Tags

,

INCOME SMOOTHING ?

smoothing-out-unstable-income

DEFINISI / PENGERTIAN DARI ” INCOME SMOOTHING ” :

  • INCOME SMOOTHING = PERATAAN LABA
  • Belkaoui, 1993 : Perataan laba merupakan normalisasi laba yang dilakukan secara sengaja untuk mencapai trend atau level laba tertentu.
  • Beidelman (1973) : Perataan laba yang dilaporkan dapat didefinisikan sebagai usaha yang sengaja untuk meratakan dan mengfluktuasikan tingkat laba. Dalam hal ini, perataan laba menunjukkan suatu usaha manajemen perusahaan untuk mengurangi variasi abnormal laba dalam batas-batas yang diijinkan dalam praktik akuntansi dan prinsip manajemen yang wajar (sound).
  • Barnea et al (1976) dalam Dwiatmini dan Nurcolis (2001) mendefenisikan perataan laba sebagai pengurangan yang disengaja terhadap fluktuasi pada beberapa level laba supaya dianggap normal bagi perusahaan.
  • Koch (1981) dalam Hermawan (1998) yang dikutip Ariyani (2004) menyatakan bahwa perataan laba merupakan alat yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi besarnya variabilitas pendapatan atau laba yang dilaporkan untuk tujuan tertentu dengan cara memanipulasi variable artifical (akuntansi) atau variable real (transaksi).
  • Sofyan Syafri dalam bukunya yang berjudul Analisa Kritis Atas Laporan Keuangan, menyatakan bahwa praktik perataan laba adalah upaya menstabilkan laba dimana tidak banyak variance dari satu periode ke periode lain sehingga dinilai sebagai prestasi baik.
  • Poll (2004) dalam Juniarti (2005:150) smoothing of income is a way of removing volatility in earnings by leveling off the earnings peaks and raising the valleys.
  • Frudenberg dan Tirole (1995) dalam Nurkhabib (2004:11) mendefinisikan perataan laba sebagai proses manipulasi profil waktu earning atau pelaporan earning agar aliran laba yang dilaporkan perubahannya lebih sedikit.
  • Arens, et. al (2005: 310) Income smoothing (perataan laba) adalah a form of earnings management in which revenues and expenses are shifted between periods to reduce fluctuations in earnings.
  • Harahap (2005) perataan laba adalah upaya yang dilakukan oleh manajemen untuk menstabilkan laba.

PIHAK YANG BERKEPENTINGAN DALAM MELAKUKAN INCOME SMOOTHING :

Hanya ada satu pihak yang sangat berkepentingan dalam melakukan income smoothing ini, yaitu : Manajemen Intern Perusahaan. Seperti yang dijeleskan bahwa pihak manajemen perusahaan sangat menyadari peranan informasi laba dalam income statement. Oleh karena itu, pihak manajemen cenderung memberikan kebijakan dalam penyusunan laporan keuangan untuk mencapai tujuan tertentu yang biasanya bersifat jangka pendek (Kusuma & Sari, 2003). Pilihan kebijakan akuntansi yang dilakukan manajemen untuk tujuan spesifik itulah yang disebut dengan manajemen laba (Scott, 2000) yang salah satu bentuk nya adalah dengan praktik perataan laba (Income Smoothing).

JENIS – JENIS INCOME SMOOTHING :

Ada dua jenis perataan laba, yaitu (Riahi-Belkaoui, 2004):

  1. Intentional atau designed smoothing, ialah keputusan atau pilihan yang dibuat untuk mengatur fluktuasi earnings pada level yang diinginkan.
  2. Natural Smoothing, adalah income generating process yang natural, bukan dari hasil tindakan yang diambil manajemen.

SIFAT PROPORSI INCOME SMOOTHING :

Secara lebih spesifik, teorisasi Gordon tentang perataan income adalah sebagai berikut:

Proporsi 1 : Kriterium yang digunakan manajemen korporat dalam memilih prinsip akuntansi adalah memaksimalkan utilitas atau kemakmurannya.

Proporsi 2 : Utilitas manajemen meningkatkan seiring dengan :

  1. Keamanan kerjanya.
  2. Aras (level) dan tingkat pertumbuhan dalam income manajemen.
  3. Aras dan tingkat pertumbuhan besarnya korporasi.

Proporsi 3 : Pencapaian tujuan manajemen yang dinyatakan dalam proporsi 2 sebagian tergantung pada kepuasan pemegang saham terhadap kinerja korporasi yaitu jika hal-hal lain sama, makin bahagia pemegang saham, makin besar keamanan kerja, income dan sebagainya dari manajemen.

Proporsi 4 : Kepuasan pemegang saham terhadap korporasi meningkat seiring dengan rata-rata tingkat pertumbuhan incomekorporasi (atau rata-rata tingkat return terhadap modalnya) dan stabilitas income-nya.

Teorema : Apabila ke tempat proporsi di atas diterima atau terbukti benar, maka manajemen dalam lingkup kekuasaannya. Yaitu ruang gerak yang diijinkan oleh aturan akuntansi akan (1) meratakan income yang dilaporkan (2) meratakan tingkat pertumbuhan income.

MOTIVASI / FAKTOR PENDORONG INCOME SMOOTHING :

Factor yang mendorong manajemen melakukan perataan laba menurut (Sugiarto, 2003)

1. Kompensasi bonus

Pada penelitiannya, Healy menemukan bukti bahwa manajer yang tidak dapat memenuhi target laba yang ditentukan akan memanipulasi laba agar dapat mentransfer laba masa kini menjadi laba masa depan. Selain itu, menurut Harahap(2005), pentingnya laporan keuangan mengundang manajemen untuk meratakan laba demi mendapatkan bonus yang tinggi.

2. Kontrak Utang

Defond dan Jimbalvo (1994) dengan menggunakan model Jones, mengeveluasi tingkat akrual perusahaan yang tidak dapat memenuhi target laba. Mereka menemukan bahwa perusahaan yang melanggar perjanjian utang telah merekayasa labanya, satu periode sebelum perjanjian utang itu dibuat.

3. Faktor Politik

Jones (1991) meneliti perusahaan yang sedang diinvestigasi oleh International Trade Commision (ITC). Ia menemukan bukti bahwa produsen domestic cenderung menurunkan laba dengan teknik discretionary accrual untuk mempengaruhi keputusan regulasi impor. Naim dan Hartono (1996) meneliti perusahaan yang diduga melakukan monopoli dan menemukan bahwa manajer perusahaan melakukan perataan laba untuk menghindari UU Anti-Trust.

4. Pengurangan Pajak

Perusahaan melakukan perataan laba untuk mengurangi jumlah pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah (Arens, Elder, Beasley, 2002)

5. Perubahan CEO

Pouciao (1993) menemukan bukti bahwa perekayasaan laba dilakukan dengan meningkatkan unexpected accruals pada periode satu tahun sebelum penggantian eksekutif tak rutin.

6. Penawaran saham perdana

Clarkson et al (1992) menyatakan ada reaksi positif dari pengumuman earnings forecast yang ada di prospektus dengan tingkat penjualan saham, karena public hanya melihat laporan keuangan yang dilaporkan pada regulator. Banyak perusahaan yang melakukan perataan laba demi mendapatkan dan mempertahankan investor (Jones, 2005).

Faktor lain yang menyebabkan manajer melakukan perataan laba menurut buku Accounting Theory (Riahi-Belkaoui, 2004:451), ialah :

  1. Mekanisme pasar kompetitif, yang mengurangi pilihan-pilihan yang tersedia untuk manajemen.
  2. Skema kompensasi manajemen, yang terkait langsung dengan kinerja perusahaan.
  3. Ancaman pergantian manajemen.

PENDEKATAN YANG DIGUNAKAN DALAM INCOME SMOOTHING

Albercht dan Richarson (1999) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan dalam studi yang berkaitan dengan perataan laba. Ketiga pendekatan tersebut adalah:

  1. The classical approach. Pendekatan ini digunakan untuk menguji hubungan antara variabel-variabel yang dapat digunakan untuk melakukan penstabilan laba dan pengaruhnya terhadap laba yang dilaporkan.
  2. The income variability approach. Pendekatan ini digunakan untuk membedakan tindakan/perilaku manajemen yang dapat menyebabkan timbulnya penstabilan laba secara artificial dengan peraturan yang bersiat real dan natural.
  3. The dual economy approach. Pendekatan ini dilakukan dengan membandingkan perubahan laba operasi dan laba normal dengan perubahan-perubahan biaya pada perusahaan-perusahaan berdasarkan sektor-sektor tertentu (di Amerika Serikat terdapat 2 sektor yaitu core dan periphery sector). Core sector terdiri dari durabel manufacturing dan industri yang mengolah hasil alam. Peripheri sector terdiri dari industri pertanian, non durable manufacturing, dan industri eceran.

DIMENSI – DIMENSI PERATAAN :

Dimensi perataan pada dasarnya adalah alat yang digunakan untuk melakukan perataan angka income. Dascher dan Malcolm membedakan antara perataan riil dan perataan artifisial sebagai berikut :

Perataan riil merujuk pada transaksi aktual yang dilakukan atau tidak dilakukan atas dasar efek perataannya terhadapincome. Sedangkan perataan artifisial merujuk pada prosedur akuntansi yang diimplementasikan untuk memindahkan biaya dan atau pendapatan dari satu periode ke periode yang lain.

Kedua tipe perataan tersebut mungkin tidak dapat dibedakan untuk kedua tipe tersebut. Uji operasional disarankan adalah mencocokkan kurva dengan arus dua income dihitung dengan dua cara :

a) Mengeluarkan variabel manipulatif yang mungkin dan

b) Memastikannya

Selain perataan riil dan artifisial, juga dikenal perataan klasifikator sebagai dimensi perataan yang ke tiga. Barnet et.al membedakan tiga dimensi sebagai berikut :

  1. Perataan melalui terjadinya peristiwa atau pengakuan.
  2. Perataan melalui alokasi dari waktu ke waktu.
  3. Perataan melalui klasifikasi (sehingga disebut perataan klasifikator).

TEKNIK INCOME SMOOTHING :

Teknik perataan Laba

Berbagai teknik yang digunakan dalam perataan laba diantaranya adalah sebagai berikut (Sugiarto, 2003):

  1. Perataan melalui waktu terjadinya transaksi atau pengakuan transaksi melalui kebijakan manajemen itu sendiri (accrual), misalnya: pengeluaran biaya riset dan pengembangan. Selain itu banyak juga perusahaan yang menerapkan kebijakan diskon dan kredit sehingga hal ini dapat menyebabkan meningkatnya jumlah piutang dan penjualan pada akhir bulan terakhir tiap kuarter, sehingga laba kelihatan stabil pada periode tertentu.
  2. Perataan melalui alokasi untuk beberapa periode tertentu. Manajer memiliki kewenangan untuk mengalokasikan pendapatan dan atau beban untuk periode tertentu. Misalnya, jika penjulan meningkat maka manajemen dapat membebankan biaya riset dan penelitian serta amortisasi goodwill pada periode itu untuk mensabilkan laba.
  3. Perataan melalui klasifikasi. Manajemen memiliki kewenangan dan kebijakan sendiri untuk mengklasifikasikan pos-pos rugi laba dalam katagori yang berbeda. Misalnya, jika pendapatan operasi sulit untuk didefenisikan maka manajer dapat mengklasifikasikan pos itu pada pendapatan operasi atau pendapatan non operasi. Dalam hal ini dapat digunakan sewaktu-waktu untuk meratakan laba melihat kondisi pendapatan periode itu.

Teknik-teknik itu memang mungkin untuk dilakukan karena Prinsip Akuntasi Berterima Umum (PABU) memberikan berbagai pilihan dalam mencatat berbagai peristiwa keuangan. Manajemen memiliki keleluasan untuk mengganti satu metode ke metode lain. Keleluasan untuk memakai teknik-teknik akuntansi dalam mencatat terbukti telah disalahgunakan oleh manajemen untuk melakukan perataan laba. Bahkan Koch (1981) mensinyalir bahwa perataan laba banyak dilakukan dengan mengunakan teknik-teknik akuntansi yaitu dengan merubah kebijakan akuntansi. (Sopa Sugiarto, 2003)

SASARAN PRAKTIK INCOME SMOOTHING :

Adapun yang dapat dijadikan sebagi sasaran praktik peratan laba adalah aktivitas-aktivitas yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mempengaruhi aliran data atau informasi. Untuk menciptakan laporan keuangan yang sesuai dengan keinginan manajemen, manejer dapat memasukkan informasi yang akan datang kedalam laporan periode ini atau sebaliknya (Priyo, 2001 dalam Ariyani, 2004).

Seperti yang dikutip dari Jin dan Machfoedz (1998) instrumen yang dapat digunakan dalam perataan laba antara lain adalah pendapatan, deviden, perubahan dalam kebijakan akuntansi, biaya pensiun, pos luar biasa, kredit pajak investasi, depresiasi dan biaya tetap, perubahan mata uang, klasifikasi akuntansi dan pencadangan.

Foster (1986) mengklasifiksikan unsur-unsur laporan keuangan yang dijadikan dalam praktik perataan laba, yaitu;

  1. Unsur Penjualan
    1. Saat pembuatan faktur. Misalnya: penjualan yang sebenarnya untuk periode yang akan datang pembuatan fakturnya dilakukan pada periode ini dan dilaporkan sebagai penjualan periode ini.
    2. Pembuatan pesanan atau penjulan fiktif.
    3. Downgrading (penurunan) produk. Misalnya dengan cara mengklasifikasikan produk yang belum rusak kedalam kelompok produk yang rusak dan selanjutnya dilaporkan telah terjual dengan harga yang lebih rendah dari harga yang sebenarnya.
  2. Unsur Biaya
    1. Memecah faktur. Misalnya faktur untuk sebuah pembelian/pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian/pesanan dan selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dengan tanggal berbeda kemudian dilaporkan dalam beberapa periode akuntansi.
    2. Mencatat prepayment (biaya dibayar dimuka) sebagai biaya. Misalnya melaporkan biaya advertensi dibayar dimuka untuk tahun depan sebagai biaya advertensi tahun ini.

Daftar Pustaka :

Amin Wildani, (2008). Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Peusahaan Manufaktur dan Keuangan yang Terdaftar di BEI.

Chairi, Anis dan Imam Nazah. 2003. Teori Akuntansi. Semarang : Badan Penerbit Universitas Dipenogoro.

Harahap, Sopyan Syafri. 2004. Teori Akuntansi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Harahap, Sofyan Syafri (2005). Teori Akuntansi, Jakarta: Rajawali Pers.

Riahi Ahmed, Belkaoul. 2000. Teori Akuntansi. Jakarta : Salemba Empat.

Riahi, Ahmed dan Belkaoui (2004). Accounting Theory, Fifth Edition, Thomson Learning.

Sugiarto, Sopa (2003). Perataan Laba Dalam Mengantisipasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Makalah dipresentasikan dalam Simposium Nasional Akuntansi VI.

Syahril Djaddang, Analisis Hubungan Perataan Laba (Income Smoothing) denganEkspektasi Laba Masa Depan Perusahaan Manufaktur yang Tedaftar di Bursa Efek Jakarta.

Advertisements