Tags

OTONOMI PROFESI GURU

teaching

Jika suatu profesi dibentuk untuk berprilaku secara baik untuk melayani masyarakat, ini berarti bahwa pelayanan itu harus dilakukan secara efektif dan diterima oleh masyarakat, namun frofesi sebagai wadah pelayanan juga harus mendapat pengakuan dan pengembangan dari masyarakat, oleh sebab itu ia harus memiliki otoritas.

Tanggung jawab akan layanan profesi juga menuntut penghargaan dan garansi, agar orang-orang profesional dapat bertindak secara bebas dalam koridor keprofesianya. Pengertian yang jelas tentang otonomi menurut publik ( masyarakat ) untuk secara benar membuat dan mengambil suatu keputusan yang disebut keahlian profesional. Penyerahan tanggung jawab selalu diikuti oleh acountability, ketika masyarakat memberikan jaminan terhadap otonomi profesi dalam mencapai tujuan, masyarakat boleh dan boleh consern ( setuju ) atau tidak dengan kebijakan dan tujuan ituyang dilihat apakah implementasi itu efektif atau tidak.

Dalam memberikan jaminan profesi merupakan suatu keputusan penting bagi masyarakat menaruh kepercayaan dengan menempatkan posisi tinggi untuk profesi tersebut, dan kepercayaan inilah yang merupakan modal dasar dalam mengasumsikan bahwa profesi itu merupakan keahlian yang diarahkan oleh basis keilmuan yang unik. Artinya bahwa profesi tanpa ilmu keahlian itu tidak ada.

Kenney dan Vanderpool ( 1955 ) berpendapat bahwa otonomi profesi itu tergantung dalam empat faktor yaitu:

  1. Kepercayaan ditempatkan oleh masyarakat pada kompetensi profesi untuk memenuhi ( fulfil ) tanggung jawab tanpa supervisi.
  2. Tingkat dimana pengakuan ditempatkan membutuhkkan kompetensi khusus didalam prilaku dan fungsi profesi.
  3. Kebebasan individu menyeleksi praktisnya sendiri.
  4. Hal-hal penting ditetapkan oleh masyarakat untuk melayanai profesi itu sendiri

Baries ( 1957 ) mengemukakan apakah profesi otonomi pendidikan itu merupakan “sanksi atau bunuh diri” malah dia cenderung mengatakan itu adalah bunuh diri untuk pendidik, dia melihat dan sejarah menunjukan bahwa masyarakat pendidik dan profesi pengajaran adalah kreasi seluruh masyarakat ( citizenry ). Otoritas yaitu apa yang akan diajarkan dan siapa yang mengajarkan disekolah tergantung pada keingina masyarakat. Suatu fakta tentang otoritas sekolah adalah suatu institusi kreasi dan diabadikan ( perpetuated ) oleh masyarakat untuk membentuk prilaku fungsi  pendidikan dan sekolah umum harus minta pengarahan untuk seluruh program-programnya dari seluruh masyarakat.

Benn Harris ( 1957 ) membuat kesimpulan dalam artikelnya bahwa keunikan karakteristik profesi pendidikan bukan pada otonominya, tetapi pada kepemimpinannya. Peran pendidik adalah pemimpin seluruh masyarakat yang doformulasi dalam suatu program pendidikan dan dengan inilah anak-anak tumbuh dan berkembang. Jadi otoritas untuk melakukan kepemimpinan pendidikan yang datangnya dari sikap tanggap ( respect ) dan kepercayaan masyarakat.

Profesional guru masih menghadapi konflik internal keguruan maupun eksternal, persoalannya diperdebatkan bahwa tugas guru itu adalah mengajar kira-kira sama saja dengan operator kelas, jadi tidak memerlukan sikap profesional. Tetapi kenyataannya bahwa tugas guru itu memerlukan teori-teori yang mendukung, karena tanpa teori-teori pengajaran tidak akan dapat dilaksanakan secara efektif atau tidak mencapai sasaran yang diharapkan.

Konflik internal berputar pada masa pendidikan dan training yang dilakukan untuk semua jenjang pendidikan, apakah dilakukan menurut jenjang atau spesialisasi keguruan. Barangkali banyak orang memandang kasus tersebut sederhana saja, namun kenyataanya tidak lebih mudah mengajar anak TK dibandng anak SD, dan tidak mudah mengajar anak SD dibanding anak SLTP dan seterusnya. Karena masing-masing memiliki keunikan tersendiri dan membutuhkan penanganan yang profesional tersendiri pula.

Hubungan antara tujuan profesi, konsep pengetahuan dan kurikulum dalam pendidikan dan pelatihan harus menjadi kebutuhan dan pengembangan bagi suatu profesi. Selanjutnya profesionalisme sudah jelas merupakan interpretasi idiologi yang memiliki tingkat komitmen pengimplementasian suatu konsep terhadap jabatan, oleh karena itu boleh menjadi kurikulum yang tersembunyi didalam suatu training menghasilkan sosialisasi profesi. Kurikulum pendidikan ini menjadi faktor penting khususnya dimana calon-calon profesional akan ditraining pada suatu lembaga, karena pada umumnya calon itu masih terisolasi dari academic community ( masyarakat akademik ).

Oleh sebab itu hubungan antara indoktrinasi dan sosialisasi serta training menjadi suatu keharusan pertimbangan dimana didalamnya perlu pengenalan dan pemahaman konsep tentang apa yang diketahui dan bagaimana mengetahuinya, kemudian hubungan antara pengetahuan dan aplikasi berada dalam pengetahuan ocupational setting ( dalam setting jabatan  ) sehingga dapat dipastikan apakah pekerjaan itu merupakan pekerjaan prifesional, pekerjaan praktisi, atau pekerjaan teknisi.

Dari uraian di atas terkesan bahwa guru belum sepenuhnya dikatakan profesi karena belum didukung oleh latar pendidikan yang mencukupi, tetapi masyarakat mengakui bahwa tugas guru dan tenaga kependidikan harus ditangani secara profesional, dan peran pendidik adalah pemimpin seluruh masyarakat.