Tags

,

BAB IV
KLASIFIKASI ATAU PENGGOLONGAN JABATAN
Oleh : Drs. Moekijat

1. PENDAHULUAN
Dalam pembicaraan-pembicaraan selanjutnya, kita akan menguraikan tahap-tahap program kepegawaian secara agak terinci dan lengkap. Dari tahap-tahap tersebut penggolongan jabatan mendapat perhatian/prioritas pertama, karena klasifikasi jabatan ini merupakan dasar tahap-tahap selanjutnya. Klasifikasi jabatan merupakan tulang punggung program kepegawaian.
Bilamana jabatan-jabatan digolongkan, maka hal ini berarti bahwa jabatan-jabatan itu ditempatkan dalam kategori-kategori atau kelas-kelas yang berbeda. Masing-masing kelas mempunyai nama tersendiri dan diperlukan syarat-syarat pelatihan dan pengalaman yang sama untuk tiap jabatan dalam kelas itu. Selanjutnya hanya ada satu skala gaji yang berlaku untuk setiap orang yang ditunjuk pada kelas itu.
Kebutuhan dan faedah rencana klasifikasi sudah jelas. Hanya kekacauanlah yang akan timbul, bila tidak ada penggolongan jabatan, karena dalam hal yang demikian itu tiap jabatan perseorangan harus diperlakukan tersendiri. Bila terbuka suatu lowongan jabatan, pegawai yang berwenang untuk mengangkat, akan menentukan syarat-syarat untuk mengisi jabatan itu menurut idenya sendiri, meskipun ide itu mungkin sangat berlainan dengan ide pimpinan-pimpinan lainnya, yang berusaha mengisi jenis lowongan yang sama. Dalam kenyataan orang-orang tersebut hanya mempunyai ide yang tidak jelas mengenai syarat-syarat jabatan itu, bila tidak pernah diadakan penyelidikan yang terinci mengenai tugas-tugasnya.
Demikian pula, merumuskan garis-garis promosi adalah hamper-hampir tidak mungkin, karena tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui, apakan hubungannya yang tepat antara jabatan yang satu dengan jabatan yang lainnya. Dengan kata lain tidak ada tangga promosi yang jelas. Nama jabatan menjadi banyak sekali. Bahkan yang lebih tidak menguntungkan lagi ialah bahwa gaji yang pada umumnya akan menjadi tidak adil, karena tidak ada rencana untuk menjamin skala gaji yang sama untuk semua orang yang melakukan pekerjaan yang sama atau yang mempunyai syarat-syarat yang sama. Dalam keadaan yang kacau demikian itu, maka administrasi kepegawaian yang efektif adalah tidak mungkin.
Organisasi-organisasi kepegawaian pada umumnya menghendaki adanya “pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama” (equal pay for equal work).


2. JENIS SISTEM KLASIFIKASI JABATAN
Pada umumnya ada 2 macam sistem klasifikasi. Di Amerika Serikat dan Negara-negara seperti Kanada, Puerto Rico, Panama dan Costa Rica, jabatan-jabatan digolongkan menurut tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawabnya. Klasifikasi seperti ini disebut klasifikasi tugas (duties classification). Di Eropa Barat, terutama di Inggris, Perancis dan Jerman dianut klasifikasi menurut tingkat atau derajat (Rank Classification). Hal ini berarti bahwa jabatan-jabatan digolongkan dalam kelas-kelas yang luas menurut syarat-syaratnya dan pada umumnya menurut mutu perseorangan yang memangku jabatan-jabatan itu.
3. KLASIFIKASI MENURUT TUGAS
Dalam sistem ini tindakan pertama kali ialah menganalisis unsur-unsur jabatan yang diperlukan untuk jabatan perseorangan. Jabatan-jabatan itu dapat berjumlah ratusan, ribuan, bahkan dapat juga berjumlah jutaan.
Kelas jabatan terdiri dari semua jabatan yang hamper sama dalam tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab, yang memerlukan syarat-syarat ujian untuk mengisi lowongan dalam kelas itu, dan mempergunakan satu skala gaji untuk semua jabatan yang termasuk didalamnya.
Kelas merupakan inti proses klasifikasi jabatan, yang menentukan jabatan-jabatan mana yang sebaiknya dapat dianggap “kira-kira” sama dalam tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab. Disini dipergunakan istilah “kira-kira”, karena sebenarnya tidak ada 2 jabatan yang persis sama.
Seri kelas jabatan menunjukan perbedaan dalam tingkat tanggung jawab dan kesulitan jabatan dalam garis pekerjaan yang sama. Misalnya junior, senior dan principal clerk (bila awalan “junior”, “Senior” dan “principle”) dipergunakan untuk menunjukkan tingkatan dalam kesulitan dan tanggung jawab. Seri kelas jabatan itu kadang-kadang menunjukkan rumpun kelas jabatan, karena hubungannya yang erat dan juga menunjukkan garis promosi.
Konsepsi lainnya yang penting ialah tingkat atau derajat (grade). Sebenarnya lebih tepat apabila dikatakan, bahwa tingkat itu merupakan bagian kompensasi daripada proses klasifikasi. Tingkat/derajat itu memuat semua kelas jabatan, tidak pandang macamnya pekerjaan yang dilakukan, yang dibayar menurut skala gaji yang sama.
Misalnya kelas analis anggaran dan kelas perencana kepegawaian dapat ditempatkan dalam derajat yang sama. Ini berarti bahwa skala pembayaran yang sama akan digunakan. Akan tetapi, meskipun demikian, masing-masing kelas itu mempunyai identitas sendiri dalam recruitment dan dalam tindakan-tindakan kepegawaian lainnya. Syarat-syarat untuk mengisi jabata-jabatan ini dan tugas-tugasnya jelas sangat berlainan, sehingga analis anggaran dan perencana kepegawaian tidak dapat disamaratakan (Secara adil) dalam kelas yang sama. Meskipun demikian, setelah membanding-bandingkan tanggung jawab pekerjaan dalam tiap-tiap hal dan syarat-syarat yang diperlukan, misalnya dalam menyelidiki persoalan penarikan tenaga bebas, keputusan untuk menempatkan kedua kelas itu pada derajat yang sama, yang berarti menempatkan pada skala gaji yang sama, dapat dipandang adil.
Derajat umumnya ditunjukkan dengan angka-angka dari atas kebawah dari angka 1 sampai 20, 30, atau 40, yakni jumlah yang diperlukan untuk menunjukkan perbedaan pekerjaan yang penting, yang berarti juga perbedaan pekerjaan dalam gaji yang dibayarkan.
Pertanyaan yang mungkin timbul ialah; Berapa banyak jabatan yang ada dalam satu kelas dan berapa dalam 1 derajat. Hal ini tergantung pada keadaan. Mungkin ada ratusan pegawai/pekerja dalam kelas yang sama, seperti halnya pada : pesuruh. Beberapa kelas mungkin hanya memuat satu jabatan misalnya Dirut Kepegawaian, Dirut Keuangan, Kepala Kesehatan, Kotapraja, apabila masing-masing jabatan itu hanya dipegang oleh seorang pegawai. Demikian pula, satu derajat dapat memuat banyak kelas atau hanya 1 kelas. Dengan demikian analisis anggaran dan perencanaan kepegawaian dapat ditaruh dalam derajat yang sama.
Pentingnya duties classification ini ialah bahwa jabatan0jabatan diperuntukkan bagi kelas-kelas menurut tugas dan tanggung jawab. Hal ini berarti bahwa nilai atau mutu perseorangan dari pemegang jabatan sama sekali tidak penting.
Sebagai contoh : Seorang tamatan SMA bekerja dalam jabatan tata-usaha bersamaan dengan pegawai-pegawai lain yang latar belakang pendidikannya jauh lebih rendah daripadanya, tetapi yang jabatannya ditempatkan dalam kelas yang sama seperti itu. Mungkin ia selain pendidikannya lebih tinggi juga jauh lebih cakap daripada mereka dalam melakukan kewajibannya yang rutin itu, tetapi pada pokoknya ia merasa bahwa ia telah mengeluarkan uang yang lebih banyak dan memerlukan waktu yang lebih lama dalam pendidikannya dan hal ini akan diwujudkan dalam gaji yang lebih besar.
Meskipun demikian, apabila ia menunjukkan hal ini kepada analis klasifikasi, maka ia akan mendapat jawaban, bahwa ia sebenarnya mengajukan pertimbangan yang tidak perlu. Mengingat bahwa tugasnya adalah sama denga tugas pegawai tata usaha lainnya, maka jabatannya itu telah diklasifikasi sebagaimana mestinya. Demikian menurut duties classification. Tipe klasifikasi ini tidak dapat mempertimbangkan kecakapan pegawai/pekerja perseorangan. Jika demikian halnya, maka gaji akan mempunyai hubungan yang tidak banyak dengan hasil pekerjaan, dan mengakibatkan teriakan penolakan prinsip “pembayaran yang sama untuk pekerjaan yang sama”.
Sudah tentu dapat dibuat aturan untuk membantu pegawai tata-usaha itu. Direktur kepegawaian dapat misalnya member saran jabatannya pada suatu jenis jabatan keahlian dengan gaji yang lebih tinggi. Bila pada waktu itu atau bila untuk sementara tidak ada kesempatan untuk promosi, maka pegawai tata usaha ini dapat dibantu dengan memberikan kepadanya tambahan pembayaran dalam gajinya yang sekarang.
4. KLASIFIKASI MENURUT TINGKAT
Klasifikasi atau penggolongan ini didasarkan atas kualifikasi (mutu) atau pendidikan orang-orangnya. Misalnya advokat-advokat, dokter-dokter, atau guru-guru. Sulit dalam menggolongkan jabatan sekretaris. Penggolongan sekretaris tergantung kepada kepalanya. Apabila kepalanya menduduki jabatan yang lebih tinggi dalam organisasi, maka ia juga ingin ditempatkan dalam klasifikasi (penggolongan) yang tinggi dalam jabatannya. Dalam kenyataan (Praktek) jabatan sekretaris disesuaikan dengan tingkat jabatan kepalanya.