Tags

KONSEP DASAR PROFESI

silabus-guru

A. PERIHAL PROFESI DAN PENGERTIANNYA

Menurut Waddington (1996), istilah profesi pada awalnya berarti sejumlah pekerjaan terbatas yaitu pekerjaan-pekerjaan yang hanya ada dalam era pra-industri di eropa, yang membuat orang-orang berpenghasilan mampu hidup tanpa tergantung pada perdagangan atau pekerjaan manual.

Hukum, kedokteran, dan keagamaan merupakan tiga profesi klasik, tetapi pejabat angkatan darat dan angkatan laut kemudian juga dimasukan ke dalam profesi. Proses indrustrialisasi dikaitkan dengan perubahan besar dalam struktur profesi lama ini, dan dengan pertumbuhan lapangan kerja baru yang pesat, banyak dari pekerjaan ini kemudian mendapatkan status profesional. Perubahan-perubahan dalam struktur pekerjaan tersebut direfleksikan dalam literatur sosiologi, misalnya studi klasik oleh Carr-Saunderrs dan Wilson (1993), dalam usaha untuk mendefinisikan ciri atau karakteristik dari profesi modern. Pendekatan ini kadang-kadang disebut dengan pendekatan “ciri” atau “daftar periksa” – bagaimanapun juga belum mendapatkan persetujuan luas, seperti misalnya, apa definisi profesi yang bermanfaat dan memadai.

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa ada dua istilah yang jika tidak dijelaskan akan membingungkan, karena dewasa ini kedua istilah itu sering kali dipertukarkan atau disebut secara bergantian, yaitu  istilah pekerjaan dan istilah profesi. Sama atau berbedakah pengertian kedua istilah tersebut? Wirawan (2009), berpendapat, pekerjaan adalah aktivitas menyelesaikan sesuatu atau membuat sesuatu yang hanya memerlukan tenaga dan keterampilan tertentu seperti yang dilakukan oleh pekerja kasar atau blue collar worker.Dicontohkan termasuk dalam kategori pekerjaan misalnya sopir bus, pembantu rumah tangga, tukanag cukur, pengantar surat pos, dan tukang kayu. Sementara yang dimaksud profesi menurut Wirawan (2009), adalah suatu pekerjaan yang untuk menyelesaikannya memerlukan penguasaan dan penerapan teori ilmu pengetahuan yang dipelajari dari lembaga pendidikan tinggi seperti yang dilakukan oleh para profesional atau white collar worker. Contoh profesi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh manajer, dokter, guru dan dosen, hakim, jaksa, advokad atau pengacara, perawat, akuntan, dan lain-lain.

Hal menarik sebetulnya jauh-jauh hari pernah dikemukakan Millerson (1964), setelah meneliti literatur dengan cermat, mendaftar tidak kurang dari 23 unsur, yang dipisahkan dari karya 21 penulis, yang telah memasukkan berbagai definisi profesi. Hasilnya adalah, tidak ada item tunggal yang dapat diterima oleh penulis sebagai karakteristik profesiyang dibutuhkan, dan tidak ada dua penulis yang sepakat mengenai kombinasi elemen mana yang dapat dimbil sebagai definisi. Akan tetapi ada enam karakteristik yang disebut-sebut yaitu: memiliki keahlian berdasarkan pengetahuan teoretis, adanya pelatihan dan pendidikan, uji kemampuan anggota, organisasi, terikat dengan aturan pelaksanaan, dan adanya pemberian jasa altruistik.

Secara historis, sepanjang tahun 1950-an dan 1960-an banyak ahli sosiologi menggunakan pendekatan “daftar periksa” (check-list) untuk mempelajari pekerjaan, seperti kerja sosial, pengajar, perawat dan pustakawan, untuk melihat apakah pekerjaan itu bisa disebut sebagai profesi atau tidak. Namun demikian, sejak awal 1970-an pendekatan deskriptif ini semakin ditinggalkan karena banyaknya kritik tajam. Freidson (1970), dan Johnson (1972), misalnya, mengkritik bahwa ciri-ciri yang dipakai untuk mendefinisikan profesi seringkali, secara analitik dan empirik, bersifat mendua, sedangkan daftar dari elemen yang berfungsi mendefinisikan dibentuk secara sewenang-wenang, dan juga tidak banyak usaha untuk mengartikulasikan hubungan antara elemen-elemen secara teoretis. Akhirnya para kritikus merasa bahwa pendekatan ini cenderung mereflesikan gambaran ideologis yang oleh para profesional berusaha disampaikan dari karya-karya mereka sendiri.

Sejak tahun 1970-an literatur tentang profesi menjadi lebuh kritis dan cenderung terfokus pada analisis kekuasaan profesional, dan posisi profesi di dalam pasar tenaga kerja. Berkaitan dengan posisi profesi tersebut, Berlant (1975), misalnya, melihat profesionalisasi sebagai proses monopolisasi; sedangkan Larson (1977), melihatnya sebagai sesuatu proses mobilitas pekerjaan berdasarkan pada kontrol terhadap pasar tertentu. Namun demikian pengaruh yang dominan sepanjang 1970-an dan 1980-an barangkali dari Freidson dan Johnson, karena keduanya memokuskan diri pada kekuasaan profesional.

Freidson (1986), berpendapat bahwa otonomi profesional, yakni kekuasaan profesi untuk mendefinisikan dan mengontrol pekerjaan merekalah yang membedakan karakteristik dari profesi. Dalam perspektif ini pengetahuan yang khusus atau perilaku altruistik tidak dipandang sebagai karakteristik esensial dari profesi. Namun, klaim terhadap atribut-atribut semacam itu, terlepas dari soal valid atau tidak, barangkali penting dalam proses Profesionalisasi sepanjang atribut-atribut tersebut merupakan retorika dipandang dari segi kelompok pekerja yang berusaha untuk mendapatkan hak-hak istimewa seperti sistem lisensi, pengaturan sendiri, dan situasi pasar yang terjaga. Oleh karena itu proses profesionalisasi dilihat bersifat politis dalam karakternya, suatu proses “dimana kekuasaan retorika persuasif lebih diutamakan ketimbang karakter objektif dari pengetahuan, pelatihan dan pekerjaan.”

Karya Johnson (1972), berpusat pada analisis hubungan praktisi-klien. Dia mencatat bahwa pekerjaan yang secara konvesional disebut sebagai “profesi” telah, diberbagai waktu dan tempat, menjadi tunduk pada kekuatan klien (patronase), atau hubungan praktisi-klien mungkin diperantai oleh kelompok ketiga, seperti gereja atau negara (kontrol penengah). Istilah profesionalisme digunakan untuk bentuk khusus dari kontrol pekerjaan, yang melibatkan pengaturan sendiri tingkat tinggi dan kemandirian dari kontrol eksternal yang dalam bentuknya yang paling berkembang, merupakan produk dari kondisi sosial tertentu pada abad 19 di Inggris dan Amerika.

Abbott (1998; 1991), menyatakan bahwa profesi adalah kelompok pekerjaan eksklusif yang melakukan yuridiksi pada bidang pekerjaan tertentu. Yuridiksi ini dilaksanakan berdasarkan kontrol yang kurang lebih abstrak, esoterik dan pengetahuan intelektual; kelompok yang kurang pengetahuannya (misalnya polisi dibandingkan dengan pengacara) umumnya gagal dalam mempertahakan profesionalismenya. Apa yang berbeda dari pendekatan Abbott bukanlah definisi profesinya tetapi penegasannya bahwa profesionalisasi tidak dapat dipahami hanya sebagai perkembangan linier sederhana dari pekerjaan individu yang dilihat secara tersendiri, karena perkembangan berbagai profesi harus dipandang sebagai saling ketergantungan.

Ada sejumlah, dan kadang-kadang bertentangan, definisi dari profesi. Abbott (1991), telah mencatat kebingungan ini dan menyarankan bahwa “memulai dengan definisi bukan berarti memulai semuanya.” Barangkali yang lebih membantu adalah Freidson (1986), yang menunjukkan perbedaan penting antara profesi di Amerika Serikat dan di Inggris dan status jabatan yang tinggi di daratan Eropa, dan berpendapat bahwa profesionalisme adalah “penyakit Anglo-Amerika.” Ia berpendapat bahwa masalah tidak diciptakan: “dengan memasukan ciri pembawaan dan atribut dalam definisi. Masalah, terletak lebih dalam ketimbang hal tersebut. Masalah tercipta karena ada usaha untuk memperlakukan pekerjaan (profession) seolah-olah sebagai konsep generik ketimbang konsep historis yang berubah dengan akar yang bersifat unik di dalam negara industri yang sangat dipengaruhi oleh institusi Anglo-Amerika.”

Secara harfiah, kata profesi merupakan terjemahan istilah bahasa Inggrisprofession, yang artinya adalah pekerjaan. Berdasarkan kajian akademik, selain pengertian sebagaimana dikemukakan Waddington (1996), Wirawan (2009), dan Abbott (1988, 1991), di atas, ada pengertian lain profesi yang sejalan. Arifin (1995), misalnya, mengemukakan bahwa profession mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latian khusus. Menurut Kunandar (2007), profesi adalah suatu bidang pekerjaan yang ingin atau akan ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahhuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif. Jadi, profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian tertentu. Sedangkan menurut Martinis Yamin (2007), profesi mempunyai pengertian seseorang yang menekuni pekerjaan berdasarkan keahlian, kemampuan, teknik, dan prosedur berlandaskan intelektualitas. Sementara Jasin Muhammad dalam Muhamad Yunus Namsa (2006), mengemukakan bahwa profesi adalah suatu lapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi serta cara menyikapi lapangan pekerjaan yang berorientasi pada pelayanan yang ahli. Pengertian profesi ini mengandung makna bahwa di dalam suatu pekerjaan profesional diperlukan teknik serta prosedur yang bertumpu pada landasan intelektual yang mengacu pada pelayanan keahlian.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau keahlian yang mensyaratkan kompetensi intelektual, perilaku ilmiah berbasis ilmu pengetahuan dan keterampilan tertentu, memiliki etika tertentu, memiliki kesesuaian dengan kebutuhan dan permintaan pasar tenaga kerja, dan diperoleh seseorang melalui proses pendidikan dan pelatihan akademik di perguruan tinggi.

B. KARAKTERISTIK PROFESI

Sudah menjadi pemahaman kolektif bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan, namun tidak semua pekerjaan atau jabatan dapat disebut sebagai profesi. Menurut Brian Rowan (1994), ada suatu metode untuk menjadikan jabatan atau peekerjaan sebagai atau profesi yang disebut profesiisme. Profesiisme adalah suatu upaya untuk menerapkan faham profesi terhadap jabatan atau pekerjaan tertentu dan membandingkannya dengan jabatan lain sehingga menjadi jabatan atau pekerjaan tersebut sebagai profesi yang profesional. Salah satu teknik yang digunakan ialah membandingkan atau menganilisis karakteristik suatu pekerjaan yang sehingga pekerjaan tersebut dapat disebut sebagai profesi.

Perihal karakteristik profesi, Ornstein dan Levine (1984), mengemukakan bahwa suatu pekejaan atau jabatan disebut profesi apabila memenuhi sejumlah karakteristik berikut ini :

  1. Memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat, dalam arti pelayanan jasa tersebut merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat, tidak berganti-ganti pekerjaan.
  2. Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkuan khalayak ramai, artinya, tidak setiap orang dapat melakukannya.
  3. Pekerjaan yang dilakukan berangkat dari teori ke praktik dan hasil-hasil penelitian tentang pekerjaan itu sehingga sangat dimungkinkan adanya teori baru dan praktik baru pekerjaan.
  4. Memerlukan pelatihan khusus dengan waktu yang relatif lama (panjang).
  5. Terkendali berdasarkan “lisensi” baku dan atau mempunyai persyaratan masuk. Artinya, untuk mendapatkan pekerjaan tau jabatan tersebut diperlukan izin khusus atau sertifikasi serta persyaratan khusus yang dikeluarkan oleh organisasi atau birokrasi pemerintahan.
  6. Memiliki otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu yang tidak teratur oleh pihak luar.
  7. Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil dan kinerja yang ditampilkan yang berhubungan dengan layanan yang diberikan. Artinya, pertanggungjawaban bersifat personal terhadap apa yang diputuskannya, tidak dipindah ke pihak atasan atau instansi, baik horisontal maupun vertikal.
  8. Mempunyai sekumpulan kinerja terstandar (baku mutu).
  9. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dan klien; dengan penekanan terhadap layanan yang akan diberikan.
  10. Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya. Sebut misalnya, dokter, memakai tenaga administrasi (ahli rekam medis) untuk mendata klien dan mencatat segala segala kemajuan kesehatan klien berikut obat-obat apa saja yang telah diberikan sepanjang layanan medik.
  11. Relatif bebas dari supervisi dalam jabatan, artinya tidak ada supervisi dari pihak luar terhadap pekerjaan yang dilakukan.
  12. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri. Mempunyai asosiasi profesi dan atau kelompok “elit” untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan anggotanya, termasuk di dalamnya kewenangan organisasi profesi untuk menindak anggotanya yang “malpraktik” dengan berpegangan pada kode etik profesi yang telah disepakati bersama.
  13. Mempunyai kode etik (code of conduct) untuk menjelaskan hal-hal meragukan atau menyangsikan berhubungan dengan layanan pekerjaan yang diberikan.
  14. Mempunyai kadar kepercayaan yang tinggi dari publik dan kepercayaan diri setiap anggotanya.
  15. Secara umum dipandang sebagai suatu status sosial dan status ekonomi yang tinggi apabila dibandingkan dengan pekerjaan atau jabatan lainnya.

Sejalan dengan karakteristik tersebut, Achmad Sanusi, dkk. (1991), mengemukakan bahwa karakteristik suatu profesi adalah berikut ini :

  1. Suatu jabatan yaang memiliki fungsi dan signifikansi sosial yang menentukan (crusial).
  2. Jabatan yang menuntut keterampilan atau keahlian tertentu.
  3. Keterampilan atau keahlian yang dituntut jabatan itu didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
  4. Jabatan itu berdasarkan pada batang tubuh disiplin ilmu (body of knowledge) yang jelas, sistematik, eksplisit, dan bukan hanya sekedar pendapat khalayak umum (publik).
  5. Jabatan itu memerlukan pendidikan tingkat pergguruan tinggi dengan waktu yang cukup lama.
  6. Proses pendidikan untuk jabatan itu juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional itu sendiri.
  7. Dalam memberikan layanan kepada masyarakat, anggota profesi berpegang teguh pada kode etik yang dikontrol oleh organisasi profesi.
  8. Tiap anggota profesi mempunyai kebebasan dalam memberikan pendapat ahli (judgement) terhadap permasalahan profesi yang dihadapinya.
  9. Dalam praktik memberikan pelayanan kepada masyarakat, anggota profesi bersifat otonom dan bebas dari campur tangan pihak luar.
  10. Jabatan ini mempunyai prestise yang tinggi dalam masyarakat, dan oleh karenanya – secara umum, dan semestinya – memperoleh imbalan yang tinggi pula.

Berdasarkan karakteristik tersebut sekarang menjadi jelas bahwa tidak setiap pekerjaan atau jabatan bisa disebut sebagai profesi. Sudah dapat diidentifikasi apakah tukang becak, penderes karet, petani, masinis, pilot, dokter, guru, dosen, wartawan, reporter, penyiar radio, nelayan, penyanyi, artis, aktor, operator kompurter, pencatat kegunungapian, perawat, bidan, dan lain-lain adalah pekerjaan ataukah profesi.

C. PROFESIONALISME PROFESI

Pada akhir abad 20 dan dasa warsa pertama abad 21, cukup banyak kosa kata yang semula tidak populer menjadi sangat populer, salah satu diantaranya ialah kosa kata “profesionalisme.” Kosa kata profesionalisme, setelah perang dunia II, beriringan dengan kata “evaluasi kinerja” berkembang luas (Poels, 2003). Ketika pengalaman dalam kedua bidang tersebut berkembang, kritik atas metode-metode yang digunakan juga meningkat, sebab dasar ilmiahnya hingga saat ini belum ada. Kritik gencar datang dari kalangan akademis, terutama psikolog. Kata profesionalisme lebih menemukan relevansinya di atas semua perdebatan tentangnya, terutama dalam praktik dan disiplin manajemen. Dibandingkan dengan disiplin lain, disiplin dan praktik manajemen telah mengembangkan batasan profesionalisme jauh lebih progresif dengan cara-cara yang sangat fleksibel, yakni dengan melakukan analisis suatu pekerjaan, memberikan suatu skor atau poin, dan memeringkatkannya, dan menentukan basis remunerasinya (penggajian).

Pertanyaannya ialah, apakah semua profesi memiliki domain profesionalisme? Secara akademik yang disebbut profesionalisme identik dengan profesiisme menurut Rowan (1994); profesionalisasi menurut Abbott (1998; 1991); bentuk khusus dari kontrol pekerjaan menurut Johnson (1972); sebagai proses monopolisasi menurut Berlant (1975); dan suatu proses mobilitas pekerjaan berdasarkan pada kontrol terhadap pasar tertentu menurut Larson (1977).

Akan tetapi ada baiknya pengertian profesionalisme secara umum dan hubungannya dengan profesi diketengahkan agar diperoleh pemahaman yang komprehensif. Profesioanlisme ialah sifat-sifat, yakni kemampuan, kemahiran, cara pelaksanaan sesuatu dan lain-lain, sebagaimana yang sewajarnya terdapat pada atau dilakukan oleh seseorang profesional. Profesionalisme berhubungan dengan dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalakannya (KBBI, 1994).

Profesionalisme adalah tingkah laku, kepakaran atau kualitas daari seseorang yang profesional (Longman, 1987). Dalam kamus kata-kata serapan asing dalam bahasa indonesia, karya Badudu (2003), profesionalisme didefinisikan sebagai mutu, kualitas, dan tindak tanduk yang merupakan ciri suatu profesi atau ciri seorang yang profesional. Sementara kata profesional sendiri berarti, bersifat profesi, memiliki keahlian dan keterampilan karena pendidikan dan latihan, serta beroleh bayaran karena keahliannya itu.

Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa keterpanggilan, serta ikrar untuk menerima panggilan tersebut dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang tengah dirundung kesulitan di tengah gelapnya kehidupan (Wignjodoebroto, 1999).

Profesionalisme adalah sebutan yang mengacu pada sikap mental dalam bentuk komitmen dari para anggota suatu profesi untuk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan kualitas profesionalnya. Seseorang yang memiliki jiwa profesionalisme senantiasa mendorong dirinya untuk mewujudkan kerja-kerja yang profesional. Kualitas profesionalisme didorong oleh ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati piawai ideal. Seseorang yang memiliki profesionalisme tinggi akan selalu berusaha mewujudkan dirinya sesuai dengan piawai yang telah ditetapkan. Ia akan mengidentifikasi dirinya kepada seseorang yang dipandang memiliki kepiawaian tersebut. Maksud “piawai ideal” ialah suatu perangkat perilaku yang dipandang paling sempurna dan dijadikan sebagai rujukan.
  2. Meningkatkan dan memelihara citra profesi. Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan perilaku profesional. Perwujudannya dilakukan melalui berbagai cara misalnya penampilan, cara percakapan, penggunaan bahasa, sikap dan bahasa tubuh, perilaku sehari-hari, dan bagaimana memelihara hubungan dengan individu lainnya.
  1. Keinginan untuk senantiasa mengejar peluang dan kesempatan pengembangan karier yang dapat meningkatkan memperbaiki kualitas pengetahuan dan keterampilannya.
  2. Mengejar kualitas dan cita-cita keprofesian.

Profesionalisme ditandai dengan kualitas dan rasa bangga akan profesi yang disandangnya. Dalam hal ini dihaarapkan agar seseorang itu memiliki rasa bangga dan percaya diri akan profesinya.

Profesonalisme biasanya juga dipahami sebagai suatu kualitas yang wajib dimiliki oleh setiap eksekutif yang baik dengan ciri-ciri berikut ini :

  1. Mempunyai keterampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas yang bersangkutan dengan bidang tadi.
  2. Mempunyai ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganilisis suatu masalah dan peka dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat dalam mengambil keputusan terbaik.
  3. Mempunyai sikap berorientasi ke depan sehingga memiliki kemampuan mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya.
  4. Mempunyai sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan dirinya.

Adapun perilaku yang dipandang mencerminkan profesionalisme, antara lain berikut ini :

  1. Bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
  2. Memberi arahan tugas dengan jelas.
  3. Membina bawahan dengan memberikan kesempatan untuk maju dan berkembang serta mengalokasikan sumber daya manusia dalam mengantisipasi hal yang terjadi di kemudian hari.
  4. Mampu menyelesaikan tugas tepat waktu dan tuntas.
  5. Memberi laporan secara akurat dan objektif.
  6. Terbuka terhadap saran dan kritik.
  7. Selalu berusaha meningkatkan kemampuan dan keterampilan.
  8. Proaktif mengikuti perkembangan bidang yang berhubungan dengan pekerjaannya.
  9. Proaktif mengajukan usulan yang kreatif dan konstruktif.
  10. Bertanggung jawab terhadap aset perusahaan dan menggunakannya secara profesional.
  11. Mengontrol dan mengawasi mitra kerja, sesuai dengan perjanjian kerja sama yang disepakati.
  12. Selalu mengevaluasi semua tugas yang dilaksanakan untuk pengembangan selanjutnya.

Berdasarkan uraian panjang tersebut dapatlah ditarik benang merah pola hubungan antara profesionalisme dan profesi. Profesionalisme itu paham profesi. Apabila suatu profesi ingin dipandang sebagai profesi yang profesional, maka jelas profesi tersebut harus melalui prinsip well educated, well trained, dan well paid. Pada profesi yang profesional melekat dua hal yang harus ada (qondisio sine quanon), yakni kompetensi dan kinerja. Kompetensi adalah atribut-atribut yang dimiliki oleh suatu pekerjaan dan membedakannya dengan pekerjaan lainnya (Armstrong, 2003), sedangkan kinerja merupakan akronim dari kinetik energi kerja atau yang dalam bahasa Inggris disebut perfomance (Wirawan, 2009). Kinerja mempunyai hubungan kausal dengan kompetensi. Kinerja merupakan fungsi dari kompetensi, perilaku dan sikap, dan tindakan kerja. Kompetensi melukiskan karakteristik pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan pengalaman untuk melakukan suatu pekerjaan atau peran tertentu secara efektif. Kompetensi secara objektif dapat diukur dan dikembangkan melalui supervisi, manajemen kinerja, dan program pengembangan sumber daya manusia. Pengetahuan mengidikasikan apa yang terdapat dalam kepala (otak) seseorang, mengetahui kesadaran atau pemahaman mengenai sesuatu, terutama pekerjaan. Keterampilan mereflesikan kemampuan seseorang yang dapat diukur yang telah dikembangkan melalui praktik, pelatihan, dan atau pengalaman.

D. ISU PRESENTASI DAN SEMINAR

  1. Di Amerika Serikat, ada dokumen yang disebut Dictionary of Occupation Title (DOT) yang dipublikasikan oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat. Dokumen tersebut memuat ribuan jenis pekerjaan atau jabatan, baik yang memerlukan keahlian maupun yang tidak memerlukan keahlian khusus. Di Indonesia juga banyak pekerjaan atau jabatan yang tersedia sesuai  dengan pasar tenaga kerja. Cobalah anda daftar pekerjaan apa saja yang anda ketahui, pilihlah pekerjaan atau jabatan apa yang dapat dikategorikan profesi, profesi yang profesional, atau hanya pekerjaan saja. Gunakan karakteristik profesi sebagaimana dikemukakan para ahli untuk menjustifikasi. Presentasikan dan seminarkan isu tersebut!
  2. Perhatikan, di Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau dokumen lain seperti Kartu Keluarga (KK), SIM, dan sebagainya, selain terdapat kolom identitas diri, juga ada kolom “pekerjaan.” Sudah tepatkah penempatan kolom “pekerjaan” tersebut? Jadikan isu ini sebagai perdebatan yang argumentatif dan konstruktif!