PENTINGNYA TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PENGEMBANGAN PROFESI PENILIK DALAM CYBER ERA

Dikutip dalam Buku

H.A.R. Tilaar, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Misi, dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju 2020, Gramedia, Jakarta, 1997

Resensi by:

Ikatan Penilik Indonesia Pengurus Pusat

Logo IPI

PENDAHULUAN

Penilik kini mulai mengikuti era informasi. Apakah makna era informasi bagi kehidupan kerja seorang penilik? Era informasi yang didukung oleh revolusi teknologi informasi telah mengubah budaya Penilik menjadi paham dan cermat informasi artinya tidak GATEK DAN TELMI lagi.

Teknologi informasi yang telah memasuki seluruh sendi-sendi kehidupan Penilik. Kini menjadi popular apa yang disebut e-life. E-life (Electronic Life) telah merupakan suatu gaya hidup (life style). Kini kita mengenal E-commerse, e-business, e-learning, internet home, dan berbagai bentuk kehidupan teknologi canggih kini sedang melanda dunia.

E-life secara pelan tapi pasti juga memasuki dunia perbukuan. E-life telah melahirkan e-book sebagaimana yang dipopulerkan di dalam pameran buku internasional ke-52 di Frankfrut dalam bulan Oktober 2000. di dalam pameran buku yang terkenal itu mulai dipopulerkan masyarakat e-book. Lahirlah berbagai bentuk kebudayaan untuk menyimpan dan mentransmisikan informasi.

Membicarakan dunia perbukuan sekurang-kurangnya meliputi tiga hal, yaitu adanya penulis yang berkarya melahirkan buku-buku, adanya pembaca yang memanfaatkan hasil karya penulis, dan akhirnya kehidupan industri perbukuan.di dalam era informasi atau di dalam era masyarakat digital, ketiga unsure perbukuan tersebut di pengaruhi oleh kemajuan teknologi.informasi. E-life yang memasuki dunia perbukuan sangat dipengaruhi dengan adanya perangkat keras yaitu processor yang semakin kecil sehingga sangat membantu di dalam kemudahan penggunaanya., perangkat lunak yang semakin canggih, dan teknologi komunikasi yang semakin murah. Keuntungan-keuntungan tersebut tentunya akan mengubah cara-cara penulisan buku, cara-cara membaca, dan proses memperoleh informasi, serta mengubah industri perbukuan dari bentuknya yang tradisional memasuki industri buku di dalam era cyber dengan budaya digitalnya.

ELEGI GUTENBERG ATAU ELEGI BIRKERTS?

Johann Gutenberg dianggap sebagai bapak penemu teknologi mencetak dengan huruf lepas. Pada tahun 1442 karya cetaknya telah ditemukan berupa sehelai kertas bertuliskan 11 baris huruf cetak. Kebudayaan umat manusia karenanya mengalami revolusi yang sngat menentukan di dalam pengembangan dan perluasan informasi kepada rakyat banyak. Dapat kita gambarkan betapa bentuk kebudayaan manusia tanpa penemuan Gutenberg. Teknologi percetakan huruf lepas tersebut terus-menerus berkembang dan tersebar di seluruh dunia. Pada tanggal 29 November 1814 harian the times di London untuk pertama kali dicetak dengan menggunakan mesin cetak uap. Dan teknologi percetakan terus mengalami kemajuan yang sangat pesat sehingga pada tahun 1982 the times menjadi surat kabar Inggris pertama yang secara keseluruhan diset dengan metode fotografi.

Revolusi terhadap duia percetakan tentunya memberikan kengann yang indah bagi umat manusia, kini dengan kemajuan teknologi yang pesat, teknologi digital, maka penemuan Johann Gutenberg seakan-akan hilang dan terlupakan. Tidak mengherankan seorang kutu buku bernama Sven Birkerts telah menulis buku yang sangat melankolis berjudul Elegi Gutenberg. Bikerts meratapi penemuan besar Gutenberg yang mengubah lifestyle umat manusia kini menuju kepada kematiannya. Bikert memang patut pesimis. Dia hidup di dalam suatu kebudayaan serba “alon-alon asl kelakon”. Dia menangisi akan lahirnya kebudayaan pop yang serba cepat dan segera berlalu sehingga kekurangan waktu untuk menghayati dan menikmati hasil-hasil karya tulis di dalam membaca.

Ratapan Bikerts tidak sepenuhnya disetujui oleh Putut Wijanarko menunjukan adanya dua teritori yang kedua yang disebut teritori “syber space” yang melihat kepada kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas dari kemajuan teknologi informasi. Memang masih diragukan efektivitas darisarana baru terhadap intensitas baca dan menikmati hasil-hasilsastra. Namun demikian, gelombang perubahan teknologi informasi tidak dapat dibendung oleh siapa saja.

Dewasa ini Penilik mulai mengenal revolusi di dalam penyebaran informasi bacaan melalui amazon.com, press on Demand (POD), dan berbagai teknologi informasi lainnya seperti took buku on-line dan e-matter.rupa-rupanya Guternberg tidak perlu sedih hati oleh sebab betapa pun perubahan yang terjadidi dalam teknologi penyebaran informasi, tetap saja hasilkarya tulisan dengan cepat dan lebih murah kini direalisasikan seluas-luasnya tanpa batas untuk umat manusia. Memang kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat telah menghilangkan berbagai jenis pekerjaan yang telah dilahirkan oleh penemuan peralatan cetak sejak Guternberg.

LAHIRNYA GENERASI BARU: THENET-GENERATION

Perubahan teknologi informasi telah mempengaruhi pengadaan, penyebaran dan penyajian data-data informasi dan pengetahuan serta sastra. Telah lahir duniamaya dengan informasi yang tanpabatas dan secara bertahap akanmudah dikuasai oleh umat manusia. Dengan kemajuan teknologi informasi tersebut, menurut pengamatan Don Tapscott telah lahir suatu generasi baru yang disebut the net-generation atau ”N-Gen”.

The net-generation, atau generasi internet adalah generasi baru yang muncul pada dua decade terakhir abad 20. generasi ini hidup dengan dunia digital atau computer, hidup di dalam samudra informasi yang dapat di akses di mana saja dan kapan saja. Ditompang oleh perangkat-perangkat lunak computer yang semakin canggih serta biaya komunikasi yang semakin murah, maka arus informasi akan semakin dapat di jangkau oleh semua orang.revolusi ini tentunya menuntut cara-cara baru dalam penguasaan ilmu pengetahuan, informasi, dan hasil karya sastra. Tentunya banyak cara dalam metodologi, apresiasi serta penulisan informasi yang dikenal selama ini akan di ubah. Inilah budaya baru yang dilahirkan oleh kemajuan teknologi informasi.

Bagaimana impact dari teknologi baru ini terhadap proses belajar dari net generation? Don Tapscott menyatakan sebagai berikut.

At the heart of N-Gen culture is interactivity. Children today increasingly are participatiants not viewers. They are incited to discourse.

Pengamatan Don Tapscott ini mengandung tiga unsure proses belajar yang asing di dalam budaya lama, yaitu : interaktif, partisipasi, dan diskursus. Budaya interaktif memerlukan suatu proses belajar-mengajar yang baru, oleh karena peserta yang belajar atau pembelajaran bukan bersifat pasif tetapiaktif. Si pembelajar berinteraksi dengan sesame, dengan para pakar baik secara langsung maupun melalui kerya-karya dengan menggunakan perangkat internet. Di dalam proses interaktif tersebut maka si pembelajar adalah seseorang partisipasian dan bukan seorang boneka yang sekedar hanyamenerimasegalasesuatu yang dituangkan kedalamnya, seperti system bank menurut Paulo Freire. Demikian pula di dalam proses interaktif tersebut, si pembelajar bukanlah pasif tetapi secaraaktif mengadakan diskursus mengenai segala hal yang ditemukan di dalam pengembaraanya dalam dunia maya tanpa batas.

Proses pembelajaran tentu meminta sosok seseorang teman mitra belajar dan sarana belajar yang berbeda. Sarana belajar tidak terbatas di dalam kelas, “school without walls”, juga tidak tergantung pada seorang guru karena guru sekedar hanya sebagai fasilitator, juga tidak terbatas pada buku-buku teks, atau buku-buku perpustakaan, karena informasi dapat diketahui dan di analisis dari berbagai sumber. Yang diperlukandi sini ialah kemampuan daya analisis. Proses pembelajaran ini berkembang sangat pesat. Sebelum perkembangan televisi maka yang dipentingkan ialah pertemuan tatap muka. Dengan adanya televise si pembelajar menjadi pemirsa.(viewer), dan ditemukannya net sebgai server makasi pembelajar menjadi penegmbara (roamer). Para pakar teknologi informasi mengatakan bahwa the web telah menelan televise. Apabilatelevisi menekankankepada kemampuan melihat maka the web menuntut kemampuan membaca dan melihat.

Mengenai budaya baru N-Gen, yang tentunya mempengaruhi dunia perbukuan, kita ambil hasil pengamatan Don Tapscott sebagai berikut. N-Generation cenderung untuk berfikir bebas, mempunyai keterbukaan emosional dan intelektual,serta memiliki budaya inklusivisme. Selanjutnya, generasi ini mempunyai kebebasan untuk menyatakan sesuatu, mempunyai kebudayaan untuk berinovasi, sertasesuatu sikap kematangan karena tidak terikat kepada doktri-doktrin tertentu. Mereka mempunyai budaya untuk menyelidiki dan tidak puas terhadapsesuatu penemuan. Oleh karena informasi terus bertambah, diperkaya, dan berubah maka generasi ini adalah generasi yang percaya kepada kekinian. Mereka tidak cepat percaya terhadap propaganda-propaganda gombal tanpa alas an-alasan yang rasional, dan oleh sebab itu pula mereka cenderung untuk membangun suatu bangsa yang otentik. Tentunya semua sikap ini mengubah proses pembelajaran dai N-Gen.

Ada sesuatu yang menarik dalam revolusi belajar semacam ini. Duncan Grey mengatakan bahwa diperlukan suatu generasi guru untuk mengedopsi dan beradaptasi dengan proses pembelajaran yang baru itu. Hal ini perlu mendapatkan perhatian kita. Di dalam suatu konferensi internasional disponsori oleh PBB dan UNESCO bulan juli 2000, dibicarakan mengenai adanya digital divide antara Negara industri dan Negara-negara berkembang. Gap iniakan semakin lama semakin besar apabila tidak diambil langkah-langkah dari dunia berkembang maupun dari dunia industri untuk membantu mengatasinya. Sementara itudunia berkembang perlu mempersiapkan diri menghadapi perubahan besar di dalam teknologi informasi dalam rangka untuk mewujudkan cita-cita konferensiYom Tien 1990, “Education for All”,yang mengalami berbagai kendala termasuk keterbatasan biaya serta keterbatasan teknologi.

MANAJEMEN PENULISAN BUKU DALAM ERA-MAYA

Dalam spider-gram mengenai eksetensi buku, sekurang-kurannya ada tiga unsure utama yaitu para penulis buku, adanya pembaca atau yang memanfaatkan buku tersebut, serta industri buku yang bertalian dengan produksi, pemasaran dan distribusi buku. Antara pembaca dan penulis lahirlah karya tulis. Karya tulis tersebut haruslah memiliki berbagai criteria seperti karya yangdapat dibaca atau diperlukan oleh masyarakat pembaca, adanya penulis yang mampu membukukan hasil karyanya dalam bentuk tulisan, serta karya yang pantas diterbitkan sehingga memenuhi criteria atau tuntutan industri perbukuan. Selanjutnya, karya yang pantas diterbitkan antara lain memenuhi syarat-syarat cara penyajian yang menarik dan mudah sertadisajikan dalam bahasa yang baik dan benar. Karya yang dibaca dapat berkenaan dengan isi yang sesuai dengan target pembaca, juga dengan jenis-jenis bidang ilmu dan sastra.

Mengenai penulis, berkenaan dengan adanya motivasi penulis, oleh karena si penulis dapat memperoleh kepuasan serta penghargaan masyarakat yang setimpal.keseluruhan unsure-unsur tersebut merupakan manajemen penulisan buku yang kita kenal secara tradisional. Tentunya masih banyak pula unsur-unsur yang mempengaruhi perkembangan dunia perbukuan, antara lain adanya politik pengadaan pembukkuan yang kondusif, perkembangan cinta dan minat baca, sertaapresiasi masyarakat untuk memanfaatkan buku bagi perkembangan pribadi serta penguasaan pengetahuan dan ketrampilan.

Dalam era teknologi informasi yang maju pesat tentunya manajemen penulisan atau pengadaan buku di dalam masyarakat tidak lagi dapat mempertahankan unsure-unsur tradisional seperti diatas. Baik penulisan, isi, dan pemasaran dari buku-buku tersebut akan berubah seperti yang telah dikemukakan. Perubahan-perubahan tersebut menuntut suatu jenis manajemen baru yang sesuai dengan era teknologi informasi yang serba cepat, akurat, kekinian, terbuka, dan murah.

Bagaimanakah dengan keadaan kita di Indonesia? Meskipun Indonesi termasuk salah satu Negara yang sangat kurang produktif di dalam pengadaan buku, namun demikian kita sudah harus mengambil ancang-ancang untuk menghadapi perubahan teknologi informasi yang akanmempengaruhio industri pengadaan, pemanfaatan dan distribusi. Mungkin masih banyak orang yang ragu mengenai kemampuan teknologi kita, namun hal tersebut tidak mengurangi tekad kita untuk mulai mengadakan persiapan-persiapan menghadapi kenyataan yang sudah berada di depan mata kita.

Pertama-tama perlu kita berikan prioritas ialah pengadaan buku-buku pelajaran dan buku-buku universitas. Menurut pendapat para pakar, di Negara-negara berkembang pengadaan buku teks dan buku universitas masih sangat penting dan diperlukan tanggung jawab pemerintah. Di Amerika sendiri yang terkenaldemikian maju industri perbukuannya, pengadaan buku-buku teks dan buku-buku universitas masih merupakan seperempat dari total industri perbukuannya. Pengadaan buku teks dan buku-buku universitas memerlukan para penulis yang memenuhi kriteria-kriteria tertentu sesuai dengan tuntunan era teknologi informasi dan budaya N-Gen. mengenai buku-buku universitas masih akan terus berlaku tuntutan (Publish on perish). Apabila pendidikan tinggi Indonesia ingin meningkatkan mutu kualitasnya yang masih serba rendah maka perlu digalakkan penulisan buku-buku universitas yang bermutu tinggi. Selain dari pada itu, dalam rangka membangun researchuniversity di Indonesia menuntut berbagai jenis penelitian yang dilaksanakan di lingkungan pendidikan tinggi kita serba publikasi dari hasil penelitiannya.

Penulisan buku untuk universitas sekarang dipermudah dengan tersedianya informasi-informasi yang diperlukan oleh para penulis, misalnya penerbit McGraw-Hill menyediakan data-base intellectual bagi para professor yang ingin menulis buku-bukunya. Perlu kita ingat lagi bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa yang akan dating, karenasikap dan fasilitas yang tersedia, memungkinkan mereka menuntut buku-buku teks yang bukan hanya up-todate tetapi yang membuka cakrawala yang lebih luas baginya..Aksesbilitas informasi yang tak terbatas menuntut penulisan buku-buku universitas yang berkualitas tinggi.

HARAPAN UNTUK MASA DEPAN

Demikianlah telah diutarakan mengenai revolusi eksistensi buku di dalam era-maya dewasa ini. Pertanyaan yang muncul di dalam benak kita ialah apa yang perlu dan harus kitaperbuat? Di tengah-tengah arus globalisasi dewasa ini kita tidak dapat mengabaikan begitu saja perubahan yang terjadi di sekitar kita apabila kita tidak mau ketinggalan di dalam kehidupan globalyang terbuka. Langkah-langkah konkret mesti diambil sekarang juga. Berdasarkan pengamatan kemajuan teknologi informasi dan lahirnya budaya N-Gen maka langkah-langkah berikut ini perludilaksanakan.

  1. Perlunya Quantum Leap di dalam Pengembangan Perbukuan

Menghadapi perubahan yang besar tersebut maka perlu diadakan suatu loncatan kuantum (quantum leap) dalam perbukuan kita, yaitu dari keadaan tradisional menuju kepada pengadaan buku sesuai dengan tuntutan dunia maya. Langkah-langkah tersebut antara lain adanya kemauan politik pemerintah untukmenciptakan iklim yang kondusif untuk lahirnya industri perbukuan. Industri perbukuan terutama di Negara berkembang, belum menarik bagi para investor. Hal ini melahirkan suatu lingkaran setan yang mematikan dunia perbukuan di Indonesia. Oleh sebab itu diperlukan suatu intervensi pemerintah untuk melahirkan dan mengembangkan suatu dunia perbukuan yang menarik. Dewan Buku Nasional yang kuat sebagai pengganti Badan Pengembangan Perbukuan Nasional (BPPN) sudah perlu di lahirkan.

Selain dari pada itu gerakan buku murah perlu digalakkan. Bahwa ada penelitian yang menyatakan minat baca tidak tergantung kepada harga buku perlu diragukan. Tidak ada suatu Negara di dunia di mana masyarakatnya mempunyai minat baca yang tinggi tetapi tidak disokong oleh harga buku yang dapat terjangkau. Dengan meningkatnya minat baca maka apresiasi buku dapat digalakkan baik itu buku sastra, ilmu pengetahuan popular, buku ilmiah, ataupun bacaan untuk masa.

  1. Persiapan Pengadaan Buku Cyber (E-Book)

Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi di dalam pengadaan buku, maka penguasaan terhadap teknologi tersebut sudah harus dimulai, industri buku Indonesia sudah perlu mengambil ancang-ancang untuk penerapan teknologi pengadaan buku Cyber. sejalan dengan itu persiapan bagi para penulis e-book sudah harus dimulai agar supaya para penulis tersebut telah siap dan memperoleh stimulasi untuk menulis buku-buku yang sesuai. Demikian pula pemasyarakatan buku-buku cyber (e-book), baik di dalam pengadaan perangkat keras maupun perangkat lunak agar supaya semakin lama semakin terjangkau oleh daya beli masyarakat. Hal ini sudah diterapkan oleh Depdiknas dalam sekolah maya.

  1. Penilik yang Terampil

Penggunaan e-book mulai dilaksanakan di sekolah-sekolah atau SKB / PKBM dalam penyediaan buku-buku cyber tersebut. Di dalam pelaksanaan program tersebut yang menjadi kunci adalah Tutor yang terampil. Seperti yang dikemukakan oleh pakar pendidikan internet di sekolah, Duncan Grey, para guru dewasa ini kebanyakan buta di dalam penguasaan teknologi informasi yang diperlukan. Apakah sama dengan peniliknya Oleh sebab itu, sudah harus dimulai pesiapan Tutor, Pamong Belajar, Penilik sebagai generasi baru yang menguasai pemanfatan teknologi informasi di dalam proses pembelajaran.