Tags

,

SEMINAR AKUNTANSI

BAB 1

AKUNTANSI & AKUNTAN

A. Sejarah Perkembangan Teori Akuntansi

A1. Sejarah Awal Akuntansi

Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengidentifikasi tempat dan waktu lahirnya sistem pembukuan berpasangan. Ada berbagai skenario yang dihasilkan oleh usaha-usaha tersebut.  Sebagian besar skenario tersebut mengakui bahwa sistem pencatatan telah ada dalam berbagai peradaban sejak kurang lebih tahun 3000 BC. Diantaranya adalah peradaban Kaldea- Babilonia, Astria, dan Samaria, yang merupakan pembentuk system pemerintah pertama di dunia, pembentuk system bahasa tulisan tertua membentuk “poros tempat berputarnya seluruh mesin keuangan dan departemen”, perdaban China, dengan akuntansi pemerintahan yang memainkan peran kunci dan canggih selama Dinasti Chao (1122-256 BC) peradaban Yunani, dimana Zenon, manajer serta Appolonius, memperkenalkan system akuntansi pertanggung jawaban yang luas pada tahun 256 BC, dan peradaban Roma, dengan hukum yang menentukan bahwa pembayar pajak harus membuat laporan posisi keuangan, dan dengan hak sipil yang tergantung pada tingkat kekayaan yang dinyatakan warga negara. Adanya bentuk-bentuk pembukuan pada jaman kuno tersebut berkaitan dengan berbagai factor diantaranya penemuan system penulisan, pengenalan angka arab dan system decimal, penyebaran pengetahuan aljabar, adanya bahan-bahan penulisan yang murah, meningkatnya literasi (kemelehurufan) dan adanya medium pertukaran yang baku A Litleton menyebutkan tujuh prakondisi dan timbulnya pembukuan yang sistEmatis :

  1. Seni menulis.  Karena pembukuan pertama-tama adalah suatu pencatatan.
  2. Karena aspek-aspek mekanis pembukuan terdiri dari serangkaian komputasi sederhana.
  3. Kekayaan Pribadi.  Karena pembukuan hanya berkaitan dengan pencatatan fakta tentang kekayaan, dan hak atas kekayaan.
  4. Yaitu (perantara dalam perekonomian), karena pembukuan tidak diperlukan kecuali transaksi dalam kekayaan dan hak atas kekayaan dapat direduksi ke dalam denominator umum ini.
  5. Yaitu  (transaksi yang belum selesai), karena dorongan untuk membuat catatan tidak begitu kuat jika semua transaksi pertukaran telah selesai pada saat kejadian.
  6. Karena pertukaran yang hanya bersifat local tidak cukup memberi tekanan (volume usaha) untuk mendorong orang mengkoordinasikan gagasan yang berbeda-beda ke dalam suatu system.
  7. Karena tanpa modal perniagaan akan tidak berarti dan kredit akan tidak mungkin.

Masing-masing peradaban kuno yang disebutkan di atas mencakup prasyarat-prasyarat tersebut, sehingga mendorong kehadiran berbagai bentuk pembukuan. Yang masih terhilang adalah scenario tentang sejarah akuntansi dari informasi yang terisolasi dalam risalat pembukuan yang mula-mula. Salah satu scenario yang masuk akal adalah sbb : Apabila kita akan menelusuri asal mula sejarah sains (akuntansi) yang penting ini, secara alamiah kita akan menganggap bahwa penemuan pertama akuntansi adalah oleh para pedagang, dan tidak ada orang yang memiliki klaim yang lebih utama daripada bangsa Arabia, Bangsa Mesir, yang selama beberapa abad menguasai perdagangan dunia, menurunkan gagasan pertama tentang perdagangan dari hubungan mereka dengan orang-orang yang jujur ini, dan konsekuensinya mereka harus menerima bentuk pertama dari perakuntanan, yang dalam cara perdagangan yang alamiah, dikomunikasikan kepada semua kota Mediterania. Ketika kekaisaran barat diserang oleh bangsa Barbar, dan semua Negara yang telah disusunnya, mengambil kesempatan untuk menyatakan kemerdekaan, perniagaan segera hilang setelah kemerdekaan, dan segera Italia yang pernah menjadi pusat dunia, menjadi pusat perdagangan, yang merupakan puing-puing kekaisaran timur oleh Turki, yang tidak pernah dimasuki oleh orang-orang yang berbakat atau aturaan-aturan seni perdagangan, bukan merupakan penyumbang kecil.  Bisnis pertukaran, yang oleh Lombard dikaitkan dengan kota-kota perdagangan Eropa, memperkenalkan metode pencataan akun, dengan cara berpasangan, yang saat sekarang memperoleh nama pembukuan Italia.

Pembukuan Italia ini menjadi berhasil baik seiring dengan perkembangan perdagangan Republik Italia dan penggunaan metode berpasangan dalam abad keempat belas.  Buku pertama tentang pembukuan berpasangan muncul pada tahun 1340 oleh Massari dari Genoa, Pembukuan berpasangan ini mendahului Paciolo kurang lebih dua ratus tahun Raumond de Rover menggambarkan perkembangan awal akuntansi di Italia sebagai berikut:

Pencapaian besar pedaganG-pedagang Italia, kira-kira antara 1250 dan 1400, adalah menggabungkan elemen-elemen yang beragam menjadi suatu system klasifikasi yang terintegrasi di mana lacinya di sebut akun dan semua transaksi dimasukkan dengan prinsip berpasangan.  Namun, tidak dapat diasumsikan bahwa keseimbangan pembukuan merupakan tujuan utama akuntansi abad pertengahan.  Sebalinya, paling tidak di Italia, pedagang-pedagang telah mulai menggunakan akuntansi sebagai alat pengendalain manajemen sejak 1400.  Mereka belumlah semaju kita sekarang ini, bahkan masih jauh dari mewujudkan potensi-potensi pembukuan berpasangan.  Namun, mereka telah memulai dengan mengembangkan dasar-dasar akuntansi biaya (cost), dengan memperkenalkan pembalikan dan penyesuaian-penyesuaian yang lain, seperti akrual (accruals) dan tangguhan (deferred), dan dengan memberi perhatian pada audit neraca.  Hanya dalam analisis laporan keuangan saja pedagang-pedagang pada masa itu membuat kemajuan kecil. Adalah, wajar juga untuk menyebut bahwa bentuk-bentuk dasar akuntansi berpasangan yang belum sempurna telah ada dalam peradaban Inca Kuno dalam tahun 1577.

A2. Kontribusi Luca Pacioli

Luca Pacioli, seorang rahib Franciscan, secara umum diasosiasikan dengan pengenalan pembukuan berpasangan. Pada tahun 1494 dia mempublikasikan buku, “Summa de Arithmetica Geomeria, Proportioni et Proportionalita yang didalamnya mencakup dua bab (de Computis et Scripturis) yang menggambarkan pembukuan berpasangan.  Risalahnya merefleksikan praktik yang terjadi di Venesia pada saat itu yang dikenal dengan “Metode Venesia” atau Metode Italia”.  Sehingga dia tidak menemukan pembukuan berpasangan, tetapi menggambarkan sesuatu yang ada dalam praktik pada saat itu.  Dia menyatakan bahwa tujuan pembukuan adalah untuk memberi informasi yang tepat waktu bagi para pedagang mengenai asset dan kewajibannya. Debit(adebeo) dan Kredit (credito)digunakan untuk melakukan pencatatan secara berpasangan.  Dia mengatakan , “Semua pencatatan , harus dilakukan secara berpasangan, yaitu bahwa jika anda membuat seseorang sebagai kreditor.  Tiga buku digunakan memorandum, jurnal dan buku besar.  Catatan bersifat diskripti.  Pacioli menyarankan bahwa “tidak hanya nama pembeli atau penjual dan penjelasan mengenai berat, ukuran, dan harga barang  yang dicatat, tetapi syarat pembayaran juga ditunjukkan “dan” jika kas diterima atau dibayarkan,catatannya mencantumkan jenis mata uang dan nilai konversinya. Pada saat yang sama dikarenakan durasi kongsi bisnis yang pendek.  Pacioli menyarankan penghitungan profit periodic dan penutupan buku. (Adalah baik untuk menutup buku setiap tahun, khususnya jika anada dalam kerja sama dengan orang lain. Akuntansi membuat kerjasama berlangsung lama).  Pengalihan bahasan buku Pacioli dalam berbagai bahasa, merupakan penyumbang bagi penyebaran popularitas metode Italia.

A3. Sejarah Perkembangan Ilmu Akuntansi

Pada awalnya, pencatatan transaksi perdagangan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dicatat pada batu, kulit kayu, dan sebagainya. Catatan tertua yang berhasil ditemukan sampai saat ini masih tersimpan, yaitu berasal dari Babilonia pada 3600 SM. Penemuan yang sama juga diperoleh di Mesir dan Yonani kuno. Pencatatan itu belum dilakukan secara sistematis dan sering tidak lengkap. Pencatatan yang lebih lengkap dikembangkan di Italia setelah dikenal angka-angka desimal arab dan semakin berkembangnya dunia usaha pada waktu itu.

Perkembangan akuntansi sejalan dengan perkembangan organisasi dan kegiatan suatu usaha, karena kehadirannya memerlukan pencatatan sehingga seluruh kegiatan akan tergambar di dalamnya. Pada abad ke-15 seorang ahli Matematika berkebangsaan Italia Luca Paciolo telah menyusun buku tentang akuntansi dengan judul “Tractatus de Cumputis at Scritorio” buku ini berorientasi pada pembukuan berpasangan. Pembukuan berpasangan (double entry bookkeeping) mencatat kedua aspek transaksi sedemikian rupa yang membentuk suatu pemikiran yang berimbang. Praktek pencatatan akuntansi dalam arti pencatatan kejadian yang berhubungan dengan bisnis sudah dimulai sejak adanya kejadian dalam double entry bookkeeping.

Menurut pendapat Mattessich (dalam Harahap, 1997) bahwa double entry sudah ada sejak 5000 tahun yang lalu. Sedangkan selama ini kita kenal bahwa penemu sistem tata buku berpasangan ini maka dapat dikemukakan sebagai berikut. Double entry accounting system telah disepakati para ahli mula-mula diterbitkan oleh Luca Pacioli dalam bukunya yang berisi 36 bab yang terbit pada tahun 1949 di Florence, Italia dengan judul “Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita” yang berisi tentang palajaran ilmu pasti.

Inoue (dalam Harahap, 1997) menyebutkan “Orang yang pertama-tama “menulis” (bukan menerbitkan seperti Pacioli) tentang double entry bookkeeping system adalah Bonedetto Cotrugli pada 1458, 36 tahun sebelum terbitnya buku Pacioli. Namun buku Benedetto Cotrugli ini baru terbit pada tahun 1573 atau 89 tahun setelah buku Pacioli terbit. Dengan demikian penjelasan ini maka pertentangan sebenarnya tidak ada.”

Jika kita kaji sejarah terutama sejarah Islam, sebenarnya pada awal pertumbuhannya sudah ada sistem akuntansi. Akan tetapi, sayangnya literatur belum banyak menganalisis bagaimana rupa eksistensi akuntansi pada zaman itu (± 570 Masehi). Seperti yang dikemukakan oleh Russel (dalam Rosjidi, 1999) “Sebenarnya orang-orang Italia dalam abad ke-14 baru menerapkan sistem pembukuan berpasangan lengkap setelah terlebih dahulu digunakan oleh saudagar-saudagar Moslem (Moslem Merchants).”

Revolusi indusrti di Inggris pada tahun 1776 juga menimbulkan efek positif terhadap perkembangan akuntansi. Pada tahun 1845 undang-undang perusahaan yang pertama di Inggris dikeluarkan untuk mengatur tentang organisasi dan status perusahaan. Dalam undang-undang tersebut, diatur tentang kemungkinan perusahaan meminjam uang, mengeluarkan saham, membayar hutang, dan dapat bertindak sebagaimana halnya perorangan. Keadaaan-keadaaan inilah yang menimbulkan perlunya laporan baik sebagai informasi maupun sebagai pertanggungjawaban.

Dalam artikelnya, Herbert (dalam Harahap, 1997) menjelaskan perkembangan akuntansi sebagai berikut:

  1. Tahun 1775  : pada tahun ini mulai diperkenalkan pembukuan baik yang single entrymaupundouble entry.
  2. Tahun 1800   : masyarakat menjadikan neraca sebagai laporan yang utama digunakan dalam perusahaan.
  3. Tahun 1825   : mulai dikenalkan pemeriksaaan keuangan (financial auditing).
  4. Tahun 1850   : laporan laba/rugi menggantikan posisi neraca sebagai laporan yang dianggap lebih penting.
  5. Tahun 1900   : di USA mulai diperkenalkan sertifikasi profesi yang dilakukan melalui ujian yang dilaksanakan secara nasional.
  6. Tahun 1925   : banyak perkembangan yang terjadi tahun ini, antara lain:
    1. Mulai diperkenalkan teknik-teknik analisis biaya, akuntansi untuk perpajakan, akuntansi pemerintahan, serta pengawasan dana pemerintah;
    2. Laporan keuangan mulai diseragamkan;
    3. Norma pemeriksaaan akuntan juga mulai dirumuskan; dan
    4. Sistem akuntansi yang manual beralih ke sistem EDP dengan mulai dikenalkannya “punch card record”.
  7. Tahun 1950 s/d 1975 : Pada tahun ini banyak yang dapat dicatat dalam perkembangan akuntansi, yaitu sebagai berikut.
    1. Pada periode ini akunansi sudah menggunakan computer untuk pengolahan data.
    2. Sudah dilakukan Perumusan Prinsip Akuntansi (GAAP).
    3. Analisis Cost Revenue semakin dikenal.
    4. Jasa-jasa perpajakan seperti kunsultan pajak dan perencanaan pajak mulai ditawarkan profesi akuntan.
    5. Management accounting sebagai bidang akuntan yang khusus untuk kepentingan manajemen mulai dikenal dan berkembang cepat.
    6. Muncul jasa-jasa manajemen seperti system perencanaan dan pengawasan.
    7. Perencanaan manajemen serta management auditing mulai diperkenalkan.
  8. Tahun 1975   : mulai periode ini akuntansi semakin berkembang dan meliputi bidang-bidang lainnya, perkembangan itu antara lain:
    1. Timbulnya management science yang mencakup analisis proses manajemen dan usaha-usaha menemukan dan menyempurnakan kekurangan-kekurangannya;
    2. Sistem informasi semakin canggih yang mencakup perkembangan model-model organisasi, perencanaan organisasi, teori pengambilan keputusan, dan analisis cost benefit;
    3. Metode permintaan yang menggunakan computer dalam teori cybernetics;
    4. Total system review yang merupakan metode pemeriksaan efektif mulai dikenal; dan
    5. Social accounting manjadi isu yang membahas pencatatan setiap transaksi perusahaan yang mempengaruhi lingkungan masyarakat.

Di Indonesia, akuntansi mulai diterapkan sejak 1642, tetapi jejak yang jelas baru ditemui pada pembukuan Amphion Society yang berdiri di Jakarta sejak tahun 1747. Perkembangan akuntansi yang mencolok baru muncul setelah undang-undang mangenai tanam paksa dihapuskan tahun 1870. Dengan dihapuskannya tanam paksa, kaum pengusaha Belanda banyak bermunculan di Indonesia untuk menanamkan modalnya. Sistem yang dianut oleh pengusaha Belanda ini adalah seperti yang diajarkan oleh Luca Pacioli.

Pada Zaman penjajahan Belanda, perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan tata buku. Akuntansi tidak sama dengan tata buku walaupun asalnya sama-sama dari pembukuan berpasangan. Akuntansi sangat luas ruang lingkupnya, diantaranya  teknik pembukuan. Setelah tahun 1960, akuntansi cara Amerika (Anglo-Saxon) mulai diperkenalkan di Indonesia. Jadi, sistem pembukuan yang dipakai di Indonesia berubah dari sistem Eropa (Kontinental) ke sistem Amerika (Anglo-Saxon).

Fungsi pemeriksaan (auditing) mulai dikenalkan di Indonesia tahun 1907, yaitu sejak seorang anggota NIVA, Van Schagen, menyusun dan mengontrol pembukuan perusaan. Pengiriman Van Schagen ini merupakan cikal bakal dibukanya Jawatan Akuntan Negara (GAD – Government Accountant Dients) yang resmi didirikan pada tahun 1915. Akuntan public pertama adalah Frese & Hogeweg, yang mendirikan kantornya di Indonesia tahun 1918.

Dalam masa pendudukan Jepang, Indonesia sangat kekurangan tenaga di bidang akuntansi. Jabatan-jabatan pimpinan dib Jawatan Keuangan yang 90% dipegang oleh bangsa belanda, menjadi kosong. Dalam masa ini, atas prakarsa Mr. Slamet, didirikan kusus-kursus untuk mengisi kekosongan jabatab tadi dengan tenaga-tenaga Indonesia. Pada tahun 1874, hanya ada seorang akuntan berbangsa Indonesia, yaitu Prof. Dr. Abutari. Di Indonesia, pendidikan akuntansi mulai dirintis dengan dibukanya jurusan akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1952. Pembukaan ini kemudian diikuti Institut Ilmu Keuangan (sekarang Sekolah Tinggi Akuntansi Negara) tahun 1960 dan Fakultas-fakultas Ekonomi di Universitas Padjadjaran (1961), Universitas Sumatera Utara (1964), universitas Airlangga (1962), dan universitas Gadjah Mada (1964).

Organisasi profesi yang menghimpun para akuntan Indonesia bediri 23 Desember 1957. Organisasi ini diberi nama Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dengan pendiri lima orang akuntan Indonesia.profesi akuntan mulai berkembang dengan pesat sejak tahun 1967. Pada tahun itu juga dikeluarjannya undang-undang modal asing yang kemudian disusul dengan undang-undang penanaman modal dalam negeri tahun 1968 yang merupakan pendorong berkembangnya profesi akuntansi. Setelah krisis ekonomi Indonesia tahun 1997, peran profesi akuntan diakui semakin signifikan mengingat profesi ini memiliki peranan strategis di dalam menciptakan iklim transparansi di Indonesia.

Bidang-bidang Akuntansi

  1. Akuntansi Keuangan (Financial Accounting)
  2. Pemeriksaan Akuntan (Auditing)
  3. Akuntansi Manajemen (Management Accounting)
  4. Akuntansi Biaya (Cost Accounting)
  5. Akuntansi Perpajakan (Tax Accounting)
  6. System Informasi (Information System)
  7. Anggaran (Budgeting)
  8. Akuntansi Pemerintahan (Govermental Accounting)

Hubungan Akuntansi dengan Bidang Lain

Pentingnya pemahaman akuntansi tidaklah terbatas hanya pada dunia usaha semata. Banyak karyawan yang pendidikannya bukan dalam bidang bisnis juga menggunakan data akuntansi dan mereka itu perlu mengetahui prinsip-prinsip serta terminologi akuntansi. Semua orang akan berhubungan dengan transaksi usaha sehingga harus memperhatikan aspek keuangan yang terdapat dalam dirinya sendiri. Dalam dunia bisnis yang semakin modern, akuntansi memainkan peranan penting, dan dalam arti luas semua warga Negara akan berhubungan dengan dunia akuntansi pada kesempatan tertentu.

Perkembangan Teknik-Teknik Akuntansi di Amerika Serikat.

Ada empat fase proses perkembangan akuntansi yang dapat diidentifikasi

1. Fase Kontribusi Manajemen (1900 – 1933)

Pengaruh manajemen dalam pembentukan teknik-teknik akuntansi muncul dari meningkatnya jumlah pemegang saham dan peranan ekonomik yang dominan yang dimainkan oleh korporasi industri setelah 1900.  Penyebaran kepemilikan saham memberi peluang bagi manajemen untuk sepenuhnya mengendalikan bentuk dan isi ungkapan akuntansi.  Intervensi manajemen dicirikan oleh penyelesaian-penyelesaian yang bersifat ad hoc terhadap masalah-masalah mendesak dan controversial.  Ketergantungan pada inisiatif manajemen menimbulkan konsekuensi-kosekuensi :

  • Dikarenakan ciri pragmatis solusi yang diadopsi, sebagian besar teknik akuntansi tidak memiliki dukungan teoritis.
  • Fokusnya adalah pada penentuan income kena pajak(taxable income) minimasi pajak income.
  • Teknik yang diadopsi didorong oleh keinginan untuk mertakan earnings
  • Masalah-masalah kompleks dihindari dan solusi berdasarkan kebijaksanaan diadopsi.
  • Perusahaan yang berbeda mengadopsi teknik akuntansi untuk maslah yang sama.

Peristiwa Penting Pada Fase Kontribusi Manajemen:

  • Tahun 1900 The New York Exchange, yang mensyaratkan semua korporasi yang mencatatkan saham untuk mempublikasikan laporan keuangan tahunan.
  • Tahun 1917 mendirikan Board of Examiners untuk membuat ujian CPA yang seragam.
  • Tahun 1920. Ripley dan JMB Hoxley adalah dua orang yang bersuara keras menuntut adanya peningkatan dalam standar Pelaporan Keuangan.  Adolph A Berle dan Gardiner

2. Fase Konstribusi Institusi (1933 – 1959)

Fase ini ditandai oleh penciptaan dan peningkatan peran institusi dalam pengembangan teknik akuntansi.  Termasuk di dalamnya adalah pembentukan Securities dan Exchange Commision (SEC)

Peristiwa Penting Pada Fase Konstribusi Institusi :

  • Tahun 1934 Kongres membentuk SEC untuk melaksanakan berbagai peraturan investasi federal
  • Komite AICPA bekerja sama dengan bursa saham mengusulkan solusi umum kepada Komite NYSE yaitu membiarkan setiap korporasi bebas untuk memilih metode akuntansinya sendiri dalam batas yang sangat luas tetapi mensyaratkan pengungkapan metode yang digunakan konsistensi penerapan mereka dari tahun ke tahun.
  • Tahun 1957 sampai tahun 1959 ditandai dengan kritik intensif terhadap CAP (Committee Accounting Procedure), karena berbagai alasan termasuk kegagalan untuk mendengarkan eksekutif keuangan dan praktisi akuntansi, kegagalan untuk bekerja pada isu-isu yang tidak popular, kegagalan untuk mengembangkan pernyataan yang komprehensif tentang prinsip-prinsip yang mendasar.

3. Fase Kontribusi Profesional (1958 – 1979)

Ketidakpastian terhadap CAP dinyatakan oleh presiden AICPA, Alvin R Jennings, dengan pertanyaan “ Seberapa berhasilkah kita akan dalam mempersempit bidang perbedaan dan inkonsistensi dalam penyiapan dan penyajian informasi keuangan. Komite khusus tentang program Riset yang dibentuk tahun 1957 dan 1958 mengusulkan pembubaran CAP dan Departemen Risetnya.  AICPA menerima rekomendasi tersebut dan dalam tahun 1959 mendirikan the Accounting Principle Board (APB) dan The Accounting Research Division (ARD) dengan untuk memajukan pernyataan tentang apa yang merupakan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum.  ARD memulai dengan publikasi posisi yang disusun dengan cermat yang didasarkan pada penalaran deduktif.  APB juga menerbitkan berbagai opini yang membahas isu-isu konvensional, hingga mencapai 31 opini antara tahun 1959 dan 1973.  AAA juga berpartisipasi dalam proses tersebut melalui beberapa riset dan berusaha mengembangkan pernyataan yang terintegrasi tentang teori akuntansi dasar. Upaya-upaya tersebut tidak selalu berhasil, APB diserang dan dikritik karena:

  • Opini yang bersifat ad hoc atau controversial termasuk APB 8 tentang akuntansi pensiun, APB 11 tentang alokasi pada income, dan APB 2 dan 4 tentang kredit pajak investasi.
  • Kegagalan dalam menyelesaikan maslah akuntansi untuk penggabungan usaha dari goodwill.
  • Kegiatan profesi dengan APB yang dicurigai tidak membantu.  Intervensi asosiasi dan badan-badan professional dalam perumusan teori akuntansi dipicu oleh upaya-upaya untuk mengeliminasi teknik-teknik yang tidak diinginkan dan untuk mengkodifikasikan teknik-teknik yang dapat diterima.

Sekali lagi ketergantungan pada asosiasi dan badan-badan seperti itu mengandung konsekuensi, yang mencakup hal-hal berikut :

  • Asosiasi dan badan-badan tidak mendasarkan diri pada kerangka teoritis yang ditetapkan.
  • Kewenangan Pernyataan tidak jelas
  • Adanya perlakuan-perlakuan alternative memungkinkan fleksiblitas dalam pilihan teknik akuntansi.
  • Ketidakpuasan yang berakibat pada intervensi professional seperti yang ditulis oleh Brioff, efektif untuk menarik perhatian public akan adanya penyalahgunaan akuntansi yang mendominasi laporan tahunan tertentu.

4. Fase Politisasi (1973 – Sekarang)

Keterbatasan asosiasi professional dan manajemen dalam merumuskan teori akuntansi mendorong diadopsinya pendekatan yang lebih deduktif dan politisasi proses penetapan standar-standar situasi yang diciptakan oleh pandangan yang diterima luas bahwa angka-angka akuntansi mempengaruhi perilaku ekonomi dan konsekuensinya, aturan-aturan akuntansi harus ditetapkan dalam arena politis. Horngren menyatakan :

Sejak pembentukannya, FASB telah mengadopsi pendekatan deduktif dan kuasi-politis untuk merumuskan prinsip-prinsip akuntansi .  Perilaku FASB dapat ditandai dengan :

  • Adanya upaya untuk mengembangkan kerangka teoritis atau konstitusi akuntansi.
  • Timbulnya berbagai kelompok kepentingan, suatu konstribusi yang diperlukan bagi penerimaan “umum” standar yang baru.

Dengan demikian, proses penetapan standar memiliki aspek politis. Bahwa proses perumusan standar akuntansi menjadi bersifat politis dengan baik dinyatakan sebuah laporan yang diterbitkan oleh the Senate Sub Committee on Report Accounting and Management, berjudul The Accounting Establishment.

A4. Perkembangan Pembukuan Berpasangan

Metode Italia menyebar keseluruh Eropa pada abad ke enam belas dan tujuh belas, kemudian memiliki karakteristik dan perkembangan baru, menjadi model pembukuan berpasangan yang kita kenal sekarang.  Dalam upaya untuk menunjukkan bahwa model berpasangan telah berkembang dengan cara yang sangat mirip dengan ilmu pengetahuan yang lazim, Cushing menggambarkan secara garis besar rangkaian tahap- hap perkembangan sebagai berikut :

  1. Sekitar abad ke enambelas sedikit perubahan dibuat dalam teknik pemubukuan. Perubahan yang nyata adalah pengenalan jurnal khusus untuk mencatat tipe-tipe transaksi yang berbeda.
  2. Evolusi praktik laporan keuangan periodic terjadi pada abad enambelas dan tujuhbelas.  Pada masa tersebut juga terjadi evolusi personafikasi akun dan transaksi sebagai upaya untuk membuat aturan debit dan kredit menjadi masuk akal.
  3. Penerapan system berpasangan diperluas dalam tipe organisasi lain.
  4. Penggunaan akun sediaan yang terpisah untuk tipe barang yang berbeda terjadi dalam abad ke tujuh belas.
  5. Dimulia dengan East India company dalam abad ke tujuhbelas dan pertumbuhan korporasi yang berkelanjutan setelah revolusi industri, akuntansi memperoleh status yang lebih baik, dicirikan oleh kebutuhan akan akuntansi kos, dan suatu kepercayaan pada konsep kesinambungan (continuity), periodisasi (periodicity), dan akrual.
  6. Metode perlakuan asset tetap yang dikembangkan sebelum abad ke delapan belas.
  7. Sampai dengan awal ke sembilanbelas, depresiasi kekayaan, diperlakukan sebagai barang dagangan yang tidak terjual.  Dalam paruh ke dua dari abad ke sembilan belas, depresiasi dalam industri kereta api di pandang tidak perlu jika kekayaan tersebut tidak mengalami kondisi yang memburuk.  Meskipun tidak banyak digunakan, Saliero pada tahun 1915, membuktikan adanya metode depresiasi berikut garis lurus, metode menurun, sinking fund dan metode anuitas, dan metode kos unit.  Hanya setelah tahun 1930-an beban depresiasi menjadi sesuatu yang umum.
  8. Akuntansi Kos hadir dalam abad ke sembilanbelas sebagai akibat revolusi industri.  Akuntansi kos dimulai pada perusahaan-perusahaan tekstil abad lima belas.
  9. Perkembangan teknik akuntansi untuk pembayaran di muka dan akrual untuk memungkinkan dilakukan komputasi profit periodic terjadi pada paruh ke dua abad kesimbilanbelas.
  10. Perkembangan laporan dana terjadi pada paruh kedua abd kesembilan belas dan abad ke dua puluh.
  11. Pada abad ke duapuluh terjadi perkembangan metode-metode akuntnasi yang menyangkut isu-isu kompleks, dari masalah komputasi earning perlembar saham, akuntansi untuk komputasi bisnis, akuntansi untuk inflasi, sewa guna jangka panjang dan pensiun, sampai maslah akuntansi yang krusial untuk produk baru dari rekayasa keuangan.

Perkembangan Akuntansi dari Sistem Pembukuan Berpasangan Pada awalnya, pencatatan transaksi perdagangan dilakukan dengan cara sederhana, yaitu dicatat pada batu, kulit kayu, dan sebagainya. Catatan tertua yang berhasil ditemukan sampai saat ini masih tersimpan, yaitu berasal dari Babilonia pada 3600 sebelum masehi. Penemuan yang sama juga diperoleh di Mesir dan Yonani kuno. Pencatatan itu belum dilakukan secara sistematis dan sering tidak lengkap. Pencatatan yang lebih lengkap dikembangkan di Italia setelah dikenal angka- angka desimal arab dan semakin berkembangnya dunia usaha pada waktu itu. Perkembangan akuntansi terjadi bersamaan dengan ditemukannya sistem pembukuan berpasangan (double entry system) oleh pedagang- pedagang Venesia yang merupakan kota dagang yang terkenal di Italia pada masa itu. Dengan dikenalnya sistem pembukuan berpasangan tersebut, pada tahun 1494 telah diterbitkan sebuah buku tentang pelajaran penbukuan berpasangan yang ditulis oleh seorang pemuka agama dan ahli matematika bernama Luca Paciolo dengan judul Summa de Arithmatica, Geometrica, Proportioni et Proportionalita yang berisi tentang palajaran ilmu pasti. Namun, di dalam buku itu terdapat beberapa bagian yang berisi palajaran pembukuan untuk para pengusaha. Bagian yang berisi pelajaranpe mbukuan itu berjudul Tractatus de Computis et Scriptorio. Buku tersebut kemudian tersebar di Eropa Barat dan selanjutnya dikembangkan oleh para pengarang berikutnya. Sistem pembukuan berpasangan tersebut selanjutnya berkembang dengan sistemyang menyebut asal negaranya, misalnya sistem Belanda, sistem Inggris, dan sistem Amerika Serikat.

A5. Sejarah dan perkembangan Standar Akuntansi di Indonesia

Berikut adalah perkembangan standar akuntansi Indonesia mulai dari awal sampai dengan saat ini yang menuju konvergensi  dengan IFRS (Sumber: Ikatan Akuntan Indonesia, 2008).

  1. di Indonesia selama dalam penjajahanBelanda, tidak ada standar Akuntansi yang dipakai. Indonesia memakai standar (Sound Business Practices) gaya Belanda.
  2. sampai Thn. 1955 : Indonesia belum mempunyai undang – undang resmi / peraturan tentang standar keuangan.
  3. 1974 : Indonesia mengikuti standar Akuntansi Amerika yang dibuat oleh IAI yang disebut dengan prinsip Akuntansi.
  4. 1984 : Prinsip Akuntansi di Indonesia ditetapkan menjadi standar Akuntansi.
  5. Akhir Tahun 1984 : Standar Akuntansi di Indonesia mengikuti standar yang bersumber dari IASC (International Accounting Standart Committee)
  6. Sejak Tahun. 1994 : IAI sudah committed mengikuti IASC / IFRS.
  7. Tahun 2008 : diharapkan perbedaan PSAK dengan IFRS akan dapat diselesaikan.
  8. 2012 : Pengapdopsian IFRS dengan mengharmonikan pasal-pasal SAK yang diperlukan

B. Akuntansi Keuangan dan Standar Akuntansi Keuangan

B1. Pengertian Akuntansi

  • Menurut Horngern  (2000),  akuntansi  didefinisikan  sebagai  proses pencatatan, pengukuran dan penyampaian-penyampaian informasi ekonomi agar  dapat  dipakai  sebagai  dasar  pengambilan  keputusan  atau kebijaksanaan.
  • Menurut Sunyanto (1999), pengertian akuntansi itu adalah suatu tahapan proses  pengumpulan,  pengidentifikasian,  pencatatan,  penggolongan, peringkasan  dan  penyajian/pelaporan  dari  transaksi-transaksi  keuangan serta penafsiran hasilnya guna pengambilan keputusan.
  • Menurut AICPA  (American  Institute  of  Certified  Public  Accountant), akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian -kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
  • Menurut Kep. Men. Keu RI (NO. 476 KMK. 01 1991, Akuntansi adalah suatu proses  pengumpulan,  pencatatan,  penganalisaan,  peringkasan, pengklasifikasian  dan  pelaporan  transaksi  keuangan  dari  suatu  kesatuan ekonomi  untuk  menyediakan  informasi  keuangan  bagi  para  pemakai laporan yang berguna untuk pengambilan keputusan

B2. Ruang Lingkup Akuntansi

  1. Akuntansi Keuangan  :  bidang  ini  berhubungan  dengan  masalah pencatatan  transaksi  untuk  suatu  perusahaan  atau  organisasi  dan penyusunan berbagai laporan keuangan berkala dari hasil pencatatan.
  2. Akuntansi Biaya : bidang akuntansi yang menekankanpada penentuan dan pengendalian biaya  selama  proses  produksi  dan  harga  pokok  dari  barang yang selesai diproduksi.
  3. Akuntansi Manajemen  :  menggunakan  biaya  histori  taksiran  guna membantu manajemen didalam menjalankan kegiatan dan perencanaan
  4. Akuntansi Perpajakan : menekankan pada penyusunan laporan keuangan berdasarkan  peraturan  perpajakan  dan  perencanaan  transaksi  dengan mempertimbangkan  efek  pembayaran  pajak  (perncanaan  perpajakan  atau tax planning).
  5. Sistem Akuntansi  :  bidang  yang  menyangkut  masalah  perancangan prosedur,  metode,  dan  teknik  untuk  mencatat  dan  mengolah  transaksi perusahaan.
  6. Akuntansi pemerintahan  :  bidang  akuntansi  yang  menekankan  pada pencatatan  dan  pelaporan  transaksi  dari  lembaga  pemerintah  dengan peraturan yang mengikat lembaga-lembaga tersebut.

B3. Pihak Yang Berkepentingan Terhadap Informasi Akuntansi

Stakeholders: Pihak yang berkepentingan terhadap informasi akuntasi perusahaan :

Pihak Internal, Yaitu manajemen (stewardship): Memiliki  kendali  secara  langsung    terhadap  sistem  akuntansi  dan  dapat menentukan  informasi  apa  yang  dibutuhkan  dan  bagaimana  informasi  itu dilaporkan.

Pihak Eksternal:

  • Pemegang saham/pemilik/investor,
  • Kreditor,
  • Masyarakat (untuk perusahaan yang sudah go publik)
  • Pemerintah
  • Karyawan

B4. Pengertian Akuntansi Keuangan

Akuntansi  dapat  didefinisikan  secara  tepat  dengan  menjelaskan  tiga  karakteristik  penting  dari  akuntansi:  1)  Pengidentifikasian,  pengukuran  dan  pengkomunikasian informasi  keuangan  tentang  2)  entitas  ekonomi  kepada  3)  Pemakai  yang berkepentingan.

Akuntansi  keuangan  (financial  accounting)  adalah  sebuah  proses  yang  berakhir pada pembuatan laporan keuangan menyangkut perusahaan secara keseluruhan untuk digunakan oleh berbagai pihak baik internal maupun eksternal. Pemakai laporan keuangan meliputi investor, kreditur, manajer, serikat pekerja, dan  badan-badan pemerintah.

Terdapat  perbedaan  antara  Laporan  Keuangan  dan  Pelaporan  Keuangan.  Yang  dimaksud  dengan  Laporan  Keuangan  (financial  statement)  adalah  sarana pengkomunikasian informasi keuangan utama kepada pihak-pihak di luar korporasi.  Laporan  ini  berisi  tentang  sejarah  perusahaan  yang  dikuantifikasi  dalam  nilai moneter,  misalnya  Neraca,  Laporan  Laba  Rugi,  Laporan  Arus  Kas,  Laporan Perubahan Modal. Informasi  lain  selain  yang  dilaporkan  dalam  laporan  keuangan  dapat  disajikan melalui  Pelaporan  Keuangan  (financial  reporting),  misalnya  surat  Presiden Direktur, Prospektus, perkiraan manajemen, deskripsi mengenai dampak social, dll.

B5. Standar Akuntansi Keuangan

Menciptakan  metode  yang  seragam  untuk  menyajikan  informasi,  sehingga  laporan  keuangan  dari  berbagai  perusahaan  yang  berbeda  dapat  dibandingkan  dengan lebih mudah kumpulan konsep, standar, prosedur, metode, konvensi, kebiasaan dan praktik yang dipilih  dan  dianggap  berterima  umum  disebut:  Generally  Accepted  Accounting Principles (GAAP). Badan yang membuat standar akuntansi keuangan di Amerika Serikat: Financial  Accounting  Standard  Board  (FASB)  berdiri  tahun  1973  menggantikan American Principles Board  (APB) sebuah lembaga swasta yang bertanggung jawab untuk  pembentukan  standar  akuntansi  di  Amerika  Serikat.  Produk  FASB  adalah Publikasi  Pernyataan  Standar  Akuntansi  Keuangan  (Statements  of  Financial Accounting Standards).

Organisasi lain yang penting dalam pelaporan keuangan: SEC (Securities and Exchange Commision) dibentuk tahun 1934 dengan tugas utama mengatur penawaran dan perdagangan efek oleh perusahaan kepada masyarakat AICPA  (American  Institute  of  Certified  Public  Accounting)  merupakan  organisasi profesional dari para akuntan publik yang tersertifikasi Organisasi Profesi Akuntansi di Indonesia:

IAI (Ikatan Akuntan Indonesia), didirikan 23 Desember 1957. Bertujuan untuk:

  1. Mempertinggi mutu pekerjaan akuntan
  2. Membimbing perkembangan  akuntansi  dan  mempertinggi  mutu  pendidikan  akuntansi

IAI terdiri dari tiga seksi:

  1. IAI seksi  Akuntan  Publik,  yaitu  anggota  IAI  yang  berprofesi  sebagai  akuntan publik
  2. IAI seksi  Akuntan  Manajemen,  yaitu  anggota  IAI  yang  bekerja  dalam perusahaan, termasuk BUMN, Bank pemerintah dll
  3. IAI seksi Akuntan Pendidik, Yaitu anggota IAI yang berprofesi sebagai pendidik

Komite IAI:

  1. Komite Norma Pemeriksaan Akuntan
  2. Komite Kode Etik
  3. Komite Perpajakan

B6. Tujuan Laporan Keuangan

Menurut  SFAC  (Statement  of  Financial  Accounting  Concepts)    tujuan  pelaporan  keuangan adalah untuk menyediakan informasi:

  • yang berguna bagi investor dan kreditur saat ini atau potensial dan para pemakai lainnya untuk membuat keputusan investasi, kredit dan keputusan serupa secara rasional.
  • Untuk membantu  para  investor  dan  kreditur  saat  ini  atau  potensial  dan  para pemakai  lainnya  dalam  menilai  jumlah,  penetapan  waktu,  dan  ketidakpastian penerimaan  kas  prospektif  dari  dividen  atau  bunga  dan  hasil  dari  penjualan, penebusan atau jatuh tempo sekuritas atau pinjaman.
  • Tentang sumber  daya  ekonomi  dari  sebuah  perusahaan,  klaim  terhadap  sumber daya  tersebut  (kewajiban  perusahaan  untuk  mentransfer  sumber  daya  ke entitas lainnya dan ekuitas pemilik), dan pengaruh dari transaksi kejadian, serta situasi yang mengubah sumber daya perusahaan dan klaim pihak lain terhadap sumber daya tersebut.

Singkatnya, tujuan pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan:

  • informasi yang berguna bagi keputusan investasi dan kredit,
  • informasi yang berguna dalam menilai arus kas masa depan
  • informasi mengenai  sumber  daya  perusahaan,  klaim  terhadap  sumber  daya tersebut, dan perubahan didalamnya.

B7. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Menurut IAI

Menurut Ikatan Akuntan Indonesia, Laporan Keuangan memiliki empat karakteristik kualitatif pokok, yakni:

  • Dapat Dipahami

Informasi  yang  berkualitas  adalah  informasi  yang  dengan  mudah  dan  segera dapat dipahami oleh pemakainya.

  • Relevan

Informasi  memiliki  kualitas  relevan  apabila  dapat  mempengaruhi  keputusan ekonomi  pemakainya. Relevansi informasi bermanfaat dalam peramalan dan penegasan.

  • Keandalan

Informasi memiliki kualitas andal apabila bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus/jujur  dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan.

  • Dapat Dibandingkan

Pemakai  harus  dapat  membandingkan  Laporan  Keuangan  perusahaan antarperiode  untuk  mengidentifikasi  kecenderungan  posisi  dan  kinerja perusahaan.

Pemakai juga harus dapat membandingkan Laporan Keuangan antar perusahaan untuk  mengevaluasi  posisi  keuangan,  kinerja  serta  perubahan  posisi  keuangan secara relatif.

B8. Asumsi dan Konsep Dasar Prinsip Akuntansi

Asumsi

  1. Kesatuan Usaha Khusus (Separate/Economic Entity)

Asumsi ini mengandung arti bahwa perusahaan dipandang sebagai sebuah unit usaha yang berdiri sendiri terpisah dari pemiliknya dan dari kesatuan usaha lainnya dimana akuntansi itu berada. Artinya akuntansi hanya akan melaporkan aktivitas ekonomis yang dialami perusahaan itu sendiri bukan melaporkan aktivitas ekonomi pemiliknya sehingga ada pemisahan yang jelas antara perusahaan dengan pemiliknya.

  1. Kontinuitas Usaha (Going Concern/Continuity)

Asumsi  ini  mengandung  arti  bahwa  setiap  perusahaan  akan  memiliki  umur  yang panjang atau tidak akan dilikuidasi di masa yang akan datang untuk memenuhi tujuan dan komitmen mereka, meskipun pada kenyataannya umur perusahaan adalah tidak pasti berapa lama.

Asumsi  ini  berpengaruh  terhadap  prinsip  penilaian  atas  pos  pos  l aporan  keuangan misalnya  aset  dimana  aset  umumnya  dinilai  dengan  menggunakan  prinsip  biaya historis daripada menggunakan nilai likuidasi.

Asumsi ini tidak akan berlaku jika suatu entitas usaha didirikan dengan batasan umur yang telah ditetapkan.

  1. Penggunaan unit moneter dalam Pencatatan (Monetary unit)

Asumsi ini mengandung arti bahwa setiap transaksi yang terjadi akan dicatat dengan  menggunakan  satuan  uang  (unit  moneter)  meskipun  dapat  dicatat  dengan menggunakan  satuan  ukuran  yang  lain.  Unit  moneter  yang  digunakan  adalah  mata uang dari Negara dimana perusahaan itu berdiri.

  1. Periode Waktu (Time Period/Periodicity)

Asumsi ini menyatakan bahwa laporan keuangan harus disusun dan disajikan secara  periodik. Asumsi ini diterapkan karena perusahaan dianggap berope rasi secara terus menerus  dalam  jangka  waktu  yang  tidak  terbatas.  Kalau  ada  pihak  pihak  yang membutuhkan  informasi  mengenai  posisi  keuangan  dan  kinerja  perusahaan, sebetulnya  cara  yang  paling  akurat  adalah  dengan  menghentikan  aktivitas  operasi perusahaan tersebut dalam jangka waktu tertentu. Cara  ini  tentu  saja  tidak  mungkin  dilakukan,  mengingat  pihak  pihak  yang membutuhkan  informasi  tadi  harus  segera  dipenuhi  untuk  membuat  keputusan. Untuk  itu  aktivitas  ekonomi  sebuah  perusahaan  harus  dapat  dipisahkan  ke  dalam periode  waktu  yang  ditetapkan  batasannya,  misalnya  tahunan,  semesteran  atau bulanan.  Oleh  karena  itu  akuntansi  atau  laporan  keuangan  dapat  disusun  dan disajikan secara periodik untuk memberikan informasi baik posisi keuangan maupun kinerja perusahaan.

Dalam  Kerangka  Dasar  Penyusunan  dan  Penyajian  Laporan  Keuangan  (IAI,  2004) menetapkan dua asumsi dasar yaitu:

  1. Dasar Akrual

Asumsi ini mengandung arti bahwa pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan  dicatat  dalam  catatan  akuntansi  serta  dilaporkan  dalam  laporan  keuangan pada periode bersangkutan.

  1. Kelangsungan Usaha

Asumsi ini memiliki arti bahwa perusahaan diasumsikan akan beroperasi terus di masa depan tanpa batasan, tidak bermaksud atau berkeinginan melikuidasi atau mengurangi secara material skala usahanya. Jika maksud atau keinginan tersebut timbul, laporan keuangan mungkin harus disusun dengan dasar yang berbeda dan dasar yang digunakan harus diungkapkan.

Konsep Dasar

  1. Prinsip biaya historis (historical cost principle)

Prinsip  ini  menghendaki  digunakannya  harga  perolehan  dalam  mencatat  aktiva, hutang,  modal  dan  biaya.  Harga  perolehan  adalah  harga  pertukaran  yang  disetujui oleh kedua belah pihak yang melakukan suatu transaksi.

  1. Prinsip pengakuan pendapatan (Revenue recognition principle)
  • Besarnya pendapatan  ditentukan  oleh  jumlah  kas/ekuivalennya  yg  diterima  dari transaksi penjualan
  • Untuk penjualan  barang  atau  jasa,  pendapatan  diakui  pada  saat  penyerahan barang/jasa.
  • untuk barang pada saat produksi selesai, masa produksi dan saat kas diterima
  1. Prinsip mempertemukan (Matching principle)

Mempertemukan biaya dan pendapatan yg timbul dari biaya tersebut.

  1. Prinsip konsistensi (Consistency principle)

Metode  dan  prosedur  yang  digunakan  harus  diterapkan  secara  konsisten  dari tahun ke tahun.

  1. Prinsip pengungkapan lengkap (Full disclosure)

Menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan.

Referensi Pada Bahasan Yang Penulis Gunakan :

Baridwan, Zaki. 2004. Intermediate Accounting. Edisi Kedelapan. BPFE-Yogyakarta.

Gamayuni, Rindu Rika. 2009. Perkembangan Standar Akuntansi Indonesia Menuju International Financial Reporting                                 Standards. Universitas Lampung : Bandar Lampung

Ikatan Akuntan Indonesia. 2008. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat. Jakarta.

Kieso,  E  Donald.  Weygandt,  J  Terry  dan  Warfield,  D  Terry.  2002.  Akuntansi Intermediate. Edisi kesepuluh. Jilid 1.                           Erlangga, Jakarta.

Kieso,  E  Donald.  Weygandt,  J  Terry  dan  Warfield,  D  Terry.  2007.  Akuntansi Intermediate. Edisi keduabelas. Jilid 2.                         Erlangga, Jakarta.

Sa’adah, Siti. 2012. Sejarah Perkembangan Teori, Ilmu Akuntansi dan Perkembangan Pembukuan Berpasangan. Universitas                  Muhammadiyah : Surakarta

Daftar Refernsi Lain Yang Bisa Dipakai :

  • Kieso, Donald E.; Jery J. Weygandt; Tery D. Warfield. 2005 (Atau yang terbaru). Intermediate Accounting. 11st. Edition. USA: John Wiley & Sons.
    • Bab: Financial Accounting and Accounting Standard
  • Yunus, Hadori. 1988. Accountancy Development in Indonesia: Publication No. 1. History of Accounting in Developing Nation: The Case of Indonesia. Birmingham: Tim Koordinasi Pengembangan Akuntansi
    • Chapter: 2 Before Indonesian Independence
    • Chapter: 3 After Indonesian Independence
  • Suhardjanto, Djoko. 1997. Sejarah & Perkembangan Teori Akuntansi. Makalah Seminar Akademis Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tidak dipublikasi. Sabtu, 29 November 1997.
  • Abs, G; C Grimstad; R Way; W A Howe; W La Place; F J McGurr; danW Serraino. 1954. Historical Dates in Accounting. The Accounting Review.
  • Hendriksen, Eldon S. Dan Michael E. Van Breda. 2001. Accounting Theory. McGraw-Hill.
    • Chapter: 2