa bersifat mikro maupun makro.

Apa yang menjadi kesepakatan bersama warga masyarakat adalah kebudayaan, yang antara lain diartikan sebagai pola-pola kehidupan di dalam komunitas. Kebudayaan di sini dimengerti sebagai fenomena yang dapat diamati yang wujud kebudayaannya adalah sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari serangkaian tindakan yang berpola yang bertujuan untuk memenuhi keperluan hidup. Serangkaian tindakan berpola atau kebudayaan dimiliki individu melalui proses belajar yang terdiri dari proses internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi.

Aspek individu, keluarga, dan masyarakat adalah aspek-aspek sosial yang tidak bisa dipisahkan. Keempatnya mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Tidak akan pernah ada keluarga, masyarakat maupun kebudayaan apabila tidak ada individu. Sementara di pihak lain untuk mengembangkan eksistensinya sebagai manusia, maka individu membutuhkan keluarga dan masyarakat, yaitu media di mana individu dapat mengekspresikan aspek sosialnya. Di samping itu, individu juga membutuhkan kebudayaan yakni wahana bagi individu untuk mengembangkan dan mencapai potensinya sebagai manusia. Lingkungan sosial yang pertama kali dijumpai individu dalam hidupnya adalah lingkungan keluarga. Di dalam keluargalah individu mengembangkan kapasitas pribadinya. Di samping itu, melalui keluarga pula individu bersentuhan dengan berbagai gejala sosial dalam rangka mengembangkan kapasitasnya sebagai anggota keluarga.

Sementara itu, masyarakat merupakan lingkungan sosial individu yang lebih luas. Di dalam masyarakat, individu mengejewantahkan apa-apa yang sudah dipelajari dari keluarganya. Mengenai hubungan antara individu dan masyarakat ini, terdapat berbagai pendapat tentang mana yang lebih dominan. Pendapat-pendapat tersebut diwakili oleh Spencer, Pareto, Ward, Comte, Durkheim, Summer, dan Weber. Individu belum bisa dikatakan sebagai individu apabila dia belum dibudayakan. Artinya hanya individu yang mampu mengembangkan potensinya sebagai individulah yang bisa disebut individu. Untuk mengembangkan potensi kemanusiaannya ini atau untuk menjadi berbudaya dibutuhkan media keluarga dan masyarakat.

 

  1. HUBUNGAN KEPRIBADIAN DENGAN ETIKA, MORAL, NORMA, NILAI, AKHLAK, ESTETIKA DALAM BUDI PEKERTI

Kepribadian yang dimiliki seseorang akan berpengaruh terhadap akhlak, moral, budi pekerti, etika, dan estetika orang tersebut ketika berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari di manapun ia berada. Artinya, etika, norma, nilai, dan estetika yang dimiliki akan menjadi landasan perilaku seorang sehingga tampak dan membentuk menjadi budi pekertinya sebagai wujud kepribadian orang itu.  Seperti telah dipahami bahwa kepribadian merupakan karakteristik atau gaya dan sifat khas diri seseorang yang merunjuk bagaimana individu tersebut tampil dan menimbulkan kesan bagi individu lainnya.

Ajaran moral memuat pandangan tentang niali dan norma moral yang terdapat pada sekelompok manusia. Adapun nilai moral adalah kebaikan manusia sebagai manusia. Norma moral adalah memandang bagaimana manusia harus hidup agar menjadi baik sebagai manusia. Ada perbedaan antara kebaikan moral dan kebaikan pada umumnya. Kebaikan moral merupakan kebaikan manusia, sedangkan kebaikan manusia dilihat dari satu segi saja, misalnya sebagai siswa, suami atau istri, sebagai pustakawan, atau sejenisnya. Jadi, kebaikan moral mengarah kepada kebaikan manusia sebagai manusia yang tidak berembel-embel apapun dalam memandang manusia. Oleh karena itu, kebaikan moral mengandung nilai-nilai universal tentang kemanusiaan.

Moral berkaitan dengan moralitas. Moralitas adalah segala hal yang yang berurusan dengan sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau sopan santun. Moralitas bisa berasal dari sumber tradisi atau adat, agama, atau sebuah ideologi, atau gabungan dari beberapa sumber. Dengan demikian kepribadian yang dimiliki seseorang dapat dipengaruhi dari cara berpikir moral seseorang. Moral yang baik, berasal dari cara berpikir moralnya yang tinggi berdasarkan pertimbangan moral yang bersumber dari perkembangan moral kognitifnya. Moral yang baik,  yang dimiliki oleh seorang yang akan menghasilkan kepribadian yang baik pula. Ini berarti, pendidikan moral yang didapat oleh seseorang yang akan dapat membantu orang tersebut dalam pembentuka kepribadian yang baik dan moralitasnya.

Pendidikan budi pekerti adalah proses pendidikan yang ditujukan untuk mengembangkan nilai, sikap dan perilaku yang memancarkan akhlak mulia atau budi pekerti luhur. Nilai-nilai positif dan yang seharusnya dimiliki seseorang menurut ajaran budi  pekerti yang luhur adalah amal saleh, amanah, antisipatif, baik sangka, bekerja keras, berdab berani berbuat benar, berani memikul resiko, berdisiplin, berhati lapang, berhati lembut, beriman dan bertakwa, berinisiatif, berkemauan keras, berkepribadian, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat bersifat kontruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdas, cermat,demokratis,dan sejenisnya.

Pembentukan kepribadian melalui peningkatan pertimbangan moral secara mendasar mendukung dan mengarahkan seluruh ajarannya untuk mewujudkan nilai-nilai positif sebagaimana yang diajarkan pendidikan budi pekerti. Sebaliknya, secara mendasar  menolak yang menekankan agar ajaran pertimbangan moral menghindarkan diri dari seluruh nilai dan perilaku negatif yang ditunjukan oleh pendidikan budi pekerti.

 

Advertisements