Tags

DOSEN SEBAGAI PROFESI KEPENDIDIKAN

 n5

A. PROFIL, DAN IDENTITAS PROFESI

Sebetulnya, dosen sebagai profesi kependidikan hampir identik dengan profesi guru sebagai profesi dibidang pengajaran (teaching profession). Di Amerika Serikat, sebagaimana dirilis national education association (NEA), dalam soetjipto dan raflis kosasi (1999), profesi pengajaran adalah suatu jabatan dengan sejumlah karakteristik. Karakteristik tersebut intinya menegaskan bahwa profesi dibidang pengajaran adalah suatu jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual; menggeluti suatu batang tubuh ilmuyang khusus; memerlukan persiapan profesional yang lama; memerlukan latian dalam jabatan yang berkesinambungan; menjanjikan karir hidup dan kenanggotaan yang permanen; menentukan baku mutu (standar) sendiri; lebih mementingkan layanan atas keuntungan pribadi; dan jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.

Sejauh ini ada dua kelompok pandangan tentang profesi pengajaran. Kelompok pertama yang dianut pendukungnya meyakini dan percaya bahwa mengajar adalah suatu sains (science), sementara kelompok kedua dan pendukungnya mengatakan bahwa mengajar adalah suatu kiat (the art) atau profesi semi profesional (stinnett dan huggett, 1963). Bahkan lebih ekstrem, ornsteindan levine (1984), berpendapat bahwa belum ada kesepakatan tentang bidang ilmu khusus yang melatari pendidikan (education) atau pengajaran (teaching). Akan tetapi, sejauh menyangkut berbagai risalah hasil-hasil riset sebagaimana termuat secara periodik dalam encyclopedia of educational research, terdapat bukti-bukti kuat bahwa profesi pengajaran telah intensif mengambangkan batang tubuh ilmu khusunya (dilihat pula Millman, 1987; Wittrock, 1986).

Berdasarkan telaah sebagaiman dikemukakan di Bab I, II dan III, namp. Lebih lanjut dapat diamati, bahwaak jelas bahwa profesi pengajaran melibatkan upaya-upaya yang sifatnya sangat didominasi kegiatan intelektual. Lebih lanjut dapat diamati, bahwa kegiatan-kegiatan yang dilakukan anggota profesi ini adalah dasar bagi persiapan semua kegiatan profesional lainnya (soetjipto dan Raflis Kosasi, 1999), Oleh sebab itu, menurut stinnet dan hugget 91963), mengajar seringkali disebut sebagai “ibu dari segala profesi” (mother of profession), suatu profesi Pling Tua sepanjang sejarah.

Pertanyaan dasarnya ialah, apakah profesi guru dan dosen berbeda? Menurut Undang-Undang (UU) No. 20/2003 tentang Sisdiknas, pasal-pasal yang mengatur tentang guru dan dosen berbeda. Akan tetapi kedua profesi tersebut berbeda dalam satu paket undang-undang yang sama, yakni UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, Meskipun kemudian diatur melalui peraturan pemerintah  (PP) yang berbeda. Perbedaan antara guru dan dosen dijelaskan dengan baik oleh sadarwan danim (2010), berikut ini:

  1. Guru dan dosen secara konseptual merupakan dua jabatan/pekerjaan profesional yang sama, namun secara oiperasional terdapat perbedaan peran yang signifikan antara dosen yang bertugas diperguruan tinggi dan guru yang bertugas disekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. Perbedaan itu dalam hal pengaturan mengenai: (a) kedudukan dan fungsi, (b) kualifikasi akademik dan kompetensi, (c) hak dan kewajiban, (d) wajib kerja dan ikatan dinas, (e) pengangkatan, penempatan, pemindahan, dan pemberhentian, (f) pembinaan dan pengembangan, (g) penghargaan, (h) perlindungan hukum, perlindungan profesi, dan perlindungan ketenaga kerjaan, (i) organisasi profesi, serta (j) sanksi.
  2. Secara yuridis, guru dan dosen merupakan pendidik profesional, tetapi tugas dan tanggung jawabnya berbeda. Disamping tenaga pendidik, dosen juga berfungsi sebagai peneliti yang memperdalam, memperluas, dan mengembangkan IPTEK dan seni. Kompetensi yang dibutuhkasn bagi dosen bukan sekedar menguasai IPTEK dan seni yang sudah mapan, melainkan juga menemukan IPTEK dan seni baru melalui penelitian, serta melakukan pengabdian kepada masyarakat.
  3. Secara historis, Organisasi guru telah ada sejak berdirinya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) tanggal 25 November 1945, sedangkan organisasi dosen yang ada adalah menurut disiplin ilmu seperti Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI), Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), Persatuan Sarjana Arsitek Indonesia (PSAI), dan sebagainya.
  4. Secara sosiologis, guru tersebar diseluruh tanah air, mulai dari kota besar samapai ke desa-desa terpencil atau “daerah-daerah khusus” (seperti daerah bencana, trisolasi, perbatasan, dan rawan konflik); sedangkan dosen hanya bertugas di daerah-daerah perkotaan. Hal ini berimplikasi pada tingkat kesulitan hidup, pelaksanaan tugas, dan risiko kerja guru yang sangat bebeda dengan dosen. Karena itu perlindungan dan kesejahteraan guru memerlukan pengaturan tersendiri.
  5. Guru disiapkan diperguruan tinggi pada jenjang pendidikan sarjana. Kompetensi yang dikembangkan adalah kemampuan menguasai substansi dan pembelajaran sesuai kurikulum disekolah. Guru mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan potensi peserta didik sejak pada usia dini sehingga menjadi insan dewasa yang berbudaya. Dosen dipersiapkan diperguruan tinggi pada jenjang pendidikan magister dan/atau doktor. Kompetensi yang dikembangkan ialah kemampuan menguasai struktur dan metode keilmuan sampai pada tahap muktahir, melaksanakan penelitian dasar dan terapan, serta melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dalam konteks bidang keilmuan. Dosen mempunyai tanggung jawab untuk mengembangkan potensi peserta didik usia dewasa melalui program akademik, vokasi, atau profesi, serta terikat oleh etika covitas akademika.
  6. Pemberdayaan guru disekolah terikat oleh konsep dan prinsip manajemen berbasis sekolah, sedangkan pemberdayaan dosen lebih terikat pada konsep dan prinsip otonomi keilmuan. Pemberdayaan guru secara individual antara lain diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajarannya dan melakukan penelitian untuk menunjang proses pembelajaran; sedangkan pemberdayaan dosen antara lain diarahkan melaksanakan pembelajaran orang dewasa, melakukan penelitian keilmuan murni atau terapan yang dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan disiplin ilmu dan/atau pengembangan masyarakat.
  7. Guru dituntutbersikap profesional dalam penguasaan dua kompetensi secara berimbang, yakni kompetensi sebagai pendidik (educator) dan kompetensi sebagai pengajar (teacher), sedangkan dosen lebih dititik beratkan pada sikap dan kemampuan profesional sebagai ilmu-pengajar (lecturer).
  8. Perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan bersifat otonom berbasis satuan pendidikan tinggi dalam mengelola dosen. Hal ini berbeda dengan sekolah yang guru-gurunya dikelola secara terpadu berbasis wilayah untuk semua jenis pada jenjang pendidikan formal.
  9. Pembinaan dan pengambangan dosen diperguruan tinggi sudah tertata lebih baik dan secara hukum sudah lebih terlindungi, serta secara profesional, sosial, dan finansial sudah memperoleh penghargaan yang lebih memadai daripada guru.
  10. Pada konteks international, kedudukan guru dan status guru secara eksplisit telah dituangkan dalam Rekomendasi ILO/UNESCO : The Status Of Teachers : An Instrumen For Its Improvement; The International Recommendation Of 1966, 5 Oktober 1966, yang ditandatangai di paris oleh utusan dari 165 negara , termasuk Indonesia. Rekomendasi tersebut manyatakan bahwa konsep dan sebutan “guru”digunakan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, termasuk pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. Rekomendasi tersebut antara lain memberikan perlindungan terhadap hak dan kewajiban guru dalam menjalankan profesinya. Hal ini berbeda dengan profesi dosen.

Menurut undang-undang No. 20/2003 tentang Sisdiknas; UU No. 14/2005 tentang guru dan dosen; dan PP No.37 /2009 tentang dosen, dosen didefinisikan sebagai pendidik profesional dan ilmuan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, tekhnologi dan seni melalui pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Profesi dosen dikukuhkan sebagai jabatan fungsional berdasarkan keputusan presiden No. 87/1999, tentang Rumpun Jabatan Fungsional PNS, dan Keputusan Menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara (MENKO WASBANGPAN) No. 38/KEP/MK.WASPAN/8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya, yang kemudian disempurnakan melalui Peraturan Men-PAN No. PER/60/M.PAN/6/2005.

Status dosen terdiri atas dosen tetap, yaitu dosen yang bekerja penuh waktu yang bersetatus sebagai tenaga pendidik tetap pada satuan pendidikan tinggi tertentu, dan dosen tidak tetap. Jenjang jabatan akademik dosen tetap terdiri atas Asisten Ahli (Penata Muda golongan ruang III/a, Penata Muda Tingkat I Golongan III/b), Lektor (Penata Golongan Ruang III/c, Penata Tingkat I golongan ruang III/d); Lektor Kepala (Pembina Golongan ruang IV/a, Pembina tingkat I golongan ruang IV/b, Pembina utama muda golongan ruang IV/c); dan Profesor/Guru Besar (Pembina Utama Madya golongan ruang IV/d, Pembina Utama golongan ruang IV/e). Persyaratan untuk menduduki jabatan akademik profesor harus memiliki kualifikasi akademik doktor. Pengaturan kewenangan jenjang jabatan akademik dan dosen tidak tetap ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan tinggisesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Advertisements