Tags

2.1. Pengertian Nilai dan Kepribadian
NILAI

Kita sering mendengar dan bahkan menggunakan istilah “nilai”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, nilai didefinisikan sebagai kadar, mutu atau sifat yang penting dan berguna bagi kemanusiaan. Nilai adalah sebuah konsep yang menunjuk pada hal-hal yang dianggap berharga dalam kehidupan.Sesuatu itu dianggap berharga karena hal itu baik, indah, benar dan pantas.
Itulah sebabnya, nilai seringkali dipahami sebagai hal-hal yang dianggap baik, indah, benar dan pantas.Sebaliknya hal-hal yang buruk, tidak indah, salah dan tidak pantas dianggap tidak bernilai.Contoh, ketekunan adalah nilai, karena dianggap sebagai sikap yang baik.Kecantikan adalah nilai, karena dianggap sebagai nilai yang indah.Kejujuran adalah nilai, karena dianggap sebagai nilai yang benar.
Dalam sosiologi, ada berbagai pengertian yang dikemukakan para ahli mengenai nilai. Beberapa pengertian itu adalah sebagai berikut :
• Nilai adalah gagasan-gagasan yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok tentang apa yang dikehendaki, apa yang layak dan apa yang baik atau buruk. ( Anthony Giddens, 1994 )
• Nilai adalah gagasan-gagasan tentang apakah suatutindakan itu penting atau tidak penting. ( Horton Hunt, 1987 )
• Nilai merupakan gagasan kolektif (bersama-sama) tentang apa yang dianggap baik, penting, diinginkan dan dianggap layak. Sekaligus tentang apa yang dianggap tidak baik, tidak penting, tak diinginkan dan tidak layak dalam sebuah kebudayaan. Nilai menunjuk pada hal yang penting dalam kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat. ( Richard T. Schaefer dan Robbert P. Lamm, 1998 )


KEPRIBADIAN

Kata “kepribadian” berasal dari bahasa Latin persona yang berarti masker atau topeng. Secara signifikan, dalam teater dunia Latin berbahasa kuno, topeng itu tidak digunakan sebagai perangkat plot untuk menyamarkan identitas karakter, tetapi lebih merupakan konvensi yang digunakan untuk mewakili atau melambangkan karakter tersebut.
Kepribadian adalah seperangkat karakteristik psikologis yang menentukan pola berpikir, merasakan dan bertindak, yaitu individualitas pribadi dan sosial dari seseorang. Pembentukan kepribadian adalah proses bertahap, kompleks dan unik untuk setiap individu. Istilah ini digunakan dalam bahasa sehari-hari berarti “semua keunggulan dari seseorang,” sehingga kita dapat mengatakan bahwa seseorang memiliki “tidak ada kepribadian”. Ada pula definisi kepribadian menurut para ahli :
Menurut Horton ( 1982: 12 ), kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temperamen seseorang. Sikap, perasaan, ekspresi dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan berperilaku yang baku atau berpola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya.
Schaefer & Lamm ( 1998:97 ) mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, kebutuhan, ciri-ciri khas dan perilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjadi standar atau baku, sehingga kalau dikatakan pola sikap, maaka sikap itu sudah baku, berlaku terus-menerus secara konsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi. Pola perilkau dengan demikian juga merupakan perilaku yang sudah baku, yang cenderung ditampilkan seseorang jika ia dihadapkan pada situasi kehidupan tertentu. Orang yang pada dasarnya pemalu cenderung menghindarkan diri dari kontak mata dengan lawan bicaranya.
YingerKepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian instruksi.
M.A.W BouwerKepribadian adalah corak tingkah laku social yang meliputi corak kekuatan, dorongan, keinginan, opini dan sikap-sikap seseorang.

CuberKepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.

Theodore R. NewcombeKepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
kepribadian dapat di definisikan sebagai suatu set dinamis dan terorganisir dari karakteristik yang dimiliki oleh setiap orang yang secara unik mempengaruhi kognisinya, emosi, motivasi, dan perilaku dalam berbagai situasi.
Kepribadian juga dapat merujuk kepada pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang secara konsisten yang ditunjukkan oleh seorang individu dari waktu ke waktu yang sangat mempengaruhi harapan, persepsi-diri, nilai dan sikap, dan memprediksi reaksi kita terhadap orang lain, masalah dan tekanan. Dalam sebuah kalimat, kepribadian bukan hanya siapa kita, Gordon Allport (1937) dijelaskan dua cara utama untuk belajar kepribadian:
yang nomotetis dan idiografis tersebut. Psikologi nomotetis mencari hukum-hukum umum yang dapat diterapkan untuk orang yang berbeda, seperti prinsip aktualisasi diri, atau sifat extraversion.Psikologi idiografis merupakan upaya untuk memahami aspek unik dari individu tertentu.

Jadi, kepribadian adalah seperangkat karakteristik psikologis yang menentukan pola berpikir, merasakan dan bertindak, yaitu individualitas pribadi dan sosial dari seseorang.

2.2. Macam-macam Nilai dalam Pembentukan Karakter atau
Kepribadian

Nilai dibagi menjadi empat antara lain :
1. Nilai Etika atau Moral
Nilai etika merupakan nilai untuk manusia sebagai pribadi yang utuh. Misalnya, kejujuran nilai tersebut saling berhubungan dengan akhlak nilai ini juga berkaitan dengan benar atau salah yang dianut oleh golongan atau masyarakat. Nilai etis atau etik sering disebut sebagai nilai moral, akhlak atau budi pekerti selain kejujuran, perilaku suka menolong, adil, pengasih, penyayang, ramah dan sopan termasuk juga ke dalam nilai sanksinya berupa teguran, caci maki, pengucilan atau pengusiran dari masyarakat.
Nilai moral adalah suatu bagian dari nilai, yaitu nilai yang menangani kelakuan baik atau buruk dari manusia.moral selalu berhubungan dengan nilai, tetapi tidak semua nilai adalah nilai moral.Moral berhubungan dengan kelakuan atau tindakan manusia.Nilai moral inilah yang lebih terkait dengan tingkah laku kehidupan kita sehari-hari.

2. Nilai Estetika
Nilai estetika atau nilai keindahan sering dikatikan dengan benda, orang dan peristiwa yang dapat menyenangkan hati ( perasaan ). Nilai estetika juga dikaitkan dengan karya seni, meskipun sebenarnya semua ciptaan Tuhan juga memiliki keindahan alami yang tak tertandingi.

3. Nilai Agama
Nilai agama berhubungan antara manusia dengan Tuhan, kaitannya dengan pelaksanaan perintah dan larangan-Nya. Nilai agama diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan yang bermanfaat baik di dunia maupun akhirat, seperti rajin beribadah, berbakti kepada orangtua, menjaga kebersihan, tidak berjudi, tidak meminum-minuman keras, dsb. Bila seseorang melanggar norma/kaidah agama, ia akan mendapatkan sanksi dari Tuhan sesuai dengan keyakinan agamanya masing-masing . Oleh karena itu, tujuan norma agama adalah menciptakan insan-insan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam penertian mampu melaksanakan apa yang menjadi perintah dan meninggalkan apa yang di larangNya. Adapun kegunaan norma agama yaitu untuk mengendalikan sikap dan perilaku setiap manusia dalam kehidupannya agar selamat di dunia dan akhirat.

4. Nilai Sosial
Nilai sosial berkaitan dengan perhatian dan perlakuan kita terhadap sesama manusia di lingkungan kita. Nilai ini tercipta karena manusia sebagai makhluk sosial, manusia harus menjaga hubungan diantara sesamanya. Hubungan ini akan menciptakan sebuah keharmonisan dan sikap saling membantu, kepedulian terhadap persoalan lingkungan, seperti kegitan gotong-royong danmenjaga keserasian hidup bertetangga merupakan nilai sosial.

2.3. Tahap-tahap Perkembangan Karakter atau Kepribadian

Pada masa bayi, tahap pertama, anak-anak belajar rasa percaya atau tidak percaya kepada orang lain. Jika ibunya (atau pengasuh penggantinya ) secara konsisten memberi cinta dan kasuh sayang, serta memperhatikan kebutuhan fisik bayi, maka bayi itu akan membangun perasaan aman dan percaya pada orang lain.
Tahap kedua, anak usia 2-3 tahun belum begitu tertarik pada nilai-nilai. Anak lahir memiliki dorongan-dorongan naluri dan reflek-reflek dan belum punya kepribadian.
Tahap ketiga, anak usia 4-5 tahun keatas mulai mempunyai kualitas kepribadian. Anak mengenal nilai, berdasarkan faktor pertambahannya usia berarti bertambah pula kematangan, otomatis kepribadian semakin berkembang.
Tahap keempat, dunia anak semakin luas, banyak keterampilan teknis yang ia pelajari dan perasaan bahwa dirinya kompeten atau mampu melakukan sesuatu diperbesar.
Tahap kelima, remaja mulai mengembangkan kesadaran akan identitas pribadinya melalui interaksinya dengan orang lain.
Tahap keenam, seseorang mulai menembangkan hubungan cinta yang abadi dengan lawan jenisnya.
Tahap usia dewasa menengah, seseorang berkarya untuk keluarga dan masyarakat, memberikan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi keluarga maupun masyarakatnya.
Tahap akhirhidupnya, seseorang akan menemukan akhir hidupnya dengan penuh harga diri atau kebanggan atau penuh penyesalan diri.

Usia Krisis identitas yang harus dilampaui Nilai keutamaan dasar yang dikembangkan
Bayi Percaya vs tidak percaya Harapan
Awal kanak-kanak (2-3 tahun) Kemandirian vs pemalu dan peragu Kehendak/kemauan
Tahap bermain (4-5 tahun) Inisiatif vs rasa bersalah Tujuan/cita-cita
Tahap sekolah (6-10 tahun ) Pekerja keras vs rendah diri Kompetensi
Remaja
(12-18 tahun) Identitas vs kebingungan peran Loyalitas / kesetiaan
Dewasa awal
(19-35 tahun) Keakraban vs keteransingan Cinta
Dewasa menengah
( 36-50 tahun ) Produktivitas vs kemandegan Kepedulian
Tua
(51 tahun keatas ) Intregitas vs tak berpengharapan Kebijaksanaan

2.4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter atau
Kepribadian
Adanya perbedaan kepribadian setiap individu sangatlah bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut.
a. Faktor Biologis
Faktor biologis yang paling berpengaruh dalam pembentukan kepribadian adalah jika terdapat karakteristik fisik unik yang dimiliki oleh seseorang. Contohnya, kalau orang bertubuh tegap diharapkan untuk selalu memimpin dan dibenarkan kalau bersikap seperti pemimpin, tidak aneh jika orang tersebut akan selalu bertindak seperti pemimpin. Jadi, orang menanggapi harapan perilaku dari orang lain dan cenderung menjadi berperilaku seperti yang diharapkan oleh orang lain itu. Ini berarti tidak semua faktor karakteristik fisik menggambarkan kepribadian seseorang.Sama halnya dengan anggapan orang gemuk adalah periang.
Perlu dipahami bahwa faktor biologis yang dimaksudkan dapat membentuk kepribadian seseorang adalah faktor fisiknya dan bukan warisan genetik.Kepribadian seorang anak bisa saja berbeda dengan orangtua kandungnya bergantung pada pengalaman sosialisasinya. Contohnya, seorang bapak yang dihormati di masyarakat karena kebaikannya, sebaliknya bisa saja mempunyai anak yang justru meresahkan masyarakat akibat salah pergaulan.Akan tetapi, seorang yang cacat tubuh banyak yang berhasil dalam hidupnya dibandingkan orang normal karena memiliki semangat dan kemauan yang keras. Dari contoh tersebut dapat berarti bahwa kepribadian tidak diturunkan secara genetik, tetapi melalui proses sosialisasi yang panjang. Salah apabila banyak pendapat yang mengatakan bahwa faktor genetik sangat menentukan pembentukan kepribadian.
b. Faktor Geografis
Faktor lingkungan menjadi sangat dominan dalam meme ngaruhi kepribadian seseorang.Faktor geografis yang dimaksud adalah keadaan lingkungan fisik (iklim, topografi, sumberdaya alam) dan lingkungan sosialnya.Keadaan lingkungan fisik atau lingkungan sosial tertentu memengaruhi kepribadian individu atau kelompok karena manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Contohnya, orang-orang Aborigin harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup karena kondisi alamnya yang kering dan tandus, sementara, bangsa Indonesia hanya memerlukan sedikit waktunya untuk mendapatkan makanan yang akan mereka makan sehari-hari karena tanahnya yang subur. Contoh lain, orang-orang yang tinggal di daerah pantai memiliki ke pribadian yang lebih keras dan kuat jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pegunungan. Masyarakat di pedesaan penuh dengan kesederhanaan dibandingkan masyarakat kota.
Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor geografis sangat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, tetapi banyak pula ahli yang tidak menganggap hal ini sebagai faktor yang cukup penting dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya.
c. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku dan kepribadian seseorang, terutama unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung memengaruhi individu.Kebudayaan dapat menjadi pedoman hidup manusia dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu, unsur-unsur kebudayaan yang berkembang di masyarakat dipelajari oleh individu agar menjadi bagian dari dirinya dan ia dapat bertahan hidup. Proses mem pelajari unsur-unsur kebudayaan sudah dimulai sejak kecil sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian yang berbeda antarindividu ataupun antarkelompok kebudayaan satu dengan lainnya. Contohnya, orang Bugis memiliki budaya merantau dan mengarungi lautan.Budaya ini telah membuat orang-orang Bugis menjadi keras dan pemberani.
d. Faktor Pengalaman Kelompok
Pengalaman kelompok yang dilalui seseorang dalam sosialisasi cukup penting perannya dalam mengembangkan kepribadian. Kelompok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang dibedakan menjadi dua sebagai berikut.
1. Kelompok Acuan (Kelompok Referensi). Sepanjang hidup seseorang, kelompok-kelompok tertentu dijadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku. Dalam hal ini, pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan kelompok referensinya. Pada mulanya, keluarga adalah kelompok yang dijadikan acuan seorang bayi selama masa-masa yang paling peka. Setelah keluarga, kelompok referensi lainnya adalahteman-teman sebaya. Peran kelompok sepermainan ini dalam perkembangan kepribadian seorang anak akan semakin berkurang dengan semakin terpencar nya mereka setelah menamatkan sekolah dan memasuki kelompok lain yang lebih majemuk (kompleks).
2. Kelompok Majemuk. Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Dengan kata lain, masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok dengan budaya dan ukuran moral yang berbeda-beda. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya seseorang berusaha dengan keras mempertahankan haknya untuk menentukan sendiri hal yang dianggapnya baik dan bermanfaat bagi diri dan kepribadiannya sehingga tidak hanyut dalam arus perbedaan dalam kelompok majemuk tempatnya berada. Artinya, dari pengalaman ini seseorang harus mau dan mampu untuk memilah-milahkannya.
e. Faktor Pengalaman Unik
Pengalaman unik akan memengaruhi kepribadian seseorang. Kepribadian itu berbeda-beda antara satu dan lainnya karena pengalaman yang dialami seseorang itu unik dan tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama. Sekalipun dalam lingkungan keluarga yang sama, tetapi tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama, karena meskipun berada dalam satu, setiap individu keluarga tidak mendapatkan pengalaman yang sama. Begitu juga dengan pengalaman yang dialami oleh orang yang lahir kembar, tidak akan sama. Sebagai mana menurut Paul B. Horton, kepribadian tidak dibangun dengan menyusun peristiwa di atas peristiwa lainnya.Arti dan pengaruh suatu pengalaman bergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya.
2.5. Peran Nilai-nilai dalam Pembentukan Karakter atauKepribadian

a. Nilai Etik atau Moral
Mungkin tidak semua dari kita sadar bahwa lingkungan kita semakin tidak nyaman, baik secara lahiriyah apalagi secara batiniyah karena berbagai kerusakan muncul dan terus bertambah seiring dengan perjalanan waktu kerusakan moral missal.Kita akrab dengan berita kekerasan di berbagai institusi mulai dari institusi non-formal seperti keluarga sampai pada institusi formal seperti institusi pendidikan.Korupsi dan tindakan koruptif juga mengatakan dan mendarah daging baik di institusi pemerintah maupun swasta.Pergaulan bebas menjadi kebanggan, seks menjadi kebiasaan, aborsi menjadi hal yang normal, tindakan asusila menjadi susila dan perisakan lingkungan menjadi lumrah.
Pendidikan itu memainkan peranan yang sangat penting dalam perkembangan hidup sosial masyarakat. Tujuan pertama-tama pendidikan adalah memperkuat pikiran dan memperkembang kebajikan-kebajikan utama, yakni kebajikan, kebenaran, penghormatan terhadap ritus dan kebijaksanaan. Seperti dikatakan bahwa manusia pada dasarnya baik, namun kebaikan itu perlu diolah agar menjadi orang baik, bisa menjadi guru dan suci. Sebaliknya, orang yang tidak mengolahnya akan tidak lain seperti seekor binatang. Pengolahan kebajikan asli itu dapat diperkuat dengan pengetahuan yang diperoleh lewat pendidikan. Dengan kata lain, belajar merupakan usaha untuk mengembalikan kebajikan manusia yang telah hilang.
Pendidikan juga dapat melestarikan dan mengembangkan serta mengembalikan kecenderungan kodrat dasariah manusia. Untuk itu dia menawarkan usaha perbaikan diri yang dilakukan ‘ke dalam diri sendiri’ sebagai bentuk pengujian diri dari kecenderungan yang terpengaruh oleh hal-hal eksternal. Maka pengaruh lingkungan tempat kita berada sangat mempengaruhi kita dalam belajar membentuk karakter moral kita.

b. Nilai Estetik
Pendidikan seni sebagai induk dari kemampuan estetika memiliki peran yangberagam dalam pembentukan kepribadian.Peran pendidikan seni bersifatmultidimensional, multilingual, dan multikultural.Dalam menghadapi perkembangan ilmupengetahuan, teknologi dan informasi diperlukan pengembangan kemampuan dalamberbahasa visual, rupa, bunyi dan gerak.Berbagai kemampuan berbahasa ini dapatdikembangkan melalui pendidikan seni yang bersifat multilingual.Melalui pendidikan seni berbagai kemampuan dasar manusia seperti fisik,perseptual, pikir, emosional, kreativitas, sosial, dan estetika dapat dikembangkan.
Pendidikan seni juga mengembangkan imajinasi untuk memperoleh berbagaikemungkinan gagasan dalam pemecahan masalah serta menemukan pengetahuan danteknologi baru secara aktif dan menyenangkan. Bila berbagai kemampuan dasar tersebut dapat berkembang secara optimal akan menghasilkan tingkat kecerdasan emosional,intelektual, kreatif, moral dan edversity tinggi.

c. Nilai Agama
Terjadinya penyimpangan-penyimpangan moral pada masa sekarang ini berakar dari tidak ditanamkannya nilai-nilai agama yang implikasi pada lemahnya kepribadian dan karakter setiap individu maupun kelompok.Dari hal tersebut, sesungguhnya disinilah agama memiliki peran yang sangat urgent terlebih dalam hal pembentukan kepribadian.

Peran agama :
• Sumber pedoman hidup individu maupun kelompok.
• Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
• Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah.
• Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan.
• Pedoman perasaan keyakinan.
• Pedoman keberadaban
• Pedoman rekreasi dan hiburan.
• Pengungkapan estetika (keindahan)
• Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.
Dalam proses pembentukan kepribadian seseorang. Agama memiliki peran yang sangat penting, melalui pengenalan akan agama seseorang mampu mengenal aturan dalam bertingkah laku sesuai dengan ajaran agama yang dianut, agama berperan dalam melarang setiap pribadi dari tindakan-tindakan negatif dan megiring pribadi tersebut kea rah yang lebih baik.
d. Nilai Sosial
Dalam masyarakat, umumnya ada nilai-nilai yang dianut bersama oleh warga masyarakat. Nilai-nilai bersama itu sering disebut sebagai nilai sosial.Misalnya, ada nilai social dalam proses sosialisasi karena sosialisasi merupakan salah satu proses dalam pembentukan kepribadian.

Peran Nilai dalam proses sosialisasi
Nilai merupakan seperangkat kebiasaan atau aturan yang diakui kebenarannya oleh semua anggota masyarakat dalam rangka berikut :
• Menciptakan kehidupan masyarakat yang teratur.
• Dan juga mengikat individu sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang bulat dan utuh.

Kepribadian dalam sosialisasi
Seorang yang tidak mengalami sosialisasi tidak akan dapat berinteraksi dengan orang lain secara normal. Tanpa sosialisasi, seseorang akan menjadi terasing, tidak dapat bergaul dengan orang lain, dan tidak akan berkembang secara normal. Dengan demikian, orang itu akan memiliki kepribadian yang buruk.

Advertisements