Tags

Manajemen dan Manajerial (Dalam Pendidikan)

f_33817_management_board

Istilah “manajemen” dapat dipandang sebagai serangkaian proses pengelolaan seperti diungkapkan oleh Terry (2002) bahwa: “Management is distinct process consisting of planning, organizing, actuating and controlling, performed to determine and accomplish stated objectives by the use of human being and other resources”. (Manajemen adalah suatu proses tertentu yangterdiri atas perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan menggunakan manusia dan sumber daya lainnya).

Menurut Atmosudirdjo (1999) pengertian manajemen dapat
dipandang sebagai:

  1. Orang-orang
    Semua orang yang mempunyai fungsi atau kegiatan pokok sebagai pemimpin-pemimpin kerja.
  2. Proses
    Adanya kegiatan-kegiatan yang berarah ke bawah, jadi berupa kerja-kerja untuk mencapai tujuan tertentu.
  3. Sistem kekuasaan

Sistem kekuasaan atau kewenangan supaya orang-orang mejalankan pekerjaannya.

Sarwoto, (1997) bahwa: “Manajemen adalah satu proses kegiatan yang dengan memanfaatkan unsur-unsur ‘man’, ‘money‘, ‘material‘ dan ‘method‘ (4 M) secara efisien mencapai sesuatu tujuan tertentu”. Pengertian ini menunjukkan bahwa manajemen dapat pula dipandang sebagai sistem kekuasaan dalam arti bahwa dalam manajemen terdapatnya pembagian tugas dan wewenang, terjadi proses pengaturan kerja. Seperti yang dikemukakan oleh Moekijat (2001) bahwa “manajer tidak melaksanakan sendiri kegiatan-kegiatan yang bersifat operasional, melainkan mengatur tindakan-tindakan pelaksanaan oleh sekelompok orang yang disebut bawahan”.

Berdasarkan beberapa pengertian manajemen tersebut, maka dalam hubungannya dengan manajemen pendidikan, dapat disimpulkan bahwa, manajemen mengandung tiga aspek, yaitu substansi, proses, dan ‘setting’ atau konteks dimana proses manajemen itu berlangsung. Aspek substansi manajemen berkenaan dengan perangkat tugas pokok sistem manajemen dalam penyelenggaraan pendidikan yang komprehensif. Pandangan filsafat menganggap bahwa pendidikan merupakan upaya menjadikan manusia sebagai manusia yang sesuai dengan fitrahnya. Upaya tersebut, bukan hanya sekedar dipandang dalam arti pengajaran (proses belajar-mengajar), akan tetapi suatu proses dimana manusia dapat belajar sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan harapannya. Dengan demikian, manajemen pendidikan merupakan upaya bagaimana menciptakan situasi masyarakat dan bangsa dapat belajar.

Aspek proses, berkenaan dengan perangkat operasional sistem
manajemen pendidikan yang menyangkut proses-proses operasional organisasi dan kepemimpinan. Bila dikaitkan dengan substansi pendidikan maka alasan-alasan mengapa pendidikan memerlukan proses organisasi dan kepemimpinan;

Pertama, wawasan tentang kependidikan dan komponen-komponen yang tidak terdapat dalam substansi sistem manapun kecuali dalam sistem pendidikan. Kedua, administrasi pendidikan memfokuskan perhatian pada proses mengembangkan potensi peserta didik secara optimal, dan berperan sebagai wahana penyediaan kemudahan (fasilitasi) bagi kepentingan proses tersebut. Ketiga, sistem pendidikan memiliki komponen bukan manusia yang khas berupa kurikulum (materi/bahan, metodelogi/teknologi pendidikan, media dan sumber belajar media serta alat/sarana pendidikan. Keempat, sistem pendidikan memiliki komponen manusia berupa pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Pengadaan, penempatan, pembinaan dan pengembangan (supervisi) tenga pendidik senantiasa bermuara pada keperluan pengembangan potensi peserta didik secara optimal. Kelima, hubungan manajerial antara pengelola dan personel atau orang yang dikelola berada dalam posisi yang sederajat. Keenam, efisiensi-efektivitas dan produktivitas pengelolaan kegiatannya memperhatikan harkat dan martabat manusia. Kekhasan sistem tersebut, merupakan proses yang sangat berbeda dari proses manajemen lainnya. Dalam beberapa dari hal mungkin memiliki kesamaan dengan manajemen yang lain, bahkan mengadopsi dan atau mengadaptasi teori dan prinsip dari ilmu-ilmu lain, misalnya dari dunia bisnis, sosiologi dan psikologi, tetapi secara hakiki tetap berbeda dari sistem manajemen dan ilmu-ilmu lain tersebut.

Aspek setting, dalam wacana General System Theory berkenaan dengan perangakat pendukung sistem administrasi pendidikan, kontek lingkungan yang multi budaya (multicultural). Hal tersebut menunjukkan bahwa perkembangan dan kompleksitas praktek pendidikan, menimbulkan pula kerumitan-kerumitan dalam proses pembelajaran. Keanekaragaman setiap komponen dari sistem pendidikan memerlukan adanya wahana yang memungkinkan hasil pendidikan diperoleh dengan efektif, efisien, dan produktif, serta sesuai dengan yang dibutuhkan, diinginkan dan diharapkan oleh semua pihak. Merujuk filosofi pendidikan yang berazaskan demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat, mau tidak mau, suka atau tidak suka, penyelenggaraan pendidikan pada semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan haruslah lebih banyak diprakarsai, dilaksanakan, dikendalikan dan dievaluasi oleh masyarakat sesuai kebutuhan, keinginan dan harapan-harapan masyarakat itu sendiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa pada tatanan organisasi sistem pendidikan nasional, manajemen pendidikan pada jaman otonomi daerah, haruslah lebih banyak merujuk pada konsepsi Community Based Management (CBM). Sedangkan pada tatanan organisasi satuan pendidikan persekolahan haruslah merujuk pada konsepsi yang sejenis dengan apa yang disebut School Based Management (SBM). Dalam hubungannya dengan istilah “manajerial“, manajemen dipandang sebagai kemampuan orang-orang, yakni semua orang yang mempunyai fungsi atau kegiatan pokoknya melaksanakan tugas-tugas manajemen. Manajer memiliki tugas untuk melaksanakan semua kegiatan yang dibebankan organisasi padanya.

Sebagaimana dalam Webster’s New World Dictionary dijelaskan bahwa : “manager  a person who manages the affairs of a business, institution, team, etc” (manajer adalah seseorang yang memimpin semua hal dari suatu perusahaan, badan atau lembaga, tim, dan sebagainya). Apabila manajemen dapat dipandang sebagai serangkaian proses pengelolaan, yang menggunakan fungsi-fungsi manajemen, maka manajerialdapat pula dipandang sebagai kemampuan orang dalam melakukan proses-proses manajemen yang mengacu pada efisiensi dan efektivitas proses kegiatan.

Advertisements