Tags

Anomali Pasar Seasonal : The Day Of The Week Effect, Week Four Effect dan January Effect

20141229111009saham

The Day Of The Week Effect

The Day Of The Week Effect ini merupakan pola yang mengacu pada perilaku return saham dari hari ke hari dalam satu minggu, yaitu return saham secara sistematis akan lebih tinggi atau lebih rendah pada hari-hari tertentu dalam satu minggu (Ambarwati, 2009). Pada pasar modal terdapat lima hari perdagangan yang dilakukan mulai dari hari Senin sampai dengan hari Jum’at. Dalam hal ini terjadi perbedaan return antara hari Senin dengan hari-hari lainnya secara signifikan (Damodaran dalam Werastuti, 2012). Biasanya return yang negatif terjadi pada hari Senin, sedangkan return positif terjadi pada hari-hari lainnya dalam perdagangan saham.

Kecenderungan return negatif pada hari Senin ini sangat dipengaruhi dengan ketersediaan informasi berkaitan dengan sekuritas saham yang ada dipasar modal. Pada hari Senin, informasi yang tersedia merupakan informasi yang sudah usang, investor hanya memegang informasi di minggu yang lalu. Sedangkan di hari Sabtu dan Minggu sebelumnya, investor tidak menerima informasi-informasi yang akurat berkaitan dengan sekuritas saham yang dimiliki, kalaupun ada informasi yang masuk merupakan informasi-informasi yang berupa isu-isu saja yang sifatnya hanya ramalan atau pun yang belum tentu kebenarannya yang tidak berasal dari penjamin emisi saham, seperti ramalan akan kondisi perusahaan, perkiraan harga saham, dan sebagainya.

Minimnya informasi yang dimiliki investor ini menyebabkan tingginya kekhawatiran dalam benak mereka. Investor akan cenderung untuk melakukan penjualan atau pelepasan terhadap saham yang dimiliki daripada melakukan pembelian atau pemerolehan saham, sehingga hal ini mengakibatkan harga saham cenderung menjadi rendah untuk di hari Senin dibandingkan dengan di hari perdagangan lainnya. Rendahnya harga saham di hari Senin pada akhirnya membuat return saham yang akan diperoleh investor menjadi rendah dan cenderung kearah negatif. Dengan kata lain pola anomali the day of the week effect ini mampu mempengaruhi dari perilaku return saham.

Week Four Effect

Week-four Effect ini merupakan pola yang mengacu pada perilaku return saham dari hari ke hari dalam empat minggu selama satu bulan tertentu (Ambarwati, 2009).  Pola Week-four Effect ini mengungkapkan bahwa monday effect hanya terjadi pada hari Senin minggu keempat dan kelima untuk setiap bulannya. Sedangkan return hari Senin pada minggu pertama sampai minggu ketiga dianggap tidak signifikan negatif atau sama dengan nol.

Sejumlah studi yang menghasilkan bukti empiris telah dilakukan untuk mengungkap adanya return negatif pada perdagangan hari senin diminggu akhir bulan. Fenomena Week-four Effect ini berhasil diungkap oleh Lutfiaji (2013), Iramani dan Mahdi (2006). Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa Monday Effect signifikan terjadi pada minggu keempat dan kelima dalam setiap bulan, sedangkan return pada Senin minggu pertama sampai ketiga secara statistik tidak berbeda dengan nol. Hal ini berarti bahwa return hari Senin negatif yang terbesar terjadi pada minggu keempat dan kelima.

Kecenderungan return saham yang negatif terjadi pada hari Senin minggu keempat dan kelima ini dipengaruhi dengan kebutuhan likuidasi dari para investor. Minggu keempat dan kelima atau bisa dikatakan dengan akhir bulan menjadi minggu dimana kebutuhan investor akan meningkat namun penghasilan investor belum dapat bertambah, hal ini dikarenakan kebanyakan dari perusahaan dan instansi lainnya melakukan pembagian upah, gaji, dan honor pada awal bulan. Sehingga diakhir bulan banyaknya investor terutama investor kecil yang termotivasi oleh kebutuhan untuk melakukan penjualan saham dibandingkan dengan pembelian saham. Hal ini membuat harga saham menjadi rendah dan mengakibatkan return saham yang diterima investor akan menjadi rendah dan cenderung negatif dibandingkan dengan minggu pertama sampai ketiga. Dengan kata lain, dapat dikatakan pola anomali week four effect ini mampu mempengaruhi perilaku dari return saham.

January Effect

Januari Effect ini merupakan pola bulanan (Month of The Year) yang mengacu pada perilaku return saham dari setiap bulannya pada satu tahun, yaitu return saham secara sistematis akan lebih tinggi atau akan lebih rendah pada bulan-bulan tertentu dalam satu tahun (Ambarwati, 2009).

January Effect merupakan kecenderungan terjadinya kenaikan harga saham pada bulan Januari. Adanya kenaikan harga ini didorong oleh aktivitas investor untuk kembali menyusun portofolionya setelah masa liburan akhir tahun yang cukup panjang. Permintaan investor yang meningkat terhadap instrumen keuangan inilah yang menyebabkan harga mengalami kenaikan.Kenaikan permintaan ini didorong oleh ekspektasi investor yang positif.

Asumsi lain terjadinya January Effect adalah karena adanya keinginan perusahaan untuk terlihat lebih baik yang tercermin dalam laporan keuangan tahunan, sehingga manajer perusahaan menjual saham-saham yang dianggap mempunyai nilai kecil pada akhir tahun dan akan membelinya kembali pada awal tahun. Sehingga hal ini menyebabkan harga–harga sekuritas saham mengalami kenaikan dan mengakibatkan return saham yang positif (tinggi) dapat diperoleh investor. Dengan kata lain, dapat dikatakan pola anomali January Effect ini mampu mempengaruhi perilaku dari return saham.

Advertisements