Tags

,

TEORI AKUNTANSI

“FILSAFAT SEBAGAI DASAR METODOLOGI PENELITIAN”

Perkembangan penelitian dibidang akuntansi telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini dapat dilihat dari beberapa artikel yang muncul dibeberapa jurnal ilmiah akuntansi seperti The Accounting Review, Journal of Accounting Research, Accounting, Organization. Artikel-artikel hasil penelitian yang muncul di jurnal-jurnal tersebut menggunakan berbagai variasi pendekatan yang berbeda satu sama lain. Nampaknya ada pergeseran yang cukup tajam dari pendekatan klasikal atau sering disebut dengan mainstream approach atau positivism ke pendekatan yang lebvih radikal yaitu dengan meminjam berbagai metodologi ilmu pengetahuan social yang lain. Pendekatan yang kedua ini sering disebut dengan pendekatan alternative. Bab ini akan mencoba menjelaskan dasar filosofi masing-masing pendekatan yang telah diuraikan diatas. Dengan memahami dasar filosofinya kita akan menjadi jelas kelebihan dan kekurangan masing-masing pendekatan tadi.

  1. PERGESERAN ARAH PENELITIAN

Pendekatan klasikal yang lebih menitikberatkan pada pemikiran normative mengalami masa kejayaannya pada tahun 1960-an. Dalam tahun 1970-an terjadi pergeseran pendekatan dalam penelitian akuntansi. Alasan yang mendasari pergeseran ini adalah bahwa pendekatan normative yang telah Berjaya selama satu decade tidak dapat menghasilkan teori akuntansi yang siap dipakai didalam praktek sehari-hari. Desain sistem akuntansi yang dihasilkan dari penelitian normatof dalam kenyataannya tidak dipakai didalam praktek. Sebagai akibatnya muncul anjuran untuk memahami secara deskriptif berfungsinya sistem akuntansi didalam praktek nyata. Harapannya dengan pemahaman dari praktek langsung akan muncul desain sistem akuntansi yang lebih berarti.

Alasan kedua yang mendasari usaha pemahaman akuntansi secara empiris dan mendalam adalah adanya “move” dari komuniti peneliti akuntansi yang menitikberatkan pada pendekatan ekonomi dan perilaku (behavior). Perkembangan financial economics dan khususnya munculnya hipotesis pasar yang efisien (efficient market hypothesis) serta teori keagenan (agency theory) telah menciptakan suasana baru bagi penelitian empiris manajemen dan akuntansi. Beberapa pemikir akuntansi dari Rochester dan Chicago mengembangkan apa yang disebut dengan Positive Accounting Theory yang menjelaskan why accounting is, what is it, why accountants do what they do, dan apa pengaruh dari fenomena ini terhadap manusia dan penggunaan sumber daya (Jensen, 1976).

Pendekatan normative maupun positif hingga saat ini masih mendominasi dalam penelitian akuntansi. Artikel- artikel yang terbit di jurnal The Accounting Perview maupun Journal of Accounting Research, Journal of Bussiness Research hamper semuanya menggunakan pendekatan mainstream dengan cirri khas menggunakan model matematis dan pengujian hipotesis, Walaupun pendekatan mainstream masih mendominasi penelitian manajemen dan akuntansi hingga saat ini, sejak tahun 1980-an telah muncul usaha-usaha baru untuk menggoyang pendekatan mainstream. Pendekatan ini pada dasarnya tidak mempercayai dasar filosofi yang digunakan oleh pengikut pendekatan mainstream. Sebagai gantinya mereka meminjam metodologi dari ilmu-ilmu social yang lain seperti filsafat, sosiologi, antropologi untuk memahami akuntansi.

  1. KLASIFIKASI METODOLOGI PENELITIAN

Untuk memudahkan memahami dasar filosofi pendekatan penelitian akuntansi, akan digunakan kerangka pengelompokkan yang dikembangkan oleh Burrell dan Morgan (1979) yang mereview dan mengelompokkan penelitian dalam bidang ilmu organisasi menurut teori yang melandasi dan anggapan-anggapan filosofisnya. Pengelompokkan ini akan dipakai untuk mengelompokkan dan mereview penelitian-penelitian yang berhubungan dengan aspek-aspek social dan organisasi manajemen dan akuntansi.

Kerangka Burrell dan Morgan disusun dari dua dimensi independen berdasar atas anggapan-anggapan dari sifat ilmu social dan sifat masyarakat. Dimensi ilmu social dibagi menjadi empat elemen yang saling berhubungan yaitu anggapan tentang ontology, epistemology, aksiologi, sifat manusia, dan metodologi.

Ontologi ialah cabang metafisika mengenai realitas yang berusaha mengungkapkan cirri-ciri segala yang ada, baik cirri-ciri yang universal, maupun yang khas. Jadi landasan ontologism suatu pengetahuan mengacu kepada apa yang digarap dalam penelaahannya; dengan kata lain apa yang hendak diketahui melalui kegiatan penelaahan itu.

Epistemologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki secara kritis hakekat, landasan, batas-batas dan patokan kesahihan (validitas)_pengetahuan. Ia lebih mendasar daripada metodologi. Karena itu asumsi-asumsi epistemologis suatu bentuk pengetahuan tercermin pada metodologi yang diterapkan dalam pengembangan pengetahuan tersebut. Landasan epistemologis menentukan cara-cara yang dipakai untuk memperoleh dan memvalidasi pengetahuan.

Aksiologi ialah telaah tentang nilai-nilai, sedangkan teologi telaah tentang tujuan pemanfaatan pengetahuan. Landasan akiologis/teologis mengacu pada nilai0nilai yang dipegang dalam menentukan pengembangan, memilih dan menentukan prioritas bidang penelitian, dan menerapkan serta memanfaatkan pengetahuan.

Ontologi berhubungan dengan sifat dari realitas. Pada satu sisi social world dan strukturnya dapat dipandang memiliki keberadaan secara empiris dan konkret diluar serta terpisah dari individu yang ingin mempelajarinya. Pada sisi lain, keberadaan suatu realitas merupakan produk dari kesadaran individual-sosial world terdiri dari konsep dan label-label yang diciptakan oleh manusia untuk membantu memahami realitas.

Epistemologi berhubungan dengan sifat dari ilmu pengetahuan – apa bentuknya dan bagaimana mendapatkannya serta menyebarkannya. Pada satu sisi ilmu pengetahuan dianggap dapat diperoleh lewat observasi dan disusun secara sepotong-sepotong. Pada satu sisi ekstrim yang lain, ilmu pengetahuan dapat dikaitkan dengan unsure subjektif dan bersifat personal-social world, yang hanya dapat dipahami dengan cara pertama-tama mendapatkan ilmu pengetahuan dari subjek yang sedang diinvestigasi.

Anggapan tentang sifat manusia menunjuk pada hubungan antara manusia dengan lingkungannya. Perilaku manusia dan pengalaman-pengalamannya ditentukan dan dibatasi oleh lingkungannya. Pada sisi yang lain, manusia dapat dipandang memiliki otonomi dan kebebasan, dan mampu menciptakan lingkungan yang dikehendakinya.

Beberapa anggapan diatas memiliki pengaruh langsung terhadap metodologi yang ingin dipilih. Jika social world diperlakukan seperti dunia fisik atau dunia natural, maka metode-metode dari ilmu alam dapat digunakan untuk menjelaskan dan meramalkan pola dan keteraturan masyarakat. Analissi statistic sering digunakan untuk menguji hipotesis dan untuk menganalisis data yang dikumpulkan dengan kuesioner dan survey. Sebaliknya, jika kita menitikberatkan pada pengalaman subjektif individu dan penciptaan social world, maka metode yang dipilih adalah metode yang bisa mengamati secara langsung individual’s inner world. Sebagai contoh participant observation, interview secara mendalam.

Oleh Burrell dan Morgan (1979) anggapan tentang ilmu pengetahuan ini dikelompokkan menjadi dimensi objektif-subjektif. Pada sisi objektif menitik beratkan pada sifat objektif dari realitas, ilmu pengetahuan dan perilaku manusia. Sedang pada sisi yang lain menitikberatkan pada sifat subjektif dari realitas, ilmu pengetahuan dan perilaku manusia.

Pada dimensi yang lain, ada dua alternative pendekatan terhadap keberadaan masyarakat. Pertama berkaitan dengan keteraturan, order, dan stabilitas yang digunakan untuk menjelaskan mengapa masyarakat cenderung untuk selalu dalam kebersamaan. Kedua, lebih menitikberatkan pada pembagian mendasar dari kepentingan, konflik dan ketidakadilan distribusi kekuasaan yang pada gilirannya menimbulkan perubahan radikal. Kedua dimensi yang independen ini digabung membentuk kerangka klasifikasi metodologi penelitian manajemen dan akuntansi : fungsionalis atau positivis, interpretive, radikal humanis, dan radikal strukturalis.

Pendekatan mainstream masuk dalam kelompok ini. Pendekatan mainstream mempercayai adanya realitas fisik yang objektif dan terlepas dari manusia. Apa yang ada “diluar sana” (objek) dianggap independen dari subjek yang ingin mengetahuinya, dan ilmu pengetahuan diperoleh apabila subjek menemukan realitas objektif ini. Oleh karena perbedaan objek-subjek ini, individu atau peneliti manajemen dan akuntansi tidak menciptakan realitas disekelilingnya.

Manusia tidak dipandang sebagai pencipta realitas social mereka. Manusia dianalisis sebagai kesatuan yang secara pasif digambarkan dengan cara yang objektif. Pandangan seperti ini tercermin dari hasil penelitian akuntansi seperti contingency theory of management accounting (Govindarajan,1984; Hayes,1988; Khandwalla,1972), information-processing mechanism (Libby,1975), efficient capital market research (Ball and Brown,1968). Semua teori ini muncul dalam rangka usaha untuk menemukan realitas objektif.

Anggapan adanya objek yang terpisah dari subjek membawa konsekuensi adanya pembedaan antara observasi dan teori yang digunakan untuk menggambarkan realitas empiris. Ada observasi terhadap dunia nyata yang terpisah dari teori, dan observasi tersebut digunakan untuk menguji validitas ilmiah dari teori. Didalam filsafat, pengujian empiris ini dinyatakan dalam dua cara (Chua,1986) :

  • Dalam pandangan aliran positivis ada teori dan seperangkat pernyataan hasil obsercasi independen yang digunakan untuk membenarkan atau memverifikasi kebenaran teori.
  • Dalam pandangan Popperian karena pernyataan hasil observasi merupakan teori dependent dan fallible, maka teori-teori ilmiah tidak dapat dibuktikan kebenarannya tetapi memungkinkan untuk ditolak (falsified)

Walaupun terdapat dua cara dalam pengujian empiris yaitu apakah teori itu “verified” atau “falsified”, tampaknya para peneliti manajemen dan akuntansi menggunakan cara pertama yaitu dengan metode hypothetico-deductive untuk menjelaskan ilmiah tidaknya suatu penelitian. Suatu penjelasan dikatakan ilmiah apabila memenuhi tiga komponen. Pertama, harus memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip umum atau hukum. Kedua, harus ada pra-kondisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataan-pernyataan hasil observasi. Ketiga, harus ada satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang sedang dijelaskan. Hypothetico-deductive dapat dijelaskan sebagai berikut :

Premis I (Hukum Universal)   : Suatu lingkungan yang kompetitif selalu mengakibatkan penggunaan lebih dari satu jenis management accounting control.

Premis II (Pra Kondisi)           : Perusahaan A menghadapi lingkungan yang kompetitif.

Konklusi (Explanandum)        : Perusahaan A menggunakan lebih dari satu jenis management accounting control.

Pendekatan mainstream juga beranggapan bahwa keberadaan masyarakat selalu dapat dikendalikan. Misalnya, adanya konflik tujuan antara principal dan agen dalam teori agency dan konflik diantara departemen fungsional, semuanya diakui oleh pendektana mainstream dan hal ini dianggap bisa dikendalikan oleh manajemen. Adalah tugas manajer untuk menghindari munculnya konflik-konflik ini melalui desain sistem pengendalian manajemen yang tepat seperti anggaran dan biaya standar. Adanya konflik dipandang sebagai perilaku dysfunctional dalam hubungannya dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. Pendekatan mainstream menganggap bahwa organisasi dan pasar bebas (free market) memiliki kecenderungan untuk mencapai kestabilan masyarakat.

Interpretive

Pendekatan interpretive berasal dari filsafat Jerman yang menitikberatkan pada peranan bahasa, interpretasi dan pemahaman didalam ilmu social. Pendekatan ini memfokuskan pada sifat subjektif dari social world dan berusaha memahaminya dari kerangka berfikir objek yang sedang dipelajarinya. Jadi fokusnya pada arti indivdu dan persepsi manusia pada realitas bukan pada realitas, independen yang berada diluar mereka. Manusia secara terus-menerus menciptakan realitas social mereka dalam rangka berinteraksi dengan yang lain (Schutz, 1976). Tujuan pendekatan interpretive tidak lain adalah menganalisis relatias social semacam ini dan bagaimana realitas social tersebut terbentuk.

Metodologi penelitian yang berdasar pada desain eksperimental dan statistical surveys yang memperlakukan social world adalah objektif dan terukur sehingga tidak sesuai dengan dasar filosofi pendekatan interpretive. Metode kualitatid lebih cocok untuk pendekatan interpretive. Manfaat haisl-hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mainstream accounting terhadap  praktek dunia usaha telah banyak dipertanyakan oleh beberapa akademisi. Bahkan komite “schism” dari the American Accounting Association pada tahun 1977-1978 meragukan apakah para akademis dan praktisi akuntansi benar-benar memahami artikel-artikel yang dipublikasikan di Journal of Accounting Research dan The Accounting Review. Penelitian yang dilakukan oleh Bourne et al (1983) menunjukkan bahwa para peneliti akuntansi hanya tahu sedikir tentang akuntansi dalam praktek nyata, bagaimana interaksinya dengan proses organisasi yang lain, dan bagaimana kontribusinya terhadap efektivitas organisasi.

Atas dasar alasan inilah muncul permintaan akan penggunaan pendekatan interpretive dalam melakukan penelitian dengan memberi tekanan pada persepsi dan penjelasan yang diberikan oleh partisipan. Harapannya akan didapatkan pemahaman akuntansi yang lebih baik. Disamping itu dengan munculnya research questions dari proses penelitian diharapkan masalah yang diteliti dapat didekati secara nyata.

Radical Humanis dan Strukturalis

Dibandingkan dengan pendekatan fungsional dan interpretive, pendekatan radical memandang masyarakat terdiri dari elemen-elemen yang saling bertentangan satu sama lain dan diatur oleh sistem kekuasaan yang pada gilirannya menimbulkan ketidakadilan dan keterasingan (alienation) dalam segala aspek kehidupan. Pendekatan ini berhubungan dengan pengembangan pemahaman akan dunia social dan ekonomi (social and economic world) dan juga membentuk kritik terhadap status quo. Dengan menerima ideology yang dominan dan tidak mempertanyakan hakekat dasar dari kapitalisme, pendekatan fungsional dan interpretive dipandang mempertahankan dan melegitimasi tatanan social, ekonomi, dan politik yang ada saat ini. Oleh sebab itu teori akuntansi tradisional dipandang menerima kerangka acuan manajerial dan mendukung status quo. (Cooper. 1983; Tinker et al, 1982).

Tema sentral dari pendekatan radikal adalah sifat dan prinsip organisasi suatu masyarakat secara keseluruhan tercermin dan terbentuk oleh setiap aspek dari masyarakat itu. Radikal strukturalis memfokuskan pada konflik mendasar sebagai produk hubungan antara struktur industry dan ekonomi, seperti surplus value, hubungan kelas, struktur pengendalian. Sementara itu Radikan Humanis menitikberatkan pada kesadaran individu, keterasingan manusia, dan bagaimana kedua hal ini didominasi oleh pengaruh ideology. Perbedaan antara radikal strukturalis dan humanis terletak pada dimensi objektif – subjektif. Radikan strukturalis memperlakukan social world sebagai objek eksternal dan memiliki hubungan yang terpisah dari manusia tertentu, sementara itu radikal humanis memfokuskan pada persepsi individu dan interpretasi-interpretasinya.

  1. PENDEKATAN MAINSTREAM ATAU POSITIVIS

Dominasi pendekatan positivisme sampai saat ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan filsafat ilmu sejak abad 17 dengan munculnya pertentangan antara rasionalisme dan empirisme. Kaum rasionalis menegaskan bahwa dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal manusia kita dapat menemukan pengetahuan dalam arti yang paling ketat, yaitu pengetahuan yang dalam arti apapun tak mungkin salah. Pengetahuan yang pasti secara mutlak tidak dapat ditemukan hanya dengan pengalaman inderawi dan itu harus dicari dalam alam pikiran (in the realm of the mind).

Sebagai reaksi teori rasionalis timbul teori empiris. John Locke, Berkeley dan David Hume berharap menemukan suatu basis untuk pengetahuan kita dari pengalaman inderawi, tetapi mereka menemukan bahwa pengalaman inderawi menghasilkan informasi tentang dunia jauh kurang daripada yang mereka harapkan (dikutip oleh Alson Taryadi, 1991). Hume lebih jauh menyatakan bahwa pandangan kita mengenai apa yang terjadi disekitar kita semata-mata diakibatkan oleh konstitusi psikologis yang aneh dari makhluk manusia. Apa yang menurut anggapan kita merupakan pengetahuan tidak lain hanyalah suatu cara mengatur pengalaman yang tersodor kepada kita.

Pandangan Hume telah mengilhami dua macam perkembangan. Pertama, penyempurnaan teori empiris. Kedua, usaha mencari suatu cara untuk memodifikasi kesimpulan-kesimpulan agar dapat mengembangkan suatu teori kompromi yaitu menerima tuntutan kaum empiris dan mencoba menyelamatkan beberapa unsure dari teori rasionalis. Golongan filsuf yang berusaha menggabungkan empirisme dengan rasionalisme adalah apa yang seing disebut positivisme. Ada dua epistemology kaum positivis yang selalu dikaitkan dengan metodologi penelitian akuntansi yaitu Logical Empiricism/ Logical Positivism dan Flsifikasionism yang selanjutnya dikembangkan lagi menjadi teori sebagai suatu struktur oleh Thomas Kuhn dan Imre Lakatos, dan Anarki Epistemologi menurut Paul Feyeraband.

Induktivisme

Menurut Chalmers (1991) selama tahun 1920-an positivism telah berkembang mnejadi filsafat ilmu dalam bentuk positivism logis (logical positivism). Kelompok ini dikembangkan oleh Lingkaran Vienna (Vienna Circle) yang merupakan kelompok ilmuwan dan filosof yang dipimpin oleh Morizt Schlick. Logical positivism menerima doktrin utama “verification theory of meaning yang dikembangkan oleh Wittgenstein. Teori verifikasi menyatakan bahwa pernyataan atau proporsi memiliki arti hanya jika mereka dapat memverifikasi secara empiris. Kriteria ini digunakan untuk membedakan antara pernyataan scientific (meaningful) dan pernyataan metafisis (meaningless).

Wujud interpretasi induktif, logical positivism menganggap bahwa hipotesis harus dibuktikan (confirmed) dengan penelitian. Atas dasar pendekatan ini, teori dikembangkan berdasarkan suatu masalah yang harus dipecahkan. Setelah masalah ditentukan, masalah tersebut dinyatakan dalam bentuk hipotesis, yaitu pernytaan yang menunjukkan antara dua fenomena/variable atau lebih. Apabila hipotesis telah dirumuskan, peneliti akan membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Metode pembuktiannya adalah dengan cara membandingkan hipotesis tersebut dengan hasil observasi yang dilakukan didunia nyata. Jika hasil pengamatan didunia nyata sesuai dengan hipotesis, maka hipotesis tersebut terbukti kebenarannya sehingga terbentuk suatu teori.

Proses pengambilan kesimpulan umum (universal) yang didasarkan pada hasil observasi dinamakan induksi. Pemakaian induksi untuk membuat suatu kesimpulan umum dapat diterima kebenarannya jika kondisi tertentu dipenuhi. Kondisi tersebut adalah (Chalmers, 1978) :

  • Jumlah observasi banyak
  • Observasi harus diulang pada kondisi yang luas (berbeda-beda)
  • Hasil observasi tidak ada yang bertentangan dengan teori universal yang dihasilkan

Apabila kondisi tersebut tidak dipenuhi, maka kesimpulan yang dihasilkan menjadi tidak valid.

Dalam perkembangannya, logical positivism mengalami masalah induksi. Menurut logical positivism suatu pernyataan scientific dinyatakan benar jika mereka dapat dibuktikan secara empiris – padahal tidak ada jumlah tes empiris yang pasti (jumlah observasi harus seberapa banyak) akan menjamin kebentaran suatu pernyataan universal. Oleh sebab itu inferensi induktif tidak dapat dibenarkan hanya atas dasar logika.

Untuk mengatasi masalah logical positivism. Carnap mengembangkan positivism yang lebih moderat dan sering disebut dengan Empirisme Logis. Pandangan ini mendominasi pemikiran selama 20 tahun dan mengalami penurunan dalam tahun 1960-an walaupun pengaruhnya masih sangat kuat sampai saat ini. Carnap mengganti konsep verifikasi dengan konfirmasi yang makin meningkatkan secara gradual. Menurut Carnap jika verifikasi berarti “complete and definitive establishment of truth”, maka pernyataan universal atau teori tidak akan pernah dapat diverifikasi, tetapi mungkin dapat dikonfirmasi melalui keberhasialan tes-tes empiris.

Empirisme logis memiliki cirri menggunakan metode statistic induktif dan pandangan ini beranggapan bahwa ilmu berawal dari observasi dan teori pada akhirnya dibenarkan lewat akumulasi observasi yang memberikan dukungan pada konklusi. Seperti halnya positivism logis, empirisme logis juga menghadapi masalah yaitu : Pertama, observasi selalu berkaitan dengan kesalahan pengukuran dan Kedua, bahwa suatu teori tergantung dari observasi dan observasi selalu di interpretasikan dalam konteks pengetahuan sebelumnya.

Falsifikasionisme (Falsificasionism)

Pendekatan falsifikasi dikembangkan oleh Karl Popper, yang tidak puas dengan pendekatan induktif. Menurut Popper, tujuan penelitian ilmiah adalah untuk membuktikan kesalahan (falsify) hipotesis, bukannya membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Oleh karena itulah pendekatan ini dinamakan falsifikasionisme. Untuk mengatasi masalah yang dihadapi empirisme logis, Karl Popper menawarkan metode alternative untuk menjustifikasi suatu teori.

Popper menerima kenyataan bahwa observasi selalu diawali oleh suatu sistem yang diharapkan. Proses ilmu pengetahuan berawal dari observasi yang berbenturan dengan teori yang ada atau prakonsepsi (preconception). Jika hal ini terjadi, maka kita dihadapkan pada masalah ilmu pengetahuan. Teori kemudian diajukan untuk memecahkan masalah ini dan hipotesis diuji secara empiris yang tujuannya untuk menolak hipotesis. Jika peramalan teori ini disalahkan (falsify), maka teori tersebut ditolak. Teoir yang tahan uji dari falsifikasi dikatakan bahwa teori itu kuat dan diterima sementara sebagai teori yang benar.

Dengan kata lain, teori menurut pendekatan ini adalah hipotesis yang belum dibuktikan kesalahannya. Teori bukanlah sesuatu yang benar atau factual, tetapi sesuatu yang belum terbukti salah. Jika suatu teori diterima, maka teori tersebut harus menyajikan hipotesis yang mungkin dapat dibuktikan kesalahannya. Dengan kata lain, hipotesis yang tidak dapat dibuktikan salah dengan cara observasi, maka akan dihasilkan teori yang tidak valid. Menurut falsifikasionisme ilmu berkembang secara pandangan (conjecture) dan penolakan (refutation) atau secara trial and error. Tujuan ilmu adalah memecakan masalah. Pemecahan masalah tadi diwujudkan dalam teori yang mungkin akan disalahkan secara empiris. Teori yang bertahan dan tidak dapat disalahkan akan diterima secara tentative untuk memecahkan masalah.

  1. TEORI SEBAGAI STRUKTUR

Apabila diamati secara empiris bahwa perkembangan suatu teori ternyata sangat komplek dan rumit dan tidak sesederhana yang digambarkan oleh pandangan kaum induktifis dan falsifikasionis. Dengan hanya memusatkan perhatian pada hubungan antara teori dengan keterangan observasi, mereka gagal memperhitungkan kompleksitas yang terdapat dalam teori ilmiah. Baik penekanan kaum induktivis yang menarik teori secara induktif dari hasil observasi, maupun cara kaum falsifikasionis yang melakukan dugaan dan falsifikasi, tidak mampu mengkarakterisasi dengan memadai asal mula dan pertumbuhan teori-teori yang komplek secara realistis. Perumusan yang lebih layak seyogyanya memandang suatu teori sebagai suatu struktur yang utuh.Dua orang filosof yang mengajukan teori sebagai suatu struktur adalah Imre Lakatos (1974) dengan teorinya Riset Program dan Thomas Kuhn (1972) dengan teorinya yang sangat terkenal Paradigma dan Revolusi.

Riset Program Imre Lakatos

Konsep Lakatos tentang “Research programme” beralih dari teori tunggal. Teori dipandang sebagai sebuah struktur yang terdiri dari asumsi-asumsi dasar, dan seperangkat hipotesis tambahan (Auxilary hypothesis) yang khusus didesain untuk melindungi inti teori dari falsifikasi (penolakan). Struktur seperti ini memberikan arahan riset kedepan. Dengan teorinya ini Lakatos percaya bahwa dia menawarkan “a new rational reconstruction of science”. Dia percaya bahwa perkembangan suatu ilmu tidak dapat dinilai oleh teori yang terisolasi, tetapi oleh berbagai teori. Teori riset program menurut Lakatos akan terdiri dari : hardcore dan negative heuristic, a protective belt of auxiliary hypothesis, positive heuristic, dan elemen-elemen yang menunjukkan perkembangan atau kemunduran suatu program.

  • Hard Core dan Negative Heuristic

Hard Core merupakan komponen inti dari riset program yang berisi asumsi-asumsi dasar dari riset program. Asumsi-asumsi ini berisi definisi karakterisrik dari program dari berupa hipotesis teoritis secara umum sebagai dasar pengembangan program. Asumsi ini harus diterima untuk melaksanakan riset program dan asumsi ini tidak dapat ditolak atau difalsifikasi. Kesepakatan oleh anggota riset program untuk tidak mempertanyakan hardcore ini disebut “negative heuristic”. Hard core tidak boleh ditolak atau dimodifikasi selama pengembangan program tersebut berlangsung.

  • Protective Belt of Auxilary Hypotheses

Hard core dari riset program tidak dapat dialsifikasi dan dilindungi pula oleh “negative heuristic” mereka juga dikelilingi oleh seperangkat asumsi tambahan yang oleh Lakatos disebut “protective belt of auxiliary hypotheses” Hipotesis tambahan inilah yang perlu mengalami penyesuaian-penyesuaian untuk melindungi hard core.

  • Positive Heuristic

Berlawanan dengan “negative heuristic”, “positive heuristic” merupakan bagian dari riset program yang memberikan arahan bagaimana ilmuwan bekerja di sekeliling protective belt of auxiliary hypotheses. “Positive Heuristic” mendefinisikan masalah, pembentukan hipotesis tambahan, dan melihat anomaly.

  • Perkembangan dan Kemunduran Riset Program

Lakatos juga menerapkan cara untuk menilai apakah suatu program mengalami perkembangan atau kemunduran. Suatu riset program dianggap ilmiah dan berkembang berdasaran dua kondisi. Pertama, harus memiliki tingkat koherensi untuk memetakan program bagi riset masa datang. Kedua, dengan arahan “positive heuristic” riset program tadi harus mampu menemukan fenomena baru. Jika suatu riset program tidak memenuhi kedua criteria tadi, maka riset program tersebut dianggap mengalami kemunduran.

Paradigma Dan Revolusi Thomas Kuhn

Seperti halnya Lakatos. Thomas Kuhn (1972) menyadari bahwa pandangan tradisional tentang ilmu, apakah induktivis atau falsifikasionis, semuanya tidak mampu bertahan dalam sejarah. Sejak itu teori Kuhn tentang ilmu kemudian dikembangkan sebagai usaha untuk menjadikan teori tentang ilmu lebih cocok dengan situasi sejarah sebagaimana ia melihatnya. Satu segi utama dari teorinya adalah penekanannya pada sifat revolusioner dari suatu kemajuan ilmiah – revolusi yang membuang suatu struktur teori dan menggantinya dengan yang lain – dan bertentangan dengan yang semula. Segi penting lainnya dari teori Kuhn adalah peranan penting yang dimainkan oleh sifat-sifat sosiologis masyarakat ilmiah.

Kuhn mengatakan bahwa kemajuan pengetahuan bukan merupakan hasil evolusi (seperti yang ada pada induktivisme dan falsifikasionisme). Kemajuan pengetahuan merupakan hasil revolusi. Teori dapat diganti dengan teori lain yang tidak cocok dengan teori tersebut. Kemajuan pengetahuan merupakan kemajuan yang berakhir terbuka (open-ended progress). Artinya sebuah akhir yang selalu terbuka untuk diperbaiki atau dikembangkan lebih lanjut. Proses ini dimulai dari pre-science, diikuti normal science, krisis, revolusi, new normal science, krisis baru dan seterusnya.

  1. FILSAFAT ILMU DAN PERKEMBANGAN AKUNTANSI

Walaupun filsafat ilmu awalnya digunakan didalam ilmu alam, tetapi saat ini telah dipinjam untuk menjelaskan disiplin ilmu lain. Akuntansi misalnya telah menggunakan metode scientific didalam proyek riset. Juga ada usaha menggunakan filsafat ilmu untuk menggambarkan akuntansi. Paradigma Kuhn telah digunakan oleh Wells (1976) dan SATTA (1977) untuk menjelaskan perkembangan akuntansi saat ini. Belkaoui (1981, 1985) menggunakannya untuk menggambarkan akuntansi sebagai multi-paradigm science. SATTA (1977), p.42. footnote 2, juga mengakui selain padangan Kuhn, perspektif lain seperti Lakatos dapat digunakan.

Banyak peneliti akuntansi yang menganggap bahwa inductivist interpretation merupakan filsafat ilmu yang relevan untuk akuntansi. Hal ini disebabkan peneliti akuntansi merumuskan hipotesis dan berusaha membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Dalam literature metodologi penelitian akuntansi, kata “induction” sering digunakan sebagai padanan scientific approach (Most, 1977). Lebih lanjut, Caplan (1972) mengatakan bahwa kemajuan dalam konstruksi teori memerlukan adanya berbagai metode untuk mengidentifikasi berbagai pendapat yang valid. Contohnya penelitian yang relevan adalah penelitian yang dilakukan Ball, Walker dan Whittred (1979) yang menguji hipotesis : tipe kualifikasi audit tertentu berhubungan dengan perubahan penilaian pemegang saham atas harga sekuritas.

Falsifikasi Popper juga sering disinggung dalam metodologi penelitian akuntansi, meskipun sangat sulit untuk membuktikan bahwa interpretasi ini dapat diterima dalam akuntansi. Falsifikasi Popper dalam penelitian akuntansi mungkin dapat dilihat dalam bentuk hipotesis nol, yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Falsifikasi terhadap hipotesis berarti bahwa ada hubungan antara berbagai variabel yang diteliti. Contohnya, Purdy, Smith dan Gray (1969) meneliti pengaruh metode disclosure dalam laporan keuangan yang menyimpang dari standar akuntansi terhadap visibilitas laporan tersebut. Dengan kata lain apakah pemakai laporan keuangan akan mengetahui penyimpangan tersebut jika hanya diungkapkan pada satu tempat? Peneliti menyatakan masalah tersebut dalam bentuk hipotesis nol dan hasil penelitian tidak menolak hipotesis nol. Pemakaian hipotesis nol pada awalnya terdapat dalam teori statistic tetapi hipotesis tersebut dapat diinterpretasikan konsisten dengan pandangan Popper. Falsifikasi cenderung lebih objektif dalam penelitian dibandingkan membuktikan kebenaran hipotesis (lihat Hines, 1988).

Paradigma Kuhn juga sering disinggung dalam literature akuntansi. Wells (1976) dan Flamholtz (1979) berpendapat bahwa revolusi Kuhn sangat tepat untuk digunakan dalam memahami perkembangan akuntansi saat ini. Kuhn mengatakan bahwa revolusi science terjadi dalam lima tahap :

  • Akumulasi anomaly (pre-science)
  • Periode krisis
  • Perkembangan dan perdebatan alternative ide
  • Identifikasi alternative dari berbagai pandangan
  • Paradigm baru yang dominan

Dalam tulisannya, Wells berusaha mengkaitkan tahapan revolusi dengan akuntansi dan berpendapat bahwa akuntansi berada pada empat tahap yang pertama meninggalkan paradigm cost historis. Setelah beberapa tahun terjadi krisis dan perdebatan berbagai alternative pengukuran, dia menyimpulkan bahwa akuntansi akan mencapai tahap terakhir yang menghasilkan paradigm baru seperti current cost accounting. Meskipun demikian, Danos (1977) tidak seuju dengan pendapat Wells dan melihat bahwa akuntansi sebenarnya berada pada tahap “pre-science” dan selama ini tidak ada paradigm penting yang muncul dan mendominasi akuntansi.

Ada juga bukti yang mendukung pendekatan research programmes yang dikemukakan Lakatos. Riset akuntansi yang selama ini dilakukan, cenderung menggunakan model yang berbeda-beda dan model tersebut dapat saling menggantikan. Model inilah yang diinterpretasikan sebagai research programme-nya Lakatos. Beberapa kasus menunjukkan bahwa research programmes dihasilkan kembali dan kemudian dibatalkan oleh peneliti, misalnya riset yang berkaitan dengan income smoothing hypotheses, akuntansi sumberdaya manusia, akuntansi pertanggungjawaban social, dan riset tentang hubungan antara variabel akuntansi dengan harga saham yang didasarkan pada efficient market hypothesis.

Akuntansi sumber daya manusia merupakan salah satu research programmes yang muncul berdasarkan sudut pandang ekonomi berkaitkan dengan aktiva. Research programmes ini dikembangkan atas dasar keyakinan bahwa :

  • Karyawan adalah salah satu sumber ekonomi yang paling penting bagi entitas
  • Kegagalan akuntansi dalam mengungkapkan aktiva ini merupakan suatu kelemahan

Dua keyakinan tersebut menunjukkan hard core yaitu negative heuristic dari research programmes. Hard core tersebut dikelilingi berbagai hipotesis/masalah yang berkaitan dengan hal sebagai berikut :

  • Cara terbaik untuk mengimplementasikan akuntansi sumber daya manusia
  • Bagaimana sumber daya manusia dinilai
  • Cost untuk mengumpulkan informasi sumber daya manusia
  • Manfaat penyajian informasi sumber daya manusia dalam laporan keuangan dan lain-lain

Dari berbagai pandangan diatas jelas bahwa dalam perkembangannya akuntansi dapat ditinjau dari berbagai pendekatan dan melibatkan filsafat ilmu yang selama ini sering digunakan dalam ilmu alam.

Referensi :

Imam Ghozali, Prof Dr. H. M.Com. MPM, Akt – Anis Chariri, Dr, M.Com, Akt. 2007.Teori

                Akuntansi edisi 3 /UND. Semarang : UNDIP Universitas Diponegoro

Power Point nya, kebetulan dibuat karna tugas untuk persentasi 😀 bisa diunduh disini –> Filsafat Sebagai Dasar Metodologi Penelitian PPT