Tags

Visi dan Misi dalam Manajemen Pendidikan

visi_misi1

Penerapan manajemen bagi suatu organisasi khususnya pada organisasi kependidikan sangat ditentukan oleh struktur hirarki organisasi yang berlaku. Pada kasus organisasi kependidikan di Indonesia mempunyai struktur hirarki yang panjang dan bertingkat (stratum) dari tingkat pusat, propinsi, kabupaten/kotamadya, kecamatan, sampai ke tingkat kelembagaan (PKBM).

Dalam terminologi manajemen bila dipandang dari hirarki sistem dikenal pula sebutan manajemen puncak (top management), manajemen tingkat menengah (midle management), dan manajemen tingkat bawah (lower management). Terminologi mana yang sepadan bila kedua struktur tersebut dipadukan, akan tergantung pada bagimana organisasi tersebut dipandang; apakah sebagai total sistem, sub-sistem, komponen, dimensi atau variabel dari sistem lainnya.

Jika organisasi tingkat pusat dianggap total sistem, posisi tugas pokok manajemen, menurut Yoyon Bahtiar Irianto (2002) berkaitan dengan terminologi manajemen strategik; Organisasi pada tingkat propinsi sebagai sub-sistemnya akan berkenaan dengan terminologi manajemen koordinatif; dan organisasi pada tingkat kabupaten/kota akan berkenaan dengan terminologi manajemen taktis; Serta pada organisasi tingkat kecamatan dan kelembagaan akan berkenaan dengan terminologi manajemen operasional.

Misi manajemen lebih ditekankan untuk menghasilkan sejumlah alternatif tindakan, sebagai pedoman untuk perencanaan, pengorganisasian, pengendalian, monitoring, mengkoordinasikan aktivitas-aktivitas bertujuan jangka panjang; Merupakan dasar pengujian kembali dan perbaikan tujuan, kesinambungan antara rencana dengan kebijakan, menyeluruh, serta menggunakan metoda dan teknik: PPBS, analisa sistem, network scheduling, MIS, model-model simulasi, analisis lingkungan dan pengukuran kebutuhan, cost-benefit dan efectiveness analysis, management dan sistem control, serta operasi riset.

Berdasarkan pengertian di atas, secara operasional manajemen pendidikan dapat didefinisikan sebagai serangkaian aktivitas yang rasional terhadap masalah-masalah pendidikan, dan aktivitas itu itu dilakukan secara bertahap melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi, serta ahirnya dilaksanakan dengan penuh kebijakan. Ditinjau dari bentuk keorganisasian manajemen sistem pendidikan sebagaimana dipaparkan di muka, maka ruang lingkup substansi manajemen pendidikan dapat dibagi pula ke dalam tingkat-tingkat seperti: tingkat makro, meso dan tingkat mikro. Dengan istilah yang lebih populer, manajemen makro adalah pada tingkat pusat (nasional), manajemen meso adalah pada tingkat propinsi, sedangkan manajemen mikro adalah manajemen pada tingkat kabupaten atau kelembagaan. Demarkasi dari pembagian tersebut sebenarnya lebih bersifat konstektual daripada bersifat konseptual dan teknikal (Soenarya, 2002).

Konsep Visi dan Misi dalam Konteks Manajemen Stratejik

Fakry Gaffar (2001) mengartikan visi sebagai “daya pandang yang jauh, mendalam dan luas yang merupakan daya fikir abstrak yang memiliki kekuatan amat dahsyat dan dapat menerobos segala batas-batas fisik, waktu, dan tempat”. Karena itu, dalam pandangannya, visi adalah kunci energi manusia, kunci atribut pemimpin dan pembuat kebijaksanaan. Visi dipandang sebagai suatu inovasi dalam proses Manajemen Strategik, karena baru pada akhir -akhir ini disadari dan ditemukan bahwa visi itu amat dominan peranannnya dalam proses pembuatan keputusan termasuk dalam setiap pembuatan kebijakansaaan dan penyusunan strategi. Dari sudut pandang Manajemen Strategik, visi, kebijaksanaan dan strategi diletakan dalam suatu kontinuun yang utuh. Oleh karena itu, keseluruhan analisis tidak terlepas dari pola fikir ini. Dalam konstruk berfikir ini maka kebijaksanaan dapat diberi arti sebagai seperangkat keputusan yang mendasar dan konprehensif yang dapat dijadikan pedoman dalam tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan strategi adalah infrastruktur yang menjabarkan kebijaksanaan dalam proses perilaku untuk mewujudkan dan merealisasikan visi menjadi suatu kenyataan. Visi, kebijaksanaan dan strategi merupakan suatu kesatuan utuh yang diperlukan dalam mengembangkan organisasi pendidikan.

Organisasi pendidikan di Indonesia mengemban tujuan dan misi yang jelas dalam konteks pembangunan bangsa secara keseluruhan. Tujuan ini merupakan arah yang harus dijadikan kiprah oleh setiap manajemen pendidikan. Sedangkan misi adalah suatu tanggung jawab dan tugas yang diemban oleh organisasi pendidikan untuk diwujudkan, misalnya membina manusia Indonesia profesional yang beriman dan bertaqwa. Misi dan tujuan walaupun secara teoretik berbeda namun pada hakekatnya merupakan satu kesatuan. Tujuan dan misi ini diikat dan dilandasi oleh suatu norma, suatu keyakinan yang dijadikan pegangan dan dijadikan landasan perjuangan yang disebut nilai atau values. Nilai atau values ini membentuk landasan yang kokoh bagi tujuan dan misi organisasi pendidikan. Values, tujuan dan misi, muncul kepermukaan dari visi. Dengan kata lain values, tujuan dan misi pada hakekatnya adalah unsur-unsur yang berkaitan erat yang mempunyai fungsi yang tidak sama namun merupakan satu kesatuan yang utuh yang muncul keluar dari visi.

Proses Pembentukan Visi Kelembagaan Pendidikan

Visi terbentuk dan tumbuh berkembang sebagai hasil daya fikir dan hasil dinamika proses psikologi seseorang atau sekelompok orang. Orang ini mungkin manager, pemimpin, baik formal maupun informal atau perorangan yang memiliki kemampuan untuk melahirkan, membentuk dan mengembangkan visi. Terbentuknya visi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti: pengalaman hidup, pendidikan, pengalaman profesional, interaksi dan komunikasi internasional, berbagai pertemuan keilmuan dan berbagai kegiatan intelektual lain yang membentuk mindset atau pola fikir tertentu.

Mindset ini meletakan seluruh fenomena dalam posisi objektif yang mencakup keseluruhan perspektif dengan rinci, komprehensif, global yang dapat mempengaruhi kepentingan orang banyak dalam jangka panjang. Mindset ini terbentuk oleh visi, dan amatlah penting dimiliki oleh setiap pemimpin. Karena pengaruh visi yang berjangka panjang ini, maka visi seyogyanya merupakan tugas utama pemimpin untuk melahirkan, memelihara, mengembangkan, mengkomunikasikan dan mempertahankannya. Josep V. Quigley dalam Fakry Gaffar (2001) berpendapat bahwa visi harus selalu disegarkan, sehingga tetap sesuai dan sepadan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungannya. Karena itu pula visi dalam konteks ini merupakan atribut utama seorang pemimpin. Karena itu maka tanggung jawab dan tugas pemimpin adalah melahirkan, memelihara, mengkomunikasikan, menerapkan, dan menyegarkan. visi agar tetap memiliki kemampuan untuk memberikan respon yang tepat dan cepat terhadap berbagai permasalahan dan tuntutan yang dihadapi organisasi. Merujuk pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa visi itu ternyata berproses, dapat direkayasa dan ditumbuh-kembangkan. Karena itu, Joseph V. Quigley dalam Fakry Gaffar (2001), berpendapat bahwa terbentuknya visi itu seharusnya melalui proses partisipasi dan musyawarah antar anggota kelompok team inti atau core leadership team members dalam Leadership Conference Planing Process (LCPP). Tahapan proses ini mencakup tiga fase kegiatan yaitu: pembentukan dan perumusan visi oleh anggota team inti kepemimpinan, kemudian merumuskan strategi secara konsensus, dan terakhir membulatkan sikap dan tekad sebagai total commitment untuk mewujudkan visi ini menjadi suatu kenyataan.

Visi dan Manajemen Strategik

Perkenankanlah sekarang saya mengkaji lebih jauh tentang Manajemen Strategik yang akhir-akhir ini banyak menarik perhatian, dan memberikan analisis tentang keterkaitannya dengan visi. Samuel C. Cetro dan J. Paul Peter (2000), memberikan defenisi Strategic Management sebagai berikut: “Strategic Management is a continous, iterative process aimed at keeping the organization appropriately matched to its environment”. Dalam defenisi ini unsur berkelanjutan, berulang kembali secara sikuensial dalam satu siklus, dan unsure kesepadanan dengan kebutuhan dan aspirasi yang berkembang di masyarakat, merupakan ciri utama dari konsep Strategic Management itu. Definisi di atas diperjelas lebih jauh melalui konsep proses Strategic Management yang terdiri dari: 1) Menganalisis lingkungan, 2) Menentukan arah organisasi, 3) Merumuskan strategi , 4) Melaksanakan strategi, 5) Melakukan pengendalian Proses Strategic Management ini sikuensial secara logis dan sistematis.

Mengkaji lingkungan, difokuskan kepada pemahaman terhadap kebutuhan dan
aspirasi serta perubahan-perubahan yang berkembang di masyarakat sebagai rujukan utama dalam menciptakan kesepadanan organisasi terhadap kebutuhan masyarakat. Sedangkan dalam merumuskan direction organisasi, yang menjadi fokus utamanya adalah menyusun misi dan objektif yang merupakan arah dan kiprah organisasi. Atas dasar kebutuhan yang berkembang di masyarakat, dan dengan misi dan objektif yang jelas, maka strategi organisasi dengan langkah-langkah implementasinya dapat dengan sistematis dibangun sebagai alternatif yang tepat untuk mewujudkan misi dan objektif itu. Kendali organisasi adalah langkah akhir dan diperlukan untuk menjamin bahwa strategi dan implementasinya itu berada pada jalur yang tepat, dan untuk menjamin bahwa kekeliruan, penyimpangan dan kelemahan dapat dihindari. Ini mengandung implikasi bahwa proses manajemen berjalan dengan efisien dan efektif.

Definisi dan uraian tentang proses Strategic Management di atas, tampaknya sederhana namun mengandung makna yang cukup mendasar dan strategis, karena itu dunia bisnis dan industri berpendapat bahwa Strategic Management bagi mereka, dapat diandalkan karena memiliki fleksibilitas dan daya respon yang tinggi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat. Strategic Management dipandang sebagai suatu terobosan dari suatu proses evolusi managemen yang cukup panjang. Dalam konsep Strategic Management di atas dimanakah peran dan posisi misi itu? jawabannya adalah: visi berada dalam definisi Strategic Management itu sendiri. Tanpa visi, seorang manager akan sulit memahami apa yang terjadi di lingkungannnya dengan tajam dan tepat. Tanpa misi, visi, tujuan dan values yang diperlukan dalam mengembangkan arah atau kiprah organisasi tidak mungkin dirumuskan dengan tepat dan komprehensif. Strategi dengan implementasinya, sulit diterapkan tanpa merujuk kepada visi yang ada di dalam “organizational, direction, mission, and objectives”.

Advertisements