Tags

,

Penggabungan Badan Usaha

merger

Berdasarkan  pernyataan  standar akuntansi  keuangan  (PSAK)  No.22 paragraf  08  tahun  1999:  ”Penggabungan usaha  (business  combination)  adalah pernyataan  dua  atau  lebih  perusahaan yang  terpisah  menjadi  satu  entitas ekonomi karena satu perusahaan menyatu dengan  (uniting  with)  perusahaan  lain atau  memperoleh  kendali  (control)  atas aktiva dan operasi perusahaan lain”.

Penggabungan  badan  usaha  adalah untuk  menggabungkan  suatu  perusahaan dengan  satu  atau  lebih  perusahaan  lain kedalam  satu  kesatuan  ekonomis.

Penggabungan  usaha  merupakan  salah satu  solusi  eksistensi  maupun  ekspansi perusahaan  menghadapi  persaingan usaha.  Eksistensi  adalah  kelangsungan usaha  untuk  dapat  bertahan  menghadapi persaingan   sedangkan  ekspansi merupakan  upaya  perusahaan  dalam usahanya  untuk  menjadi  besar  dan  kuat.

Ekspansi  perusahaan  dapat  dilakukan baik dalam bentuk ekspansi internal yaitu perluasan  usaha  dari  usaha  yang  telah ada.  Ekspansi  internal  terjadi  pada  saat divisi-divisi  yang  ada  dalam  perusahaan tumbuh  secara  normal  melalui  kegiatan capital  budgeting.  Sedangkan  ekspansi eksternal  yaitu  Mengadakan penggabungan  badan  usaha  (Payamta, 2001).

Pengertian Merger dan Akuisisi

Merger  adalah  penggabungan  dua usaha  atau  lebih  dengan  cara  pengalihan aktiva dan kewajiban suatu perusahaan ke perusahaan  lain.  Akuisisi  adalah penggabungan  usaha  dimana  perusahaan pengakuisisinya  memperoleh  kembali atas  aktiva  neto  dan  operasi  perusahaan yang  diakuisisi.  Sedangkan  konsolidasi adalah  penggabungan  usaha  yang dilakukan dengan mengalihkan aktiva dan kewajiban  perusahaan-perusahaan  yang bergabung  dengan  cara  membentuk perusahaan baru.

Merger  berasal  dari  bahasa  latin “mergere”  yang  berarti  bergabung bersama, menyatu,  berkombinasi. Merger dapat  diartikan  pula  hilangnya  suatu identitas  karena  terserap  atau  tertelan sesuatu.  Merger  atau  penggabungan kombinasi dari dua atau lebih perusahaan, dengan salah satu nama perusahaan yang bergabung tetap digunakan (Foster, 1986. dalam wibowo dan pakereng, 2001). Menurut  Mardiyanto  (2009,  h.316) turut mendefinisikan merger, dimana menurutnya merger adalah penggabungan dua atau lebih perusahaan  yang  masih  mempertahankan salah  satu  identitas  perusahaan  yang bergabung.

Merger  merupakan  suatu  langkah yang  dilakukan  mengikuti  tindakan akuisisi 100 persen namun dalam akuisisi 100  persen  kedua  belah  pihak  tetap  ada yaitu  baik  perusahaan  pengakuisisi maupun  perusahaan  target  (Ang  Robert, 1997)Misalkan  perusahaan  A  yang merger  dengan  perusahaan  B  kemudian hanya ada satu perusahaan saja yang akan tetap beroperasi sedangkan yang satu lagi akan  hilang  dan  hanya  perusahaan  A  tau B saja yang ada.

Menurut  Mardiyanto  (2009,  h.319) Jenis-jenis merger tediri dari :

1. Merger Horizontal (horizontal merger)

Merger  antara  perusahaan  yang sama  lini  bisnisnya.  Misalnya,  merger antara sesama pabrikan peralatan mesin.

2. Merger Vertikal (vertikal merger)

Merger  antara  perusahaan  yang mempunyai  hubungan  pemasokpelanggan.  Contohnya,  merger  antar pabrikan  peralatan  mesin  dan  pemasok cetakan peralatan-mesin.

3. Merger Kongenerik  (congeneric merger)

Merger  antara  perusahaan  yang berbeda  lini  bisnis  dan  tidak  memiliki hubungan  pemasok-pelanggan,  tatapi masih  dalam  satu  industri  yang  sama. Misalnya,  merger  antara  pabrikan peralatan-mesin dengan pabrikan sistem peralatan pembawa barang (conveyor).

4. Merger Konglomerat   (conglomerate merger)

Merger  antara  perusahaan  yang berbeda  jenis  bisnisnya.  Contohnya, merger antara pabrikan peralatan-mesin dengan perusahaan makanan siap saji.

Pengertian akuisisi berasal dari kata acquisition  (bahasa latin) atau  acquisition (bahasa  inggris),  yang  berarti  membeli atau  mendapatkan  sesuatu  atau  obyek tertentu   untuk  kemudian  ditambahkan pada  sesuatu  atau  obyek  tertentu  yang telah dimiliki. Akuisisi  merupakan  tindakan pembelian  saham  atau  asset  suatu perusahaan  yang  melebihi 50 persen dari modal  ditempatkan  dan  disetor  penuh  ke perusahaan  target.  Tindakan  pembelian saham yang melebihi 50 persen dimaksud berasal  dari  divestasi  pemegang  saham lama  perusahaan  target  (Ang  Robert, 1997).

Moin  (2010:8)  akuisisi  adalah  pengambilalihan  kepemilikan  atau pengendalian  atas saham  atau  aset  suatu  perusahaan  oleh  perusahaan  lain,  dan  dalam  peristiwa  ini  baik perusahaan pengambilalihan atau yang diambil alih tetap eksis sebagai badan hukum yang terpisah. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 tahun 1998 dalam (Moin, 2010:8) akuisisi  adalah  perbuatan  hukum  yang  dilakukan  oleh  badan  hokum  atau  orang perseorangan untuk mengambil alih baik seluruh atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.

PSAK  No.  22  tahun  2009  mendefinisikan  akuisisi  dari  perspektif  akuntansi  adalah suatu  penggabungan  usaha  dimana  salah  satu  perusahaan,  yaitu  pengakuisisi  (acquirer) memperoleh  kendali  atas  aktiva  neto  dan  operasi  perusahaan  yang  diakuisisi  (acquire), dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan saham.

Sedangkan Akuisisi  menurut  Foster  (1986)  dalam  Helga  dan  Salamun  (2006)  adalah  pembelianseluruh atau sebagian besar kepemilikan baik dalam bentuk saham ataupun aktiva olehperusahaan lain. Akuisisi  saham dilakukan dengan cara mengambilalih atau membeli seluruh  atau  sebagian  besar  saham  yang  telah  dikeluarkan  oleh  perusahaan  yang diakuisisi dengan menggunakan kas, saham atau sekuritas lain.  Menurut Payamta dan Setiawan  (2004)  dengan  akuisisi  mengakibatkan   beralihnya  pengendalian  kepada perusahaan lainnya. Misalkan  perusahaan  A  yang mengakuisisi  perusahaan  B  dengan menggunakan  pembelian  saham  atau asset perusahaan maka kedua perusahaan akan  tetap  ada  yang  mana  perusahaan  A mengambil  alih  perusahaan  B  dan dijadikan anak perusahaan A.

Menurut  Haryani  (2011,  h.25-28) akuisisi  dapat  dibedakan  dalam  tiga kelompok besar sebagai berikut :

1. Akuisisi horizontal

Akuisisi  yang  dilakukan  oleh suatu  badan  usaha  yang  masih berkecimpung dalam bidang bisnis yang sama.

2. Akuisisi vertikal

Akuisisi  yang  dilakukan  oleh suatu  badan  usaha  yang  bergerak  di bidang  industri  hilir  dengan  hulu  atau sebaliknya.

3. Akuisisi konglomerat

Akuisisi  badan  usaha  yang  tidak memiliki bidang bisnis yang sama atau tidak saling berkaitan.

Alasan untuk akuisisi

1. Meningkatkan kekuatan pasar

Alasan utama dari akuisisi adalah mencapai kekuatan pasar yang lebih besar. Kekuatan pasar didapat pada saat perusahaan mampu untuk menjual produknya atau pelayanannya diatas level kompetitif atau pada saat biaya-biaya utamanya atau kegiatan pendukung dibawah para pesaing.Kekuatan pasar didapat dari ukuran perusahaan, sumber daya dan kemampuannya untuk bersaing di pasaran.

2. Mengatasi hambatan untuk memasuki pasar

Hambatan-hambatan untuk memasuki pasar adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan pasar atau perusahaan-perusahaan yang sekarang ini beroperasi dan meningkatkan biaya dan menyulitkan perusahaan baru untuk memasuki pasar tertentu. Hambatan masuk yang dihadapi perusahaan pada saat mencoba memasuki pasar internasional sering kali merupakan langkah yang sangat sulit. Sebagai jawabannya akuisisi seringkali digunakanuntuk mengatasi hambatan tersebut.

3. Biaya pengembangan Produk Baru

Mengembangkan produk baru sendiri dan sukses memperkenalkannya kepada pasar seringkali membutuhkan investasi yang signifikan dalam sumber daya perusahaan. Akuisisi merupakan cara lain dimana perusahaan dapat memperoleh akses terhadap produk baru dan terhadap produk yang ada tapi baru bagi perusahaan. Akuisisi memberikan perkiraan penghasilan yang lebih baik dengan memasuki pasar secara cepat karena kinerja produk perusahaanyang di akuisisi dapat dinilai sebelum menyelesaikan proses akuisisi.

4. Meningkatkan kecepatan memasuki pasar

Dibandingkan pengembangan produk internal, akuisisi dapat lebih cepat memasuki pasar. Akuisisi tetap harus menjadi jalan tercepat untuk pasar baru dan untuk kemampuan baru. Penggunaan kemampuan yang baru sebagai pioner produk baru untuk memasuki pasar secara cepatdapat menciptakan posisi pasar yang menguntungkan.

5. Resiko lebih rendah dibandingkan dengan pengembangan produk baru

Proses pengembangan produk internal dapat beresiko. Sebagai alternatifnya, karena hasil dari akuisisi dapat diramalkan dengan lebih mudah dan akurat dibandingkan dengan hasil dari proses pengembangan produk internal, manajer lebih melihat akuisisi menghasilkan resiko yang rendah.

6. Peningkatan Diversifikasi

Berdasarkan pengalaman dan hasil dari diversifikasi, perusahaan menemukannya secara khusus kemudian mengembangkan dan memperkenalkan produk baru ke dalam pasar yang disediakan perusahaan saat ini. Sangat sulit bagi perusahaan untuk mengembangkan suatu produk yang berbeda dari bentuknya yang sekarang ke dalam pasar dimana mereka belum berpengalaman. Ini tidak umum bagi perusahaan untuk mengembangkan produknya secara internal yang berarti mendiversifikasi bentuk produk tersebut. Perusahaan biasanya boleh memilih untuk menggunakan akuisisi yang berarti terikat dalam diversifikasi produk.

7. Membentuk kembali jangkauan kompetitif perusahaan

Intensitas persaingan yang kompetitif merupakan karakteritik industri yang mempengaruhi profitabilitas Perusahaan. Untuk mengurangi efek negatif dari adanya persaingan yang ketat dalam kinerja keuangannya, perusahaan mungkin menggunakan akuisisi sebagai jalan untuk menghalangi ketergantungannya pada satu produk atau pasar. Mengurangi ketergantungan perusahaan pada satu produk atau pasar mengubah jangkauan kompetitif perusahaan.

Masalah Dalam Mencapai Suksesnya Akuisisi

1. Kesulitan Integrasi

Mengintegrasikan dua perusahaan untuk mengikuti akuisisi sangat sulit. Masalah pengintegrasian termasuk di dalamnya adalah dua budaya perusahaan yang  berbeda, menghubungkan sistem keuangan dan sistem pengendalian, membangun hubungan kerja yang efektif dan memutuskanmasalah mengenai status eksekutif perusahaan yang baru.

2. Evaluasi sasaran yang tidak memadai

Kegagalan untuk memenuhi proses studi kelayakan yang efektif sering kali membuat perusahaan yang mengakuisisi harus membayar harga premium, kadangkadang sangat berlebih untuk perusahaan sasaran. Premium yang dibayarkan tanpa studi kelayakan yang efektif menunjukkan bahwa jumlah premium pembelian tidak menjamin keberhasilan akuisisi.

3. Utang banyak atau luar biasa

Untuk menghitung jumlah dari akuisisi secara lengkap sejak 1980an sampai 1990an, beberapa perusahaan  secara signifikan meningkatkan tingkat pinjaman mereka. Sebagian membuat kemungkinan ini sebagai inovasi dalam bidang keuangan yang disebut junk bond, pilihan perhitungan melalui sejauh mana resiko akuisisi didanai dengan uang (hutang) yang memberikan pengembalian yang secara potensial besar kepada yang meminjami (pemegang obligasi). Pada awal abad 21, junk bond jarang digunakan untuk mendanai akuisisi.

4. Ketidakmampuan Untuk Mencapai Sinergi

Perusahaan mengembangkan keunggulan bersaing melalui strategi akuisisi hanya ketika transaksi menghasilkan sinergi pribadi (private sinergi), yang dihasilkan ketika adanya kombinasi dan integrasi atas asset perusahaan yang menghasilkan kemampuan dan kompetensi inti yang tidak dapat dikembangkan dengan menggabungkan dan mengintegrasikan asset perusahaan dengan perusahaan lain. Sinergi pribadi tercipta ketika asset perusahaan saling melengkapi dengan suatu cara yang unik, tipe khusus dari asset yang saling melengkapi tersebut tidak mungkin dikombinasikan dengan asset perusahaan yang lain.

5. Terlalu Banyak Diversifikasi

Secara umum perusahaan menggunakan strategi diversifikasi yang berhubungan selain menggunakan diversifikasi yang tidak berhubungan. Perusahaan dapat mengalami overdiversifikasi. Tingkatan dimana hal ini terjadi pada berbagai perusahaan bisa bermacam–macam. Alasandari banyaknya variasi adalah bahwa tiap perusahaan mempunyai kemampuan  yang berbeda yang digunakan untuk mengelola diversifikasi secara sukses. Tanpa menghiraukan tipe strategi diversifikasi yang diimplementasikan, penurunan kinerja biasanya terjadi akibat overdiversifikasi, setelah unit bisnis yang berbeda tersebut dilepaskan.

6. Manajer terlalu fokus pada akuisisi

Manajer yang terlalu fokus pada akuisisi dalam menilai hasil yang dicapai melalui penggunaan strategi akuisisi, dibandingkan dengan hasil yang dicapai melalui strategi lain dengan efektif.

7. Terlalu Besar

Kebanyakan akuisisi menciptakan perusahaan yang besar. Dalam teori peningkatan ukuran akan membantu perusahaan mendapatkan skala ekonomi dalam berbagai fungsi organisasi. Dengan kata lain,pada beberapa level penambahan biaya diperlukan untuk mengatur perusahaan yang lebih besar melebihi efisiensi keuntungan yang diciptakan oleh skala ekonomi. Sebagai tambahannya, ketika berhadapan dengan kekomplekan yang dihasilkan oleh ukuran yang besar, manajer terutama dari perusahaan pengakuisisi memutuskan bahwa kontrol birokrasi akan digunakan untuk mengatur operasi perusahaankombinasi. Kontrol birokrasi adalah dirumuskannya pengawasan dan perilaku hukum dan peraturan yang dibentuk untuk menjamin konsistensi keputusan dan tindakan antar unit yang berbeda di dalam perusahaan. Konsistensi keputusan dan tindakan dalam hal ini dapat menguntungkan perusahaan, terutama dalam pembentukan prediksi dan penurunan biaya

Akuisisi yang Efektif

Kita telah mencatat bahwa strategi akuisisi tidak selalu konsisen menghasilkan pengembalian diatas rata–rata untuk shareholder perusahaan yang melakukan akuisisi. Namun beberapa perusahaan dapat menciptakan nilai melalui  penggunaan strategi akuisisi. Atribut dan hasil dari akuisisi yang sukses dirangkum dalam tabel 2 pada halaman berikut ini. Manajer yang mencari kesuksesan akuisisi harus menekankan pada ketujuh atribut yang telah dicantumkan.

capture-20141128-072355-crop

Langkah –Langkah Merger Dan Akuisisi

1. Tahapan Merger

Dalam proses melakukan merger terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan sebelum, dalam, maupun setelah merger terjadi. Menurut Caves, langkah – langkah yang harus diambil dapat dibagi menjadi tiga bagian (Estanol, B et al2004) yaitu :

  • Pre – Merger

Pre-merger dalam hal ini merupakan keadaan sebelum merger dimana dalam tahap ini, tugas dari seluruh jajaran direksi maupun manajemen kedua atau lebih perusahaan untuk mengumpulkan informasi yang kompeten dan signifikan untuk kepentingan proses merger perusahaan – perusahaan tersebut.

  • MergerStage

Pada saat perusahaan–perusahaan tersebut memutuskan untuk melakukan merger, hal yang harus dilakukan oleh mereka untuk pertama kalinya dalam tahap ini adalah menyesuaikan diri dan saling mengintegrasikan diri dengan partner mereka agar dapat berjalan sesuai dengan partner mereka.

  • Post – Merger

Pada tahapan ini, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan oleh perusahaan. Langkah pertama (1) yang akan dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan restrukturisasi, dimana dalam merger, sering terjadi adanya dualisme kepemimpinan yang akan membawa pengaruh buruk dalam organisasi. Langkah kedua (2) yang diambil adalah dengan membangun suatu kultur baru dimana kultur atau budaya baru ini dapat merupakan gabungan dari keunggulan kedua budaya perusahaan atau dapat juga merupakan budaya yang sama sekali baru bagi perusahaan. Langkah ketiga (3) yang diambil adalah dengan cara melancarkan transisi, dimana yang harus dilakukan dalam hal ini adalah dengan membangun suatu kerjasama, dapat berupa tim gabungan ataupun kerjasama mutual.

2. Tahapan Akuisisi

Menurut Ronnie H. Rusli (1992) bahwa proses akuisisi harus melalui tahapan sebagai berikut : (1) ijin dari pemegang saham antara kedua perusahaan, (2) proses negoisasi yang panjang dan mengikutsertakan akuntan, penasehat hukum, dan investment banker, (3) melakukan pembelian saham yang ada ditangan publik, baik investor minoritas maupun individu, (4) kewajiban atau hutang dari perusahan target secara otomatis menjadi kewajiban perusahaan yang mengambil alih, (5) peleburan system manajemen ke dalam manajemen baru perusahaan yang mengambil alih, (6) proses perijinan mungkin akan lebih kompleks terlebih-lebih bila kedua perusahaan tersebut merupakan perusahaan publik, dan (7) dana yang dibutuhkan akan semakin besar jumlahnya karena pembelian saham akan bersifat pelelangan dengan tendering.

Referensi :

Ayu Epriyeni dan Rika Kharlina E, S.E, M.Ti dalam “Pengaruh Pengumuman Merger, Akuisisi dan Right Issue Terhadap ABNormal Return Saham Di Bursa Efek Indonesia”

Dra. Suryati,SE (Dosen STIA ASMI Solo) dalam “Strategi Akuisisi dan Restrukturisasi”

Dyaksa Widyaputra,SPI dalam “Analisis Perbandingan Kinerja Perusahaan & ABNormal Return Saham Sebelum & Sesudah Merger dan Akuisisi (Di Bursa Efek Jakarta Periode 1998 – 2004)”

Edfan Darlis dan Zirman dalam “Dampak Publikasi Akuisisi Terhadap Perusahaan Pengakuisisi”

Eliya Wahyu Rusnanda, SE dan Pardi SE, MM dalam “Analisa Pengaruh Pengumuman Merger dan Akuisisi Terhadap ABNormal Return Saham Bank Umum di Bursa Efek Indonesia”

Machrus Ali Marzuki dan Nurul Widyawati dalam “Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Akuisisi : Studi Pada PT Bank CIMB Niaga”

Muhamad Syaichu dalam “Merger dan Akuisisi : Alternatif Meningkatkan Kesejahteraan Pemegang Saham”

Putri Novaliza dan Atik Djajanti dalam “Analisis Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Kinerja Perusahaan Publik Di Indonesia (Periode 2004 –    2011)”

Ruddy Tri Santoso dalam “Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap EfisiensibPerbankan di Indonesia (Tahun 1998 – 2009)”

Vally Auqie dalam “Dampak Merger dan Akuisisi Terhadap ABNormal Return dan Kinerja Keuangan Bidder Firm di Sekitar Tanggal Pengumuman Merger dan Akuisisi Pada Perusahaan Yang Terdaftar Pada Bursa Efek Indonesia Periode 2009 – 2012”