Tags

LIKUIDASI PERSEKUTUAN

Likuidasi  adalah  suatu  keadaan  dimana  baik  persekutuan  maupun  usaha perusahaannya  dibubarkan  semua.  Likuidasi (Purnama Sari:2013) adalah berhentinya kegiatan operasi perusahaan secara keseluruhan dengan menjual sebagian atau seluruh aktiva perusahaan,membayar semua utang pajak,kewajiban pada pihak ketiga dan sisanya dibagikan kepda para anggota sekutu sesuai dengan ratio laba atau rugi. Dalam  likuidasi  ini  perusahaan  hanya  berjalan beberapa saat guna menyelesaikan proses likuidasi tersebut.

Likuidasi didefinisikan oleh Floyd A.Beams (1988) adalah sebagai “suatu proses yang meliputi merubah aktiva non kas menjadi kas, mengakui laba atau rugi dari proses merubah aktiva non kas menjadi kas, melunasi kewajiban firma, dan akhirnya membagi semua kas yang dimiliki kepada masing-masing anggota sekutu sesuai dengan saldo modalnya”. Sedangkan menurut Harry Simon (1990) likuidasi adalah proses merealisasikan aktiva non kas menjadi uang kas, menyelesaikan dengan para kreditur dan pembagian sisa aktiva kepada kelompok-kelompok pemilikan.

Dengan melihat definisi diatas, maka dapat dikatakan bahwa likuidasi merupakan proses yang berakhir dengan pembubaran perusahaan sebagai suatu unit organisasi.

Menurut The Uniform Of Partnership Act (UPA), undang-undang Persekutuan di AS, pasal 31 menyebutkan, ada beberapa faktor yang menyebabkan suatu persekutuan dibubarkan yang pada intinya dapat diklasifikasikan sebagai berikut (seperti yang dikutip oleh Arifin (1997) dalam bukunya pokok-pokok akuntansi lanjutan) :

  1. Sistem perkonomian masyarakat atau negara tidak mendukung adanya kegiatan usaha, seperti adanya undang-undang pemerintah, sistem monopoli perusahaan besar dan sebagainya, yang kesemuanya itu tidak memungkinkan lagi suatu persekutuan hidup.
  2. Ada faktor-faktor ekstern yang berada diluar jangkauan manajemen perusahaan  seperti bencana alam, kecelakaan, kebakaran dan sejenisnya yang kesemuanya tidak memungkinkan lagi suatu persekutuan mempertahankan hidupnya.
  3. Adanya faktor-faktor intern di dalam persekutuan, seperti adanya perselisihan antar anggota, kesalahan dalam manajemen, ketidakserasian dalam kerja dan sejenisnya yang kesemuanya itu dapat berakibat tidak memungkinkan lagi suatu persekutuan dipertahankan hidupnya.

Perbedaan Likuidasi dengan Perubahan Persekutuan:

Likuidasi terjadi apabila semua sekutu mengundurkan diri dan persekutuan dibubarkan, serta aktiva non-kasnya dijual. Perubahan persekutuan terjadi apabila:

  1. Sekutu berkurang, hal ini terjadi bila seorang sekutu atau beberapa sekutu mengundurkan diri.
  2. Sekutu bertambah, hal ini terjadi apabila ada seorang sekutu atau beberapa sekutu yang masuk ke dalam persekutuan.

Proses pembubaran usaha ini meliputi dua tahap, yaitu :

  1. Proses mengubah harta kekayaan yang ada menjadi uang tunai,  yang disebut dengan proses realisasi ;
  2. Proses pembayaran  kembali  utang  – utang  kepada  para  kreditur  dan pembayaran  kembali  sisa  modal  kepada  para  anggota,  yang  disebut  juga dengan proses likuidasi.

Prosedur Likuidasi :

  1. Rekening –rekening pembukuan harus disesuaikan dan ditutup. Laba dan rugi bersih selama  periode  terakhir  diperhitungkan  ke  rekening  modal  masing  – masing, sesudah itu dikatakan persekutuan siap untuk dilikuidasi ;
  2. Pada proses  pengubahan  aktiva  menjadi  uang  tunai,  apabila  ada  perbedaan antara  nilai  buku  dan  nilai  realisasi  yang  menunjukkan  keuntungan  atau kerugian  harus  dibagi  di  antara  anggota  sesuai  dengan  perbandingan pembagian  laba  (rugi).  Saldo  modal  selanjutnya  dipakai  sebagai  dasar penyelesaian.
  3. Apabila dijumpai  keadaan  di  mana  salah  seorang  anggota  mempunyai  saldo debit di dalam rekening modalnya, di lain pihak ia mempunyai piutang kepada persekutuan,  maka  piutang  kepada  persekutuan  itu  dipakai  untuk  menutup saldo  debit  rekening  modal  yang    Di  samping  itu  pada prinsipnya apabila seorang anggota mengalami defisit maka anggota yang lain berkewajiban untuk menutupnya terlebih dahulu.
  4. Apabila uang  tunai  sudah  tersedia  untuk  dibagi,  maka  pertama-tama  harus dibayarkan  terlebih  dahulu  kepada  para  kreditur  extern,  baru  sesudah  itu dibayarkan saldo –saldo modal masing – masing anggota.

Likuidasi berlangsung setelah proses realisasi berakhir

Apabila semua anggota persekutuan mengalami deficit modal, maka secara pribadi dinyatakan mampu untuk menutup kewajiban kewajibannya , maka penyelesaian dapat menenmpuh antara lain :

  1. Anggota anggota yang mengalami deficit modalnya menyetorkan sejumlah uang kepada perusahaan untuk menutup deficit modal tersebut, tentunya pertama – tama harus di bayarkan kepada kreditur bayarkan kepada anggota sebesar hak mereka masing masing
  2. Pelunasan sisa hutang kepada kreditur oleh salah satu pemilik. Pelunasan hutnag ini boleh dilakukan oleh anggota yang mengalami defisit saldo modalnya maupun oleh anggota yang masih mempunyai hak klaim di dalam perusahaan, tetapi tetap harus mengutamakan hak kreditur utuk melunasisemua hutang yang dimilki oleh persekutuan.

Apabila rugi realisasi aktiva lain lain sedemikian besarnya sehingga mengakibatkan jumlah uang tunai tidak cukup untuk melunasi hutang trhadap kreditur, sedang anggotan persekutuan juga tidak memiliki  kemampuan yang sama utuk memenuhi kewajiban, maka perlu diadakan penyidikan terhadap posisi hutang dan harta, karena ini menyangkut hak kreditur perusahaan dan hak kreditur pribadi anggota, antara lain :

  1. Hak untuk para kreditur perusahaan antara lain adalah berhak sepenuhya untuk menerima pembayarab kembali atas piutangnya, dari hasil penjualan ( realisasi ) aktiva perusahaan sampai dengan jumlah piutang yang bersangkutan
  2. Hak untuk kreditur anggota antara lain adalah kreditur pribadi anggota berhak sepenuhnya untuk menerima pembayaran kembali dari hasil penjualan harta pribadi pemilik sampai dengan jumlah piutnag yang bersangkutan.

Metode Likuidasi :

  • Likuidasi sekaligus
  • Likuidasi bertahap / berangsur

AKUNTANSI LIKUIDASI

A. Likuidasi berlangsung setelah proses realisasi aktiva non kas selesai (likuidasi secara langsung)

Dalam hal ini pembayaran kepada anggota sekutu dilakukan setelah seluruh aktiva non kas telah selesai direalisasikan (dijual) menjadi uang kas, sehingga laba rugi yang terjadi dari adanya realisasi tersebut dapat segera diketahui seluruhnya dan langsung dapat dibebankan kepada modal masing-masing sekutu.

Contoh 1.

Persekutuan “Cinta Sekali” yang anggotanya A,B, dan C. Pada tanggal 2 januari 2003 bersepakat melakukan likuidasi perusahaannya karena ketiga anggotanya tersebut tidak ada kecocokan lagi untuk menjalankan usahanya. Semua aktiva non kas dapat direalisasikan seluruhnya menjadi uang kas. Pembagian laba ruginya dengan perbandingan 4:4:2.

Adapun laporan keuangannya adalah :

capture-20141115-081950-crop

Realisasi aktiva non kas adalah sebagai berikut :

  1. Piutang dagang dapat ditagih sebagai Rp 25.000
  2. Persediaan dapat dijual dengan harga Rp 42.000
  3. Aktiva tetap dapat dijual dengan harga Rp 50.000

Untuk mempermudah di dalam penyelesaian likuidasi, maka selanjutnya disusun menjadi ikhtisar sebagai berikut :

capture-20141115-082311-cropcapture-20141115-082338-crop

Setelah ikhtisar likuidasi disusun, maka selanjutnya disusun jurnal realisasi dan likuidasi sesuai dengan transaksi yang dicatat dalam tabel ikhtisar likuidasi.

  1. Jurnal penagihan piutang dagang

Kas                      Rp 25.000

Modal A              Rp   2.000

Modal B              Rp   2.000

Modal C              Rp   1.000

Piutang dagang           Rp 30.000

(realisasi piutang sebesar Rp 25.000 dari saldo piutang sebesar Rp 30.000, berari ada kerugian penagihan piutang sebesar Rp 5.000. Kerugian tersebut dibagi kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal penjualan persediaan

Kas                  Rp 42.000

Modal A                       Rp   800

Modal B                       Rp  800

Modal C                       Rp 400

Persediaan                  Rp 40.000

(realisasi persediaan sebesar Rp 42.000 dari saldo persediaan sebesar Rp 40.000, berarti ada keuntungan sebesar Rp 2.000 dibagikan kepada masing-masing sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal penjualan aktiva tetap

Kas                  Rp 50.000

Modal A          Rp 12.000

Modal B          Rp 12.000

Modal C          Rp  6.000

Aktiva tetap                 Rp 80.000

(realisasi aktiva tetap sebesar Rp 50.000 dari saldo aktiva tetap sebesar Rp 80.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 30.000 dialokasikan kepada masing-masing sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal pelunasan hutang kepada kreditur eksternal

Hutang dagang           Rp 60.000

Kas                         Rp 60.000

  1. Jurnal pelunasan hutang kepada kreditur internal

Hutang kepada sekutu B Rp 10.000

Kas                                            Rp 10.000

  1. Pembagian kepada para anggota

Modal A                      Rp 26.800

Modal B                      Rp 26.800

Modal C                      Rp 13.400

Kas                  Rp 67.000

Dalam likuidasi secara langsung, dapat juga timbul masalah dalam pengembalian modal kepada para anggota, permasalahan tersebut timbul apabila salah satu atau beberapa anggota sekutu mengalami defisit modal. Ada dua kemungkinan dalam permasalahan defisit modal anggota: (1) anggota yang mengalami defisit modal mampu membayar, (2) anggota yang mengalami defisit modal tidak mampu membayar. Permasalahan yang lebih serius lagi apabila hasil realisasi aktiva non kas tidak mampu menutupi hutangnya.

  1. Anggota yang mengalami defisit modal mampu membayar

Pada Tahap realisasi aktiva non kas menjadi uang kas apabila terjadi kerugian dalam merealisasikannya, maka bisa timbul masalah adalah salah satu atau beberapa anggota mengalami defisit modal tersebut. Konsekuensinya maka anggota yang mengalami defisit modalnya tersebut harus menutupi defisitnya dengan cara menyetorkan uang tunai atau aktiva lainnya kedalam persekutuan, sehingga saldo defisitnya habis.

Contoh 2

Dari data CV CINTA SEKALI diatas, dimana realisasi aktiva non kasnya adalah sebagai berikut:

  1. Piutang dagang dapat ditagih sebesar Rp 15.000
  2. Persediaan dapat dijual dengan harga Rp 10.000
  3. Aktiva tetap dapat dijual dengan harga Rp 20.000

capture-20141115-082841-cropcapture-20141115-082927-crop

Setelah ikhtisar likuidasi disusun, maka selanjutnya disusun jurnal realisasi dan likuidasi sesuai dengan transaksi yang dicatat dalam tabel ikhtisar likuidasi.

  1. Jurnal penagihan piutang dagang

Kas                              Rp 15.000

Modal A                      Rp  6.000

Modal B                      Rp  6.000

Modal C                      Rp  3.000

Piutang dagang                       Rp 30.000

(realisasi piutang dagang Rp 15.000 dari saldo piutang sebesar Rp 30.000, berarti ada kerugian penagihan piutang sebesarr Rp 15.000. Kerugian tersebut dibagi kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal penjualan persediaan

Kas                              Rp 10.000

Modal A                      Rp 12.000

Modal B                      Rp 12.000

Modal C                      Rp  6.000

Persediaan                              Rp 40.000

(realisasi persediaan sebesar Rp 10.000 dari saldo persediaan sebesar Rp 40.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 30.000. Kerugian tersebut dialokasikan kepada masing-masing sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal penjualan aktiva tetap

Kas                              Rp 20.000

Modal A                      Rp 24.000

Modal B                      Rp 24.000

Modal C                      Rp 12.000

Aktiva tetap                             Rp 80.000

(realisasi aktiva tetap sebesar Rp 20.000 dari saldo aktiva tetap sebesar Rp 80.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 60.000. Kerugian tersebut dialokasikan kepada masing-masing sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal pelunasan hutang kepada kreditur eksternal

Hutang dagang           Rp 60.000

Kas                                          Rp 60.000

  1. Jurnal pembayaran hutang kepada kreditur internal

Hutang kpd skutu B     Rp   5.000

Kas                                          Rp 5.000

  1. Jurnal menutup defisit modal sekutu B dengan saldo hutangnya

Hutang kpd skutu B     Rp   5.000

Modal B                                  Rp 5.000

  1. Jurnal menutup defisit sekutu A dan C dengan uang tunai

Kas                              Rp   3.000

Modal A                                  Rp 2.000

Modal C                                  Rp 1.000

  1. Pembayaran kepada sekutu B

Modal B                      Rp   3.000

Kas                                          Rp 3.000

  1. Anggota yang mengalami defisit modal yang tidak mampu membayar

Dalam likuidasi apabila salah satu anggota sekutu mengalami defisit modal setelah tahap realisasi, maka anggota tersebut diwajibkan untuk menyetorkan modal untuk menghapus defisit modal tersebut dengan uang tunai atau aktiva tertentu. Apabila anggota sekutu yang mengalami defisit modal tersebut tidak mampu menyetor modal maka yang menanggung defisit tersebut adalah anggota yang lain yang tidak defisit dengan pembebanan sesuai dengan pembagian laba rugi.

Contoh 3

Dengan menggunakan contoh CV CINTA SEKALI diatas, apabila sekutu A dan C yang mengalami defisit dan tidak mampu membayar baik dengan uang tunai maupun aktiva tertentu, maka penyelesaiannya sekutu B yang tidak defisit modal yang menanggungnya.

capture-20141115-083235-cropcapture-20141115-083327-crop


Setelah ikhtisar likuidasi disusun, maka selanjutnya disusun jurnal realisasi dan likuidasi sesuai dengan transaksi yang dicatat dalam tabel ikhtisar likuidasi.

  1. Jurnal penagihan piutang dagang

Kas                              Rp 15.000

Modal A                      Rp  6.000

Modal B                      Rp  6.000

Modal C                      Rp  3.000

Piutang dagang                       Rp 30.000

(realisasi piutang dagang Rp 15.000 dari saldo piutang sebesar Rp 30.000, berarti ada kerugian penagihan piutang sebesarr Rp 15.000. Kerugian tersebut dibagi kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal penjualan persediaan

Kas                              Rp 10.000

Modal A                      Rp 12.000

Modal B                      Rp 12.000

Modal C                      Rp  6.000

Persediaan                              Rp 40.000

(realisasi persediaan sebesar Rp 10.000 dari saldo persediaan sebesar Rp 40.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 30.000. Kerugian tersebut dialokasikan kepada masing-masing sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal penjualan aktiva tetap

Kas                              Rp 20.000

Modal A                      Rp 24.000

Modal B                      Rp 24.000

Modal C                      Rp 12.000

Aktiva tetap                             Rp 80.000

(realisasi aktiva tetap sebesar Rp 20.000 dari saldo aktiva tetap sebesar Rp 80.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 60.000. Kerugian tersebut dialokasikan kepada masing-masing sekutu dengan perbandingan 4:4:2)

  1. Jurnal pelunasan hutang kepada kreditur eksternal

Hutang dagang           Rp 60.000

Kas                                          Rp 60.000

  1. Jurnal pembayaran hutang kepada kreditur internal

Hutang kpd skutu B     Rp   5.000

Kas                                          Rp 5.000

  1. Jurnal menutup defisit modal sekutu B dengan saldo hutangnya

Hutang kpd skutu B     Rp   5.000

Modal B                                  Rp 5.000

  1. Jurnal menutup defisit sekutu A dan C dengan saldo modal B.

Modal B                      Rp 3.000

Modal A                                  Rp 2.000

Modal C                                  Rp 1.000

  1. Kas yang tersedia tidak mencukupi untuk melunasi hutang

Apabila hasil realiasasi aktiva non kas sangat kecil, maka kerugian yang dialami perusahaan sangat besar, sehingga tidak mencukupi untuk untuk melunasi hutang kepada pihak eksternal. Dalam hal seperti ini jumlah modal sekutu secara keseluruhan akan mengalami defisit. Defisitnya modal sekutu tersebut ada yang mampu menutupi dan ada juga sekutu yang tidak mampu untuk menutupi defisit modalnya. Apabila ada sekutu yang tidak mampu menutupi defisit modalnya maka anggota sekutu yang mampu menutup defisit modal anggota sekutu yang tidak mampu untuk melunasi hutang kepada pihak eksternal. Hal ini sesuai dengan salah satu karakteristik persekutuan yaitu tanggung jawab yang tidak terbatas.

Contoh 4

Persekutuan “AMANAH” yang anggota-anggotanya A, B, dan C. Pada tanggal 2 januari 2003 bersepakat melakukan likuidasi perusahaannya karena ketiga anggota tersebut sudah tidak ada kecocokan lagi untuk menjalankan usahanya. Semua aktiva non kas dapat direalisasikan seluruhnya menjadi kas. Dari ketiga sekutu yang paling mampu secara materiil adalah sekutu A. Pembagian laba ruginya dengan perbandingan 4:4:3. Adapun laporan keuangannya menunjukkan data sebagai berikut:

capture-20141115-083611-crop

Piutang dagang dapat ditagih Rp 5.000Proses realisasinya adalah sebagai berikut ;

  1. Persediaan dapat dijual dengan harga Rp 10.000
  2. Aktiva tetap dapat dijual dengan harga Rp 20.000

Untuk mempermudah didalam penyelesaian likuidasi, maka selanjutnya disusun ikhtisar likuidasi sebagai berikut :

capture-20141115-083911-cropcapture-20141115-083959-cropcapture-20141115-084018-crop
Setelah ikhtisar likuidasi disusun, maka selanjutnya disusun jurnal realisasi dan likuidasi sesuai dengan transaksi yang dicatat dalam tabel ikhtisar likuidasi.

  1. Jurnal penagihan piutang dagang

Kas                              Rp  5.000

Modal A                      Rp 10.000

Modal B                      Rp  7.500

Modal C                      Rp  7.500

Piutang dagang                       Rp 30.000

(realisasi piutang sebesar Rp 5.000 dari saldo piutang sebesar Rp 30.000, berarti ada kerugian penagihan piutang sebesar Rp 25.000. Kerugian tersebut dibagi kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 4:4:3)

  1. Jurnal penjualan persediaan

Kas                              Rp 10.000

Modal A                      Rp 12.000

Modal B                      Rp  9.000

Modal                          Rp  9.000

Persediaan                              Rp 40.000

(realisasi sebesar Rp 10.000 dari saldo persediaan sebesar Rp 40.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 30.000 dibagikan kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 4:4:3)

  1. Jurnal penjualan aktiva tetap

Kas                              Rp 20.000

Modal A                      Rp 24.000

Modal B                      Rp  18.000

Modal                          Rp  18.000

Aktiva tetap                             Rp 80.000

(realisasi aktiva tetap sebesar Rp 20.000 dari saldo aktiva tetap sebesar Rp 80.000, berarti ada kerugian sebesar Rp 60.000 dialokasikan kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 4:4:3)

  1. Jurnal pelunasan hutang kepada kreditur eksternal

Hutang dagang           Rp 55.000

Kas                                          Rp 55.000

  1. Jurnal menutup defisit modal A dengan saldo hutangnya

Hutang kpd skutu A     Rp 10.000

Modal A                                  Rp 10.000

  1. Menutup defisit modal C dengan saldo modal A dan B

Modal A                      Rp 8.300

Modal B                      Rp 6.200

Modal C                                  Rp 14.500

  1. Menutup defisit modal B dengan saldo modal A

Modal A                      Rp 700

Modal B                                  Rp 700

  1. Menutup defisit modal A dengan kas (karena sekutu A yang mampu)

Kas                              Rp 5.000

Modal A                                  Rp 5.000

  1. Pelunasan hutang kepada kreditur

Hutang dagang           Rp 5.000

Kas                                          Rp 5.000

  1. Likuidasi berlangsung setiap saat setelah realisasi aktiva non kas dilakukan (likuidasi bertahap)

Realisasi aktiva non kas seringkali memerlukan waktu yang cukup lama (karena realisasi yang dilakukan harus menunggu pembeli atau masih mempertahankan harga aktiva non kas yang diperjual belikan). Dalam keadaan seperti ini sebaiknya pembagian kas tidak perlu menunggu selesainya realisasi semua aktiva non kas yang dimiliki perusahaan. Apabila pada tahap pertama baru sebagian aktiva non kas yang dapat direalisasikan (dijual), maka pertama kali harus dibayar semua kewajiban kepada kreditur, baru sisa kas kemudian dibayarkan kepada anggota sekutu sebagai pembayaran kembali bagian hak penyertaannya. Hasil realisasi non kas pada tahap-tahap berikutnya langsung dibayarkan kepada para anggota.

Apabila pembayaran kepada kreditur tidak dapat dibayarkan sekaligus setelah realisasi tahap pertama, maka pada tahap realisasi berikutnya yang diutamakan juga tanggungan kepada kreditur sampai tanggungan kepada kreditur terlunasi semua, baru sisanya kepada para anggota sekutu sesuai dengan perbandingan pembagian rugi laba.

AKUNTANSI UNTUK LIKUIDASI BERTAHAP

Ada dua cara untuk menentukan besarnya setiap kali pembayaran kembali hak penyertaan anggota agar dapat dijamin penerimaan masing-masing anggota sesuai dengan yang dimilikinya yaitu :

  1. Pembayaran yang dilakuan setiap kali aktiva non kas dapat terjual
  2. Pembayaran berdasarkan program prioritas yang dibuat sebelum semua aktiva dapat terealisir.

Pembayaran dilakukan setiap kali aktiva dapat terjual

Besarnya jumlah pembayaran kembali hak penyertaa kepada masing-masing anggota, sebelum selesainya proses realisasi tidak dapat ditentukan dengan pasti. Untuk menghindari kemungkinan terjadinya pembayaran dalam jumlah yang berlebihan kepada anggota tertentu, maka perlu dilakukan perhitungan dengan cermat.

Pembayaran kembali hak penyertaan kepada anggota secara bertahap, tidak akan menimbulkan persoalan apabila hak-hak penyertaan para anggota telah menunjukkan posisi yang sebanding dengan perbandinan laba rugi pada saat menjelang likuidasi dilangsungkan. Oleh karena itu pembayaran kembali hak penyertaan kepada anggota (sebelum modal menunjukkan perbandingan laba rugi) harus dilakukan sampai menunjukkan perbandingan pembagian laba rugi. Hal ini dapat dapat dilakukan dengan meperlakukan sebagai kerugian yang harus ditanggung masing-masing anggota atas nilai buku aktiva yang belum dapat direalisasi. Jika alokasi kerugian sebesar nilai buku aktiva (yang belum dapat direalisasi) berakibat defisitnya saldo modal salah satu anggota atau lebih anggota sekutu, maka defisit modal anggota yang bersangkutan harus ditanggung oleh anggota-anggota yang lain. Dengan ketentuan demikian itu maka hanya anggota sekutu yang memiliki saldo kredit modal yang mempunyai prioritas untuk menerima pembayaran terlebih dahulu. Perlakukan terhadap nilai buku aktiva (yang belum dapat direalisasi) dan defisit saldo modal anggota sekutu tertentu seperti itu dilakukan di luar pembukuan danj akan berlangsung sampai dengan saldo modal masing-masing anggota sekutu menunjukkan perbandingan laba rugi. Dengan ketentuan diatas maka akan ada dua kemungkinan dalam proses likuidasi bertahap :

  1. Setelah dilakukan pembayran pertama, saldo modal menunjukkan perbandiNgan yang sesuai atau sama dengan perbandingan pembagian laba rugi.
  2. Setelah dilakukan beberapa kali pembayaran, saldo modal baru menunjukkan perbandingan yang sesuai atau sama dengan perbandingan pembagian laba rugi.

Setelah dilakukan pembayran pertama, saldo modal menunjukkan perbandigan yang sesuai atau sama dengan perbandingan pembagian laba rugi.

Contoh 5

Sekutu Faluti, Dhito dan Donna membagi laba rugi dengan rasio 5:3:2. Pada tanggal 30 juni 2001 tepat sebelum likuidasi, saldo-saldo aktiva, hutang dan modal adalah sebagai berikut :

capture-20141115-084242-crop

Realisasi aktiva non kas setelah dibayarkan kepada para kreditur dibagikan kepada para anggota sekutu pada akhir tiap bulan sesuai dengan perbandingan pembagian laba rugi. Realisasi aktiva non kas dapat terselesaikan selama 3 bulan dengan perincian sebagai berikut :

capture-20141115-084242-crop

Diminta:

Buatlah laporan likuidasi untuk meringkas pelaksanaan likuidasi. Lengkapilah dengan daftar-daftar atau perhitungan untuk mendukung pembagian bulanan.

Penyelesaian :

capture-20141115-084510-cropcapture-20141115-084536-cropKeterangan :

Untuk pembayaran kepada para anggota sekutu pada bulan juli perlu dibuatkan daftar pendukung (daftar A), karena komposisi modal masing-masing anggota tidak menunjukkan komposisi perbandingan pembagian laba rugi, akan tetapi pada bulan agustus dan september tidak dibuatkan daftar pendukung karena komposisi modal sudah menunjukkan perbandingan pembagian laba rugi.

capture-20141115-084655-crop
Jurnal yang dibuat sehubungan dengan likuidasi bertahap adalah ( dalam ribuan rupiah)

  1. Jurnal realisasi aktiva non kas tahap I

Kas                                          Rp 100.000

Modal Faluti                           Rp 10.000

Modal Dhito                            Rp 6.000

Modal Donna                          Rp 4.000

Aktiva non kas                                     Rp 120.000

(realisasi aktiva non kas sebesar Rp 100.000 dari nilai buku sebesar Rp 120.000, berarti ada kerugian Rp 20.000. kerugian tersebut dibagikan kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 5:3:2)

  1. Jurnal pembayaran hutang kepada kreditur eksternal

Hutang dagang                       Rp 60.000

Kas                                                      Rp 60.000

  1. Pembayaran kepada anggota sekutu

Modal Faluti                           Rp 4.000

Modal Dhito                            Rp 36.000

Kas                                                      Rp 40.000

  1. Jurnal realisasi aktiva non kas tahap II

Kas                                          Rp 90.000

Modal Faluti                           Rp 5.000

Modal Dhito                            Rp 3.000

Modal Donna                          Rp 2.000

Aktiva non kas                                     Rp 100.000

(realisasi aktiva non kas sebesar Rp 90.000 dari nilai buku sebesar Rp 100.000, berarti ada kerugian Rp 10.000. kerugian tersebut dibagikan kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 5:3:2)

  1. Pembayaran kepada anggota sekutu

Modal Faluti                           Rp 45.000

Modal Dhito                            Rp 27.000

Modal Donna                          Rp 18.000

Kas                                                      Rp 90.000

  1. Jurnal realisasi aktiva non kas tahap III

Kas                                          Rp 50.000

Modal Faluti                           Rp 15.000

Modal Dhito                            Rp 9.000

Modal Donna                          Rp 6.000

Aktiva non kas                                     Rp 80.000

(realisasi aktiva non kas sebesar Rp 50.000 dari nilai buku sebesar Rp 80.000, berarti ada kerugian Rp 30.000. kerugian tersebut dibagikan kepada masing-masing anggota sekutu dengan perbandingan 5:3:2)

  1. Pembayaran kepada anggota sekutu

Modal Faluti                           Rp 25.000

Modal Dhito                            Rp 15.000

Modal Donna                          Rp 10.000

Kas                                                      Rp 50.000

Likuidasi Sekaligus

  • Pembagian kas kepada sekutu hanya dilakukan sekali setelah aktiva non kas berhasil direalisasi dan semua hutang dilunasi
  • Kas yang dibagi kepada sekutu sesuai dengan saldo modal bersih
  • Laba atau rugi realisasi ditanggung sekutu sesuai dengan persentase kepemilikan

Modal bersih sekutu ada lima kemungkinan :

  • Semua sekutu modalnya bersaldo positif
  • Ada sekutu yang saldo modalnya negatif
  • Ada sekutu yang saldo modalnya negatif dan tidak dapat ditutup
  • Ada sekutu yang harus menyetor modal dalam keadaan tidak mampu
  • Kas yang tersedia tidak cukup untuk melunasi utang kepada pihak ketiga

Semua sekutu modalnya bersaldo positif

Contoh 1

Persekutuan HOCKS dengan sekutu Harley,Oky,Kristian dan Samuel membagi laba atau rugi dengan ratio 20:25:35:20, pada awal tahun 2007 persekutuan tersebut sepakat untuk  dilikuidasi. Neraca persekutuan per Desember 2006 adalah sebagai berikut

capture-20141115-084849-crop

Jika dalam likuidasi tersebut semua aktiva non kas (piutang,persediaan dan peralatan ) dapat direalisasi sebesar Rp.350.000.000. Semua utang dilunasi dan sisa kas dibagikan kepada para sekutu sesuai dengan ratio laba atau rugi.

Diminta buatlah laporan likuidasi dan jurnal yang diperlukan

Jawab 1 :

capture-20141115-085006-crop

Jurnalnya :

capture-20141115-085058-crop

Sekutu Yang Modalnya Negatif Tetapi Dapat Ditutup Dengan Hutang Kepada Sekutu Yang Bersangkutan

Komponen penting…

  • Rugi realisasi yang terlalu besar sehingga modal sekutu tidak dapat menutup kerugian tersebut
  • Modal sekutu yang minus dapat ditutup dari hutang persekutuan kepada sekutu yang bersangkutan

Contoh 2

Persekutuan HOCKS dengan sekutu Harley,Oky,Kristian dan Samuel membagi laba atau rugi dengan ratio 30:20:25:25, pada awal tahun 2007 persekutuan tersebut sepakat untuk  dilikuidasi. Neraca persekutuan per Desember 2006 adalah sebagai berikut

capture-20141115-085136-crop

Jika dalam likuidasi tersebut semua aktiva non kas (piutang,persediaan dan peralatan ) dapat direalisasi sebesar Rp. 105.000.000. Semua utang dilunasi dan sisa kas dibagikan kepada para sekutu sesuai dengan ratio laba atau rugi.

Diminta buatlah laporan likuidasi dan jurnal yang diperlukan

Jawab 2 :

capture-20141115-085232-crop

capture-20141115-085314-crop

Daftar Pustaka :